Kesehatan

Mengenali Gejala Awal dan Tanda Darurat Keracunan Makanan pada Anak

Kasus dugaan keracunan makanan massal yang menyerang anak-anak di beberapa daerah menjadi perhatian. Orang tua perlu memahami gejala awal dan tanda-tanda darurat yang harus diwaspadai.

N
Nathania Gabriella Wardani
07 September 2026 34 pembaca
Mengenali Gejala Awal dan Tanda Darurat Keracunan Makanan pada Anak
Sumber gambar: lifestyle.kompas.com

Fenomena keracunan makanan massal setelah konsumsi hidangan Makan Bergizi Gratis (MBG) menjadi sorotan publik. Dalam pekan terakhir, terdapat ratusan anak yang mengalami gejala keracunan di Nganjuk, Sidoarjo, Rembang, dan Tana Toraja, dengan keluhan mual dan muntah setelah mengonsumsi makanan tersebut. Meningkatnya kasus gangguan pencernaan pada anak belakangan ini membuat orang tua semakin khawatir. Apa saja gejala yang perlu diketahui orang tua di rumah? Berikut adalah penjelasan dari sejumlah ahli yang diwawancarai pada tanggal 4, 5, dan 7 September 2026.

Informasi ini bertujuan untuk memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai deteksi dini masalah saluran cerna secara umum, dan bukan untuk menyimpulkan penyebab atau mendiagnosis kasus MBG yang saat ini sedang diselidiki oleh pihak berwenang.

Gejala Awal Keracunan Makanan

Ketika anak terpapar patogen atau racun melalui makanan, reaksi pertama biasanya muncul pada sistem pencernaannya. "Tanda awal yang sering muncul adalah muntah berulang akibat produksi asam lambung yang berlebihan. Gejala tambahan yang mungkin muncul adalah demam dan diare," ungkap dr. Rizqi Agung Wicaksana, Sp.A.

Gejala yang muncul pada saluran pencernaan bervariasi tergantung pada jenis bakteri atau virus yang menginfeksi. "Gejala umum termasuk mual, muntah, diare, nyeri atau kram perut, demam, lemas, dan kehilangan nafsu makan," jelas dr. Wirawan Hambali, SpPD, FINASIM. Dalam beberapa kasus, diare bisa berupa cairan saja atau disertai lendir atau darah. Anak juga dapat mengalami demam ringan hingga tinggi yang membuatnya semakin lemas.

Namun, satu hal yang menjadi ciri khas dari penyakit akibat makanan adalah waktu kemunculannya. Dr. Arifin Kurniawan Kashmir, SpA., M.Kes., CHt., FISQua, menjelaskan bahwa keluhan ini seringkali berkaitan dengan jadwal makan anak. "Tanda kritis biasanya muncul berkaitan dengan apa yang dikonsumsi, ada yang muncul dalam waktu singkat, ada juga yang beberapa hari kemudian," tambahnya.

Risiko Dehidrasi dan Tanda Bahaya Lainnya

Meskipun muntah dan diare adalah respons alami tubuh untuk mengeluarkan kuman, efek samping dari kondisi ini tidak boleh diabaikan. Kehilangan cairan dalam jumlah besar dapat menyebabkan dehidrasi yang berbahaya bagi anak. "Dehidrasi adalah musuh utama, baik dalam infeksi saluran cerna maupun keracunan makanan. Dehidrasi lebih berbahaya dibandingkan gejala diare atau muntah itu sendiri," tegas dr. Arifin.

Orang tua harus segera membawa anak ke Instalasi Gawat Darurat (IGD) jika melihat tanda-tanda dehidrasi parah. Tanda fisik yang dapat dikenali termasuk mata cekung, tidak ada air mata saat menangis, bibir kering, lemas, dan sulit dibangunkan. Selain itu, produksi urine juga menjadi indikator penting. Anak yang mengalami dehidrasi parah biasanya memiliki urine keruh dan jarang buang air kecil.

Kondisi darurat lainnya yang memerlukan penanganan medis segera adalah munculnya darah pada kotoran atau muntahan, serta ketidakmampuan anak untuk menelan cairan akibat mual yang terus-menerus.

Waspadai Gejala Serius

Dalam beberapa kasus, paparan racun dapat mempengaruhi sistem saraf. Gejala pada tahap ini seringkali lebih kompleks dan menakutkan bagi orang tua. Dr. Arifin mengingatkan untuk waspada jika anak tiba-tiba mengeluhkan penglihatan yang kabur setelah jajan. "Jika penglihatan menjadi kabur, otot lemas, dan sulit menelan, ini bisa jadi tanda keracunan yang melibatkan gangguan pada sistem saraf pusat," ujarnya.

Gejala semacam ini biasanya disebabkan oleh kuman yang memproduksi racun neurotoksik. Jika tidak ditangani dengan tepat, tingkat kesadaran anak dapat menurun drastis. Selain itu, segera bawa anak ke fasilitas kesehatan jika mengalami demam tinggi, di atas 39 derajat Celsius, dan menunjukkan perilaku tidak wajar seperti mengigau.

Dengan pemahaman yang baik tentang gejala dan tanda darurat keracunan makanan, diharapkan orang tua dapat lebih sigap dalam mengambil tindakan yang diperlukan untuk melindungi kesehatan anak.

Artikel Terkait