Teknologi

Mengungkap Sejarah Kelam Raksasa Chip China

ChangXin Memory Technologies (CXMT), produsen DRAM terbesar di China, memiliki latar belakang yang mencengangkan, terungkap melalui kesaksian seorang mantan teknisi Samsung yang mengungkap praktik tid...

J
Jonathan Michael Saputra
25 August 2026 65 pembaca
Foto: REUTERS/Dado Ruvic
Foto: REUTERS/Dado Ruvic

Jakarta - Mendirikan fasilitas produksi chip memori dari awal memerlukan waktu dan biaya yang sangat besar. Namun, ChangXin Memory Technologies (CXMT) memilih untuk mengambil jalan pintas. Saat ini, CXMT telah menjadi produsen DRAM terbesar di China dan perusahaan paling bernilai di negara tersebut. Namun, sejarah berdirinya perusahaan ini menyimpan cerita kelam yang baru-baru ini terungkap di pengadilan Korea Selatan.

Kisah dari Mantan Teknisi

Kisah mengejutkan ini muncul dari kesaksian Jeon, seorang mantan teknisi senior di Samsung Electronics. Pria yang telah bekerja hampir tiga puluh tahun di Samsung ini diketahui berpindah ke perusahaan pesaing sekitar tahun 2016. Dalam persidangan di pengadilan Seoul pekan lalu, Jeon memberikan kesaksian di bawah sumpah mengenai awal mula berdirinya CXMT. Ia mengungkapkan bahwa perusahaan barunya tidak memiliki fasilitas laboratorium yang memadai dan tidak memiliki niatan untuk melakukan penelitian secara mandiri.

Target Dokumen Rahasia

Alih-alih melakukan penelitian dari nol, para pemimpin perusahaan dilaporkan sejak awal sudah menargetkan untuk mendapatkan cetak biru rahasia dari Samsung. Dalam industri semikonduktor, dokumen penting ini dikenal sebagai Process Recipe Plan. Dokumen ini berisi sekitar 600 langkah panduan manufaktur yang sangat detail, termasuk rincian suhu operasional dan tekanan peralatan pabrik, sehingga teknisi tidak perlu lagi menebak cara memproduksi komponen.

Untuk perbandingan, Samsung memerlukan waktu lima tahun dan lebih dari USD 1 miliar (sekitar Rp 15 triliun) hanya untuk merumuskan spesifikasi chip memori 18-nanometer. Jaksa penuntut percaya bahwa perusahaan asal China ini sengaja merekrut sejumlah mantan pekerja Samsung untuk mencuri data penting tersebut.

Berkat metode yang tidak etis ini, pada tahun 2023, CXMT berhasil memproduksi chip memori canggih secara massal. Kapasitas produksinya melonjak dari 40 ribu menjadi 720 ribu wafer dalam beberapa tahun, mendekati posisi pabrikan besar Amerika Serikat, Micron. Tentu saja, pihak otoritas Korea Selatan tidak tinggal diam melihat tindakan pencurian kekayaan intelektual ini. Pada akhir tahun lalu, jaksa mendakwa sepuluh orang atas tuduhan pembocoran teknologi nasional secara ilegal. Jeon sendiri telah dijatuhi hukuman penjara selama tujuh tahun oleh hakim pada bulan April lalu karena keterlibatannya dalam skandal pencurian ini.

Bagi Samsung, bukti di pengadilan ini bisa menjadi alat yang ampuh untuk melawan. Para ahli hukum meyakini bahwa raksasa teknologi Korea Selatan ini dapat membawa kesaksian tersebut ke Komisi Perdagangan Internasional Amerika Serikat (US ITC), yang memiliki kewenangan untuk memblokir produk asing agar tidak masuk ke pasar Amerika Serikat secara keseluruhan.

Artikel Terkait