Kesehatan

Tanda-Tanda Seseorang yang Bersikap Defensif dalam Menghadapi Kritik

Sikap defensif muncul sebagai respons terhadap kritik yang diterima seseorang, dan dapat ditandai dengan berbagai perilaku yang mengalihkan perhatian dari inti masalah.

A
Aisyah Nur Hidayah
12 September 2026 2 pembaca
Tanda-Tanda Seseorang yang Bersikap Defensif dalam Menghadapi Kritik
Sumber gambar: lifestyle.kompas.com

Setiap individu pasti pernah mengalami situasi di mana mereka menerima kritik, baik dari pasangan, keluarga, teman, atau rekan kerja. Namun, cara orang merespons kritik tersebut dapat bervariasi. Beberapa orang mampu mendengarkan dan mempertimbangkan masukan dengan tenang, sementara yang lain merasa diserang dan berusaha membela diri. Sikap ini dikenal sebagai defensif atau defensiveness. Menurut psikolog Arlin Cuncic, MA, sikap defensif adalah reaksi terhadap masukan yang dianggap sebagai kritik, dan dapat muncul ketika seseorang merasa terluka, malu, marah, atau diserang. Dalam keadaan ini, individu mungkin kesulitan untuk terbuka terhadap refleksi dan percakapan yang konstruktif. Alih-alih membahas masalah, mereka cenderung membalas kritik, menyalahkan pihak lain, atau memilih untuk diam.

Ciri-Ciri Seseorang yang Defensif

Ada beberapa tanda yang dapat menunjukkan bahwa seseorang sedang bersikap defensif:

1. Menyalahkan balik
Salah satu tanda yang mudah dikenali adalah ketika individu mengalihkan kritik dengan menyalahkan orang lain. Misalnya, saat pasangan mengungkapkan kebiasaan yang mengganggu, orang tersebut justru membalas dengan mengungkit kesalahan pasangannya. Tindakan ini mengalihkan fokus pembicaraan dari isu utama menjadi perdebatan mengenai siapa yang lebih bersalah, yang dapat menghambat penyelesaian masalah.

2. Selalu mencari alasan untuk membenarkan diri
Seseorang yang defensif mungkin merasa perlu untuk segera menjelaskan atau membenarkan tindakannya ketika menerima kritik. Alih-alih mendengarkan masukan, mereka cenderung langsung memberikan berbagai alasan untuk tindakan tersebut. Meskipun memberikan penjelasan tidak selalu menunjukkan sikap defensif, jika alasan tersebut digunakan untuk menghindari tanggung jawab, ini bisa menjadi tanda sikap defensif.

3. Mengungkit kesalahan orang lain
Saat menerima kritik, individu defensif dapat mengingat kesalahan lawan bicaranya di masa lalu. Contohnya, ketika ditegur karena lupa melakukan sesuatu, mereka malah mengingatkan kesalahan yang pernah dilakukan oleh orang tersebut sebelumnya. Cara ini dapat mengalihkan pembicaraan dari masalah yang sedang dibahas dan memperburuk konflik.

4. Menyerang pribadi orang yang mengkritik
Daripada membahas isi kritik, orang defensif dapat menyerang karakter atau pribadi orang yang memberikan masukan. Misalnya, kritik terhadap suatu tindakan dibalas dengan komentar yang merendahkan, seperti menyebut lawan bicara terlalu sensitif atau memiliki banyak kekurangan. Hal ini mengubah percakapan menjadi serangan pribadi, sehingga peluang untuk menemukan solusi semakin kecil.

5. Memilih diam atau mengakhiri percakapan
Sikap defensif tidak selalu ditunjukkan dengan kemarahan. Beberapa orang merespons kritik dengan menarik diri, seperti berhenti berbicara, meninggalkan percakapan, atau memberikan perlakuan diam setelah merasa dikritik. Meskipun diam bisa menjadi langkah sehat untuk menenangkan diri, jika digunakan untuk menghindari pembicaraan, hal ini dapat merusak hubungan.

Strategi Menghadapi Sikap Defensif

6. Membawa-bawa masa lalu untuk menghindari masalah saat ini
Ketika membahas suatu masalah, orang defensif mungkin mengungkit isu-isu lama yang tidak relevan. Misalnya, saat diajak membahas keterlambatan, mereka justru mengingatkan kejadian di masa lalu ketika lawan bicaranya juga terlambat. Kebiasaan ini membuat pembicaraan sulit terfokus pada isu yang perlu diselesaikan saat ini.

7. Menganggap kritik sebagai serangan terhadap diri sendiri
Individu defensif sering kali memandang masukan terhadap perilakunya sebagai serangan terhadap karakter atau harga dirinya. Akibatnya, kritik yang seharusnya bersifat konstruktif dapat terasa sangat menyakitkan, memunculkan dorongan untuk melindungi diri.

Untuk mengatasi sikap defensif, penting bagi seseorang untuk menyadari ketika mereka berperilaku demikian. Saat menerima kritik, cobalah untuk berhenti sejenak sebelum memberikan respons. Perhatikan emosi yang muncul dan tanyakan pada diri sendiri apakah yang dirasakan adalah marah, malu, atau merasa diremehkan. Tidak semua kritik harus diterima begitu saja, dan seseorang tetap dapat membela diri dengan cara yang sehat, yaitu menyampaikan perasaan dan kebutuhan tanpa menyerang balik. Dengan pendekatan ini, percakapan dapat tetap fokus pada penyelesaian masalah, bukan sekadar menentukan siapa yang paling bersalah.

Artikel Terkait