Teknologi

Mendorong Transformasi Digital Indonesia Melalui Kerja Sama Komunal

Kementerian Komunikasi dan Digital meluncurkan gerakan Digital Ecosystem Alignment (DEAL) 2026 untuk memperkuat kolaborasi antara berbagai pemangku kepentingan dalam transformasi digital di Indonesia.

J
Jonathan Michael Saputra
24 June 2026 31 pembaca
Foto: Agus Tri Haryanto/detikINET
Foto: Agus Tri Haryanto/detikINET

Jakarta - Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) melalui Direktorat Jenderal Ekosistem Digital telah memulai inisiatif untuk membangun solidaritas di antara para pemangku kepentingan guna mempercepat transformasi digital di Indonesia. Gerakan yang dinamakan Digital Ecosystem Alignment (DEAL) 2026 ini bertujuan untuk menciptakan wadah kolaborasi antara pemerintah, industri, akademisi, investor, startup, UMKM, komunitas, dan pemerintah daerah, sehingga dapat menghasilkan tindakan nyata.

Pada Selasa (23/6/2026) di Jakarta, Komdigi bersama berbagai pemangku kepentingan mendeklarasikan delapan paket kolaborasi DEAL. Acara tersebut dihadiri oleh Menteri Komunikasi dan Digital, Meutya Hafid, yang menekankan pentingnya forum ini sebagai langkah untuk merajut solidaritas digital di Indonesia.

Solidaritas Digital sebagai Identitas Bangsa

Meutya menjelaskan bahwa DEAL bukan sekadar acara seremonial yang hanya menyajikan laporan program atau statistik, melainkan sebuah momentum untuk menyamakan langkah melalui kerja sama dan solidaritas. "Karena semangat gotong royong menjadi nilai Indonesia sejak lahir sebagai negeri. Gotong royong adalah identitas asli kita yang kini harus kita bawa ke ranah digital melalui gerakan Merajut Solidaritas Digital Indonesia," ujarnya di Jakarta.

Menkomdigi menekankan bahwa solidaritas dan kerja sama melalui DEAL sangat penting. Ia menegaskan bahwa semua pemangku kepentingan harus bergerak bersama untuk memastikan ekosistem digital di Indonesia lebih merata, serta pertumbuhan ekonomi memberikan dampak positif bagi masyarakat. "Sebagai satu bangsa, kita harus bergerak dalam satu tujuan yang sama, yaitu mewujudkan keadilan digital dan kemandirian teknologi bagi seluruh rakyat Indonesia," tambahnya.

Implementasi Nyata dari Kolaborasi

Meutya juga menyatakan bahwa pendekatan berbasis ekosistem dalam DEAL 2026 akan diarahkan pada implementasi konkret yang memenuhi kebutuhan di lapangan. Beberapa contoh nyata yang telah dilaksanakan antara lain penggunaan Internet of Things (IoT) untuk kelompok tani dan pembudidaya ikan di daerah seperti Sleman, Banjarnegara, dan Lamongan. Selain itu, terdapat pelatihan praktis AI untuk 100-150 pelaku UMKM di Wonogiri dan Banyuwangi, pengembangan fitur DARA untuk mitigasi risiko adiksi permainan pada anak, serta pembangunan Dashboard Ecosystem sebagai sumber data nasional yang terpercaya.

"Semua contoh ini membuktikan bahwa transformasi adalah tentang kerja bersama untuk menjawab kebutuhan publik, memperkuat industri, dan meningkatkan kualitas tata kelola negara. Karena itu, DEAL 2026 kita tempatkan sebagai ruang penyelarasan," tutup Meutya.

Acara ini juga dihadiri oleh perwakilan kementerian dan lembaga, termasuk Kemenko Polkam, Ditjen Dukcapil Kementerian Dalam Negeri, Kementerian Ekonomi Kreatif, BIN, BSSN, BRIN, OJK, Polri, dan Danantara. Beberapa kepala daerah turut hadir, seperti Walikota Medan, Bupati Lamongan, dan Walikota Malang. Sektor industri digital juga diwakili oleh Telkom, Telkomsel, dan PT Pos Indonesia, serta perwakilan asosiasi, akademisi, startup, vendor game, konten kreator, dan UMKM, termasuk petani dan penambak di sektor perikanan.

Artikel Terkait