Lifestyle

Mengapa Waktu Luang dan Ketenangan Pikiran Menjadi Kemewahan di Era Modern?

Di tengah kesibukan dan tekanan hidup yang semakin meningkat, waktu luang dan ketenangan pikiran kini dianggap sebagai bentuk kemewahan yang langka. Psikolog menjelaskan perubahan makna kemewahan ini...

T
Theresia Agatha Lestari
31 August 2026 47 pembaca
Mengapa Waktu Luang dan Ketenangan Pikiran Menjadi Kemewahan di Era Modern?
Sumber gambar: lifestyle.kompas.com

Di era di mana hampir setiap orang terhubung sepanjang waktu melalui perangkat digital, menemukan waktu untuk beristirahat dengan baik semakin sulit. Berbagai faktor seperti kesibukan pekerjaan, notifikasi yang terus-menerus, tuntutan sosial, serta tekanan untuk selalu produktif membuat waktu luang dan ketenangan pikiran terasa semakin langka. Hal ini menyebabkan makna kemewahan pun mengalami perubahan. Saat ini, kemewahan tidak lagi identik dengan barang-barang mahal, tetapi juga mencakup waktu untuk diri sendiri, tidur yang cukup, atau menjalani hari tanpa beban pikiran yang berat.

Yustinus Joko Dwi Nugroho, M.Psi., seorang psikolog anak dan remaja di RS Dr. Oen Solo Baru, menyatakan bahwa dari perspektif psikologi, nilai suatu hal akan meningkat seiring dengan semakin terbatasnya keberadaannya. “Di tengah budaya kita sekarang dan interaksi digital yang konstan, sumber daya yang paling langka bagi masyarakat modern itu bukan barang material. Justru waktu, ketenangan pikiran, dan kapasitas mental menjadi sesuatu yang cukup langka,” ungkapnya.

Kesadaran akan Kesejahteraan Psikologis

Joko menambahkan bahwa ketika kebutuhan material dasar seseorang sudah relatif terpenuhi, mereka cenderung mengalami kejenuhan terhadap kepemilikan barang. Pada saat itu, perhatian individu mulai beralih pada kebutuhan yang lebih tinggi, termasuk kesehatan mental dan kesejahteraan. Oleh karena itu, waktu luang dan ketenangan pikiran kini dianggap sebagai bentuk kemewahan. “Ketika kebutuhan materi dasar sudah relatif terpenuhi dan mengalami titik jenuh, fokus manusia secara alami bergeser ke hierarki kebutuhan yang lebih tinggi, yaitu kesehatan psikologis atau well-being,” jelasnya.

Pergeseran ini tidak berarti bahwa kebutuhan dasar manusia sepenuhnya berubah. Manusia tetap memerlukan rasa aman, otonomi, dan hubungan dengan orang lain. Namun, cara pandang masyarakat terhadap pemenuhan kebutuhan tersebut mulai mengalami perubahan. Menurut Joko, individu yang hidup dalam tekanan, terutama di lingkungan perkotaan, mulai menyadari bahwa kepemilikan barang tidak selalu efektif dalam mengatasi kecemasan atau memberikan kepuasan hidup jangka panjang.

Pengalaman Hidup sebagai Sumber Kebahagiaan

Sebelumnya, barang-barang mewah sering kali dianggap sebagai simbol pencapaian dan status sosial. Secara psikologis, seseorang mungkin membeli barang mahal bukan hanya karena fungsinya, tetapi juga untuk mendapatkan pengakuan, meningkatkan harga diri, atau merasa diterima dalam kelompok sosial tertentu. Memiliki barang bermerek dapat memberikan rasa pencapaian. Namun, kebahagiaan yang diperoleh dari kepemilikan benda sering kali bersifat sementara. Joko menjelaskan bahwa fenomena ini berkaitan dengan konsep adaptasi hedonik, di mana manusia cepat terbiasa dengan hal-hal baru. Barang yang awalnya sangat diinginkan bisa terasa biasa setelah beberapa waktu.

Di sisi lain, pengalaman hidup cenderung meninggalkan jejak yang lebih mendalam. Aktivitas seperti berlibur, menghabiskan waktu bersama keluarga, mempelajari keterampilan baru, atau melakukan kegiatan bermakna dapat menjadi bagian dari identitas dan memori emosional seseorang. Pengalaman-pengalaman ini dapat diingat kembali dan memberikan kebahagiaan tanpa harus membeli barang baru.

Joko menekankan bahwa ketika kondisi ekonomi seseorang membaik, pilihan antara mengejar barang mewah atau kualitas hidup tidak selalu bersifat mutlak. Bagi mereka yang baru mengalami peningkatan ekonomi, simbol kemewahan fisik masih menarik sebagai bukti keberhasilan. Namun, bagi mereka yang sudah lebih stabil secara finansial dan matang secara psikologis, prioritas dapat bergeser pada kualitas hidup. Kesehatan mental, fleksibilitas waktu, hubungan dengan keluarga, dan kesempatan untuk beristirahat kini menjadi hal yang semakin berharga. Akibatnya, waktu luang dan ketenangan pikiran kini dipandang sebagai salah satu bentuk kemewahan baru yang langka.

Artikel Terkait