Makanan manis sering kali dijadikan pilihan untuk memberi penghargaan pada diri sendiri, seperti sebatang cokelat setelah menyelesaikan tugas atau sepotong kue untuk merayakan momen tertentu. Namun, bagaimana jika gula tambahan dihilangkan dari pola makan selama satu bulan? Peneliti Sian Ferguson mencoba menjawab pertanyaan ini dengan menghentikan konsumsi gula tambahan selama 30 hari untuk mengevaluasi dampaknya terhadap suasana hati, energi, dan kejernihan pikirannya. Dalam eksperimen ini, Ferguson tetap mengonsumsi gula alami yang terdapat dalam buah dan produk susu, tetapi menghindari semua bentuk gula tambahan, termasuk madu.
Minggu Pertama: Kesadaran Terhadap Kandungan Gula
Pada minggu pertama, Ferguson tidak merasakan perubahan signifikan pada mood atau energinya, melainkan lebih kepada kebiasaan makannya. Ia mulai rutin memeriksa label nutrisi dan daftar bahan pada makanan yang dikonsumsi. Dari situ, ia menyadari bahwa banyak produk yang dianggap sehat ternyata mengandung gula tambahan, seperti protein bar, yogurt, dan granola. Tantangan lain muncul saat makan di luar, di mana tidak semua restoran menjelaskan kandungan gula dalam menu mereka. Meskipun begitu, Ferguson merasa tidak ada keinginan kuat untuk mengonsumsi makanan manis di awal eksperimen. Ahli gizi Marjorie Nolan Cohn menjelaskan bahwa pengurangan gula dapat memicu keinginan makan karena gula memengaruhi sistem penghargaan di otak, dan beberapa orang mungkin mengalami gejala seperti sakit kepala atau perubahan suasana hati.
Minggu Kedua: Perubahan Mood dan Energi
Memasuki hari ke-10, Ferguson mulai merasakan perubahan. Ia menyadari bahwa makanan manis sering kali menjadi bentuk penghargaan atau sumber kenyamanan setelah hari yang melelahkan. Dengan tidak mengandalkan gula tambahan, ia mulai menyelidiki alasan di balik keinginannya untuk makan. Atas saran terapis, ia mulai menuliskan perasaannya dalam jurnal, alih-alih mencari makanan sebagai pelarian. Perubahan ini menjadikan pengalamannya lebih dari sekadar eksperimen mengurangi gula. Ia juga merasakan tingkat energi yang lebih stabil, di mana tidak ada lagi pola makan yang diikuti dengan rasa lelah, sehingga suasana hatinya menjadi lebih seimbang.
Minggu Ketiga: Berkurangnya Kebingungan Mental
Di minggu ketiga, Ferguson merasakan perubahan yang lebih jelas. Ia tidak lagi sering mengalami brain fog, yaitu kondisi di mana seseorang kesulitan berpikir jernih. Emosinya juga lebih seimbang dan tidak mudah tersinggung. Kebiasaan menulis jurnal membantunya lebih menyadari hubungan antara emosi dan makanan. Namun, perubahan mood dan kejernihan pikirannya tidak bisa sepenuhnya dikaitkan dengan pengurangan gula, karena kebiasaan baru yang diterapkannya selama eksperimen juga berkontribusi pada kondisi emosionalnya. Penting untuk diingat bahwa pengalaman individu tidak dapat dijadikan acuan untuk semua orang.
Hubungan Gula dengan Mood dan Fokus
Meskipun pengalaman setiap orang berbeda, beberapa penelitian menunjukkan adanya hubungan antara pola makan tinggi gula dan kesehatan mental. Ahli gizi Jessica M. Kelly menjelaskan bahwa konsumsi gula berlebihan, terutama dari gula rafinasi, dapat menyebabkan fluktuasi kadar gula darah yang cepat, yang berhubungan dengan rasa lelah dan kesulitan berkonsentrasi. Dalam jangka panjang, fluktuasi ini dapat berkontribusi pada masalah kesehatan tertentu, termasuk depresi. Namun, hubungan antara gula dan kesehatan mental tidak selalu sederhana, karena kondisi mental yang buruk juga dapat membuat seseorang lebih rentan terhadap emotional eating.
Perbedaan antara Gula Tambahan dan Gula Alami
Satu hal penting dalam eksperimen ini adalah membedakan antara gula tambahan dan gula alami. Gula alami yang terdapat dalam buah dan produk susu hadir bersamaan dengan berbagai nutrisi, seperti serat dan vitamin. Di sisi lain, gula tambahan banyak ditemukan dalam makanan olahan seperti minuman bersoda dan permen. Oleh karena itu, mengurangi gula tidak selalu berarti harus menghilangkan semua makanan manis. Membaca label makanan bisa menjadi langkah awal untuk memahami seberapa banyak gula tambahan yang dikonsumsi setiap hari.