Kesehatan

Membedakan Antara Kebutuhan dan Keinginan dalam Skincare dan Fashion

Skincare dan fashion kini menjadi bagian penting dari kehidupan banyak orang, namun sering kali sulit untuk membedakan antara kebutuhan dan keinginan. Psikolog dan sosiolog memberikan pandangan mengen...

M
Mikayla Rahmadani
01 September 2026 45 pembaca
Membedakan Antara Kebutuhan dan Keinginan dalam Skincare dan Fashion
Sumber gambar: lifestyle.kompas.com

Dalam era modern ini, skincare dan fashion tidak hanya berfungsi untuk mempercantik penampilan, tetapi juga berhubungan dengan rasa percaya diri, kenyamanan, dan cara seseorang membangun citra diri. Namun, dengan banyaknya pilihan produk dan tren yang muncul di media sosial, sering kali orang kesulitan untuk membedakan antara apa yang mereka butuhkan dan apa yang sebenarnya hanya keinginan.

Konsumsi yang Sehat atau Impulsif?

Psikolog Anak dan Remaja dari RS Dr. Oen Solo Baru, Yustinus Joko Dwi Nugroho, M.Psi., menjelaskan bahwa membeli produk perawatan diri tidak selalu berarti perilaku konsumtif. Ia menekankan bahwa merawat diri bisa menjadi bentuk regulasi emosi yang positif dan dapat meningkatkan rasa percaya diri seseorang. “Kalau merawat diri itu membuat seseorang merasa lebih berdaya, tidak cemas saat berinteraksi, dan siap menghadapi dunia profesional, maka pengeluaran tersebut memiliki fungsi adaptif yang masuk akal,” ujar Joko.

Namun, penting untuk memperhatikan alasan di balik setiap pembelian. Pembelian yang dilakukan secara impulsif, terutama karena tekanan dari luar seperti iklan atau tren, bisa menjadi masalah. Dalam situasi ini, kepuasan yang diperoleh setelah membeli barang tersebut sering kali bersifat sementara dan bisa diikuti dengan rasa penyesalan.

Pengaruh Lingkungan Sosial

Sementara itu, sosiolog Prof. Dr. Drajat Tri Kartono, M.Si., menyoroti bahwa perilaku membeli produk skincare dan fashion juga dipengaruhi oleh lingkungan sosial. Ia berpendapat bahwa penampilan adalah salah satu bentuk modal simbolik yang dapat membantu seseorang mendapatkan pengakuan atau reputasi di mata orang lain. “Penampilan fisik itu kalau memenuhi yang diakui hebat oleh masyarakat,” kata Prof. Drajat. Ia menambahkan bahwa produk yang dipilih tidak selalu didasarkan pada fungsi, tetapi juga pada nilai simbolis yang ingin ditampilkan.

Dengan demikian, membeli produk tertentu bisa menjadi cara untuk mengekspresikan identitas, gaya hidup, atau status sosial seseorang.

Menentukan Kebutuhan dan Keinginan

Untuk membedakan antara kebutuhan dan keinginan, Psikolog Joko menyarankan agar individu merenungkan kembali motif di balik pembelian. Jika produk skincare atau fashion dibeli untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari atau meningkatkan kenyamanan, maka pembelian tersebut bisa dianggap sehat. Sebaliknya, jika dorongan untuk membeli muncul secara tiba-tiba setelah melihat tren atau iklan, sebaiknya beri waktu untuk berpikir sebelum melakukan pembelian.

Sebuah pertanyaan sederhana dapat membantu dalam proses ini: “Apakah saya tetap ingin membeli barang ini jika tidak ada orang lain yang melihat atau mengetahuinya?” Jika jawabannya tidak, mungkin ada dorongan sosial yang lebih kuat di balik keputusan tersebut.

Akhirnya, membeli produk skincare atau fashion tidak selalu merupakan hal yang negatif. Yang terpenting adalah memahami alasan di balik pembelian dan memastikan bahwa keputusan tersebut sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan finansial. Dengan cara ini, perawatan diri tidak akan berubah menjadi kebiasaan belanja impulsif hanya untuk mengikuti tren atau mendapatkan pengakuan dari orang lain.

Artikel Terkait