Kesehatan

Mengapa Berhijab atau Menggunakan Helm Meningkatkan Risiko Ketombe?

Penggunaan penutup kepala seperti hijab dan helm dalam waktu lama dapat menyebabkan masalah pada kulit kepala, termasuk ketombe. Hal ini disebabkan oleh perubahan kondisi kulit kepala yang terpengaruh...

A
Angelica Putri Wijaya
13 September 2026 7 pembaca
Mengapa Berhijab atau Menggunakan Helm Meningkatkan Risiko Ketombe?
Sumber gambar: lifestyle.kompas.com

Kegiatan sehari-hari bagi perempuan yang mengenakan hijab atau pengendara motor yang menggunakan helm seringkali melibatkan pemakaian penutup kepala dalam waktu yang cukup lama. Perpindahan dari cuaca panas ke ruangan ber-AC, serta aktivitas yang berlangsung sepanjang hari, dapat membuat kulit kepala menjadi lebih lembap dan berminyak. Pada akhir hari, beberapa orang mungkin menyadari adanya rasa gatal, kulit kepala yang cepat berminyak, serta serpihan putih yang muncul di rambut dan pakaian.

Masalah ini sering kali dihubungkan dengan penggunaan hijab atau helm, meskipun kedua penutup kepala tersebut tidak secara langsung menyebabkan ketombe. Sebaliknya, masalah ini lebih berkaitan dengan perubahan kondisi kulit kepala akibat tertutup dalam waktu lama, terutama ketika bercampur dengan keringat, minyak alami, polusi, debu, dan sisa produk perawatan rambut.

Faktor Penyebab Ketombe

Menurut dr. Ardhiah Iswanda Putri, seorang dermatolog dan anggota Dermascalp Expert Trichologist Board, kondisi kulit kepala sangat dinamis dan dapat berubah sesuai dengan aktivitas sehari-hari. “Kulit kepala adalah lingkungan yang dinamis. Kondisinya dapat berubah mengikuti aktivitas, cuaca, keringat, polusi, dan produk yang digunakan,” jelasnya.

Ketombe merupakan masalah yang dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk produksi sebum, keberadaan mikroorganisme seperti Malassezia, serta kesehatan lapisan pelindung kulit kepala. Lingkungan yang lembap dan berminyak pada kulit kepala dapat meningkatkan rasa gatal dan menyebabkan serpihan lebih mudah muncul. Keringat yang bercampur dengan debu, polusi, dan sisa produk rambut juga berkontribusi pada ketidaknyamanan kulit kepala. Namun, tidak semua orang yang menggunakan hijab atau helm akan mengalami masalah ketombe.

“Ketombe yang terlihat di permukaan bisa menjadi tanda dari kondisi scalp yang belum seimbang. Karena itu, kita tidak hanya melihat flakes-nya, tetapi juga lingkungan tempat masalah itu muncul,” tambah dr. Ardhiah. Oleh karena itu, penanganan ketombe tidak hanya sebatas membersihkan serpihan yang terlihat, tetapi juga perlu memperhatikan kondisi kulit kepala secara keseluruhan, terutama jika keluhan tersebut terus berulang.

Penelitian Terkait Pengguna Hijab

Kondisi kulit kepala perempuan yang mengenakan hijab juga menjadi fokus dalam penelitian dermatologi di Indonesia. Penelitian yang dipimpin oleh Prof. Dr. dr. Sandra Widaty dan tim dari FKUI-RSCM menemukan adanya perbedaan komposisi microbiome kulit kepala antara perempuan sehat yang mengenakan hijab dan yang tidak. Pada kelompok pengguna hijab, ditemukan bahwa Malassezia restricta dan Staphylococcus capitis lebih umum dibandingkan dengan kelompok non-hijab. Temuan ini menunjukkan bahwa lingkungan kulit kepala yang tertutup memiliki karakteristik microbiome yang berbeda.

Namun, hasil penelitian tersebut tidak menunjukkan bahwa hijab menyebabkan ketombe. Penelitian ini bersifat cross-sectional, yang hanya menunjukkan perbedaan pola microbiome dan bukan hubungan sebab-akibat secara langsung. Selain itu, meskipun penelitian ini fokus pada penggunaan hijab, temuan tersebut juga relevan untuk pengguna helm, mengingat faktor-faktor seperti panas, keringat, kelembapan, dan kebersihan helm.

Perawatan Kulit Kepala yang Tepat

Setelah seharian beraktivitas, membersihkan rambut dan kulit kepala menjadi bagian penting dari perawatan. Namun, jika keluhan ketombe, serpihan, dan rasa gatal terus berlanjut, pemilihan shampoo perlu disesuaikan dengan kebutuhan kulit kepala. Produk dengan bahan aktif seperti Piroctone Olamine dapat membantu mengontrol Malassezia dan sebum berlebih yang berhubungan dengan ketombe.

Salah satu produk yang mengandung bahan tersebut adalah Dermascalp Expert Dandruff Relief Shampoo, yang dikembangkan dengan teknologi Biomimetic ScalpTech™. Produk ini diklaim dapat mengurangi ketombe hingga 92 persen setelah 14 hari penggunaan, serta 90 persen pengguna melaporkan rasa gatal pada kulit kepala berkurang setelah satu kali penggunaan.

Perawatan kulit kepala tidak perlu rumit. Beberapa kebiasaan sederhana yang dapat diterapkan antara lain: memastikan rambut dan kulit kepala cukup kering sebelum menggunakan hijab atau helm, membersihkan bagian dalam hijab secara rutin, menjaga kebersihan helm, serta tidak membiarkan kulit kepala dalam kondisi lembap terlalu lama. Jika ketombe tetap ada atau semakin parah, disertai gejala lain seperti kemerahan atau kerontokan rambut, sebaiknya konsultasikan dengan dermatolog.

Artikel Terkait