Kesehatan

Mengapa Kopi dan Matcha Masih Menjadi Pilihan di Tengah Kesulitan Ekonomi?

Meskipun konsumen harus lebih selektif dalam pengeluaran, produk seperti kopi dan matcha tetap diminati karena memberikan pengalaman dan nilai emosional tersendiri.

M
Mikayla Rahmadani
19 August 2026 61 pembaca
Mengapa Kopi dan Matcha Masih Menjadi Pilihan di Tengah Kesulitan Ekonomi?
Sumber gambar: lifestyle.kompas.com

Ketika konsumen dihadapkan pada situasi ekonomi yang sulit, mereka cenderung lebih berhati-hati dalam mengeluarkan uang, terutama untuk barang-barang mahal. Namun, keinginan untuk menikmati hal-hal yang menyenangkan tidak sepenuhnya hilang. Produk seperti kopi, cokelat, matcha, serta makanan premium untuk hewan peliharaan tetap menjadi pilihan, karena menawarkan lebih dari sekadar fungsi, melainkan juga kenyamanan, pengalaman, dan penghargaan bagi diri sendiri.

Trihadi Pudiawan Erhan, S.E., M.S.E., Ph.D, seorang dosen di Fakultas Bisnis Universitas Multimedia Nusantara, menjelaskan bahwa kondisi ekonomi yang terbatas tidak menghilangkan keinginan konsumen untuk menikmati produk yang dianggap istimewa. "Kemewahan tidak harus hadir dalam keseluruhan gaya hidup, tetapi dapat dinikmati melalui kategori tertentu yang dianggap bermakna bagi dirinya," ujarnya saat diwawancarai.

Menjaga Kesenangan di Tengah Keterbatasan

Trihadi menambahkan bahwa meskipun konsumen harus lebih selektif dalam pengeluaran, mereka tetap dapat menikmati produk yang dianggap bernilai. Konsumen kelas menengah dan aspiring middle class memiliki ruang pengeluaran yang terbatas, sehingga harus berhati-hati dalam menentukan prioritas belanja. Meskipun mereka mungkin tidak membeli barang-barang mahal, mereka bersedia mengeluarkan lebih untuk produk yang terasa istimewa dan relevan dengan identitas mereka.

Fenomena ini juga terlihat dalam kebiasaan belanja sehari-hari. Konsumen mungkin mengurangi pengeluaran di beberapa kategori, tetapi tetap mempertahankan pembelian yang memberikan kebahagiaan atau pengalaman tertentu. Dalam konteks ini, konsumsi tidak hanya sekadar memenuhi kebutuhan dasar.

Kopi Sebagai Bagian dari Gaya Hidup

Aji, pemilik roastery di Klaten, mengungkapkan bahwa kopi kini bukan hanya sekadar minuman, tetapi telah menjadi bagian dari gaya hidup yang dianggap sebagai kebutuhan harian oleh banyak konsumen. Beberapa pelanggannya bahkan menganggap kopi sebagai teman saat merasa lelah atau penat. "Kopi saat ini adalah tren dan gaya hidup yang sudah menjadi sebuah kebutuhan harian yang perlu didapat," jelas Aji.

Ia menambahkan bahwa alasan seseorang membeli kopi tidak hanya berkaitan dengan kebutuhan untuk minum, tetapi juga melibatkan pengalaman dan nilai emosional. Bagi sebagian pelanggan, menikmati kopi menjadi bagian dari rutinitas dan cara untuk menikmati waktu.

Di tengah konsumen yang semakin selektif, merek-merek berusaha memenuhi kebutuhan akan kesenangan kecil melalui produk premium yang tetap terjangkau. Aji juga mencatat bahwa konsumen mencari sajian dengan pengalaman berbeda, meskipun harganya harus tetap dalam batas yang dianggap wajar. Di roastery-nya, pelanggan sering meminta menu yang tidak ada dalam daftar, seperti dirty latte, Mont Blanc, dan ceremonial matcha.

Pengalaman yang ditawarkan menjadi sangat penting untuk menjaga loyalitas pelanggan. Pemilik usaha kopi tidak hanya dituntut untuk memahami produk yang dijual, tetapi juga harus mampu menjelaskan kepada pelanggan tentang rasa dan pengalaman yang akan mereka dapatkan.

Persaingan di Industri Kopi

Namun, kondisi industri kopi yang semakin kompetitif menghadirkan tantangan tersendiri bagi pelaku usaha. Aji mencatat bahwa pertumbuhan industri kopi diikuti dengan munculnya banyak roastery baru, yang memaksanya untuk menjaga konsistensi produk dan harga yang bersahabat. Ia juga memperhatikan bahwa pelaku usaha kopi berusaha menekan biaya operasional di tengah persaingan yang ketat.

Meski demikian, Aji melihat bahwa jumlah pelanggan di beberapa lokasi yang dilayaninya masih mengalami sedikit pertumbuhan. Hal ini menunjukkan bahwa, meskipun pilihan dan pertimbangan konsumen berubah, mereka tetap memiliki ruang untuk membeli produk kopi.

Trihadi menekankan bahwa cara konsumen memandang kemewahan telah berubah. Kini, kemewahan tidak selalu identik dengan harga yang sangat tinggi, tetapi juga dapat diartikan melalui kualitas, desain, pengalaman, dan bagaimana suatu produk dapat mengekspresikan identitas mereka. "Affordable luxury bukan sekadar membuat kemewahan menjadi lebih murah, melainkan menunjukkan bahwa konsumen kini mendefinisikan kemewahan secara lebih personal," ungkapnya.

Dengan demikian, meskipun konsumen harus lebih berhati-hati dalam mengatur pengeluaran, mereka tidak sepenuhnya menghilangkan kesenangan dari daftar belanja. Mereka tetap memilih untuk menikmati hal-hal tertentu yang memberikan pengalaman, kenyamanan, atau penghargaan bagi diri sendiri, baik itu secangkir kopi, cokelat, matcha, atau produk lain yang memberikan pengalaman istimewa tanpa harus mengeluarkan biaya besar untuk barang mewah.

Artikel Terkait