Kemunculan istilah kulit olive dalam diskusi tentang warna pribadi semakin meningkat. Banyak orang beranggapan bahwa kulit dengan sedikit nuansa kehijauan menunjukkan adanya olive undertone, yang mengakibatkan kebingungan dalam menentukan warna dasar kulit mereka. Sebenarnya, tampilan kulit olive dan warna dasar kulit atau undertone adalah dua hal yang berbeda. Dalam analisis warna pribadi, undertone digunakan untuk mengidentifikasi warna dasar kulit yang cenderung hangat, dingin, atau netral. Sementara itu, warna yang terlihat di permukaan kulit dapat memberikan kesan yang berbeda, termasuk nuansa kehijauan yang sering disebut sebagai olive.
Pemahaman Tentang Olive dalam Analisis Warna
Jessica Kelly, seorang konsultan analisis warna dan pemilik layanan konsultasi personal color Tint & Tones, menjelaskan bahwa istilah olive undertone merupakan salah satu kesalahpahaman. Ia mengungkapkan bahwa meskipun kulit olive memang ada, istilah tersebut tidak merujuk pada warna dasar kulit, melainkan lebih kepada warna yang terlihat di permukaan kulit. “Untuk olive undertone sebenarnya tidak ada. Jadi olive undertone itu adalah sebuah mitos,” ujarnya saat peluncuran LazMall Luxury di Jakarta.
Kelly menekankan bahwa tampilan kehijauan pada kulit harus dipahami sebagai olive overtone, di mana overtone merujuk pada warna yang terlihat di lapisan luar kulit. “Olive itu ada, cuma dia disebutnya sebagai overtone. Atau kulit lapisan bagian luar,” jelasnya. Dengan kata lain, tampilan kehijauan tidak bisa dijadikan patokan untuk menentukan undertone seseorang, karena individu dengan kulit olive bisa memiliki warna dasar yang berbeda.
Faktor yang Mempengaruhi Kesan Olive pada Kulit
Menurut Kelly, kesan olive pada kulit dapat muncul dari kombinasi warna. Ia memberikan contoh bahwa seseorang dengan karakter cool tone yang mengenakan warna warm tone dapat menghasilkan tampilan olive. “Kenapa bisa kelihatan sebagai olive overtone atau olive skin tone itu? Karena biasanya itu ada terjadinya misalnya aku tuh cool tone banget, tapi dipaksa pakai warm tone,” ungkapnya.
Kelly menggambarkan warna kulitnya yang memiliki karakter kebiruan. Ketika dipadukan dengan warna hangat yang memiliki banyak unsur kuning, hasilnya dapat membuat kulit terlihat lebih kehijauan. “Contohnya warna kulit aku itu lebih gel-gel biru. Jadi dipaksa pakai warna warm tone, di mana itu banyak campuran warna kuningnya,” jelasnya. Ia juga memberikan gambaran sederhana mengenai perpaduan kedua warna tersebut, “Jadikan biru plus kuning jadi hijau,” imbuhnya. Oleh karena itu, tampilan warna kulit dapat dipengaruhi oleh warna di sekitarnya, sehingga melihat kulit yang tampak hijau saja tidak cukup untuk menentukan undertone.
Selain itu, Kelly menegaskan bahwa kulit olive tidak selalu berarti memiliki warna dasar yang hangat. Karakter olive dapat ditemukan dalam beberapa kelompok undertone. “Olive itu sebenarnya lebih masuk ke warna-warna yang desaturated,” katanya. Menurutnya, warna yang lebih desaturated memiliki intensitas pigmentasi yang lebih rendah, sehingga tampilan kulit bisa terlihat lebih mengarah ke hijau. “Dimana itu warna pigmentasinya lebih menurun. Jadi itu bisa aja kelihatannya lebih masuk ke hijau,” terangnya.
Karena karakter olive terletak pada tampilan permukaan kulit dan bukan sebagai penentu warna dasarnya, kelompok undertone yang dimiliki seseorang bisa berbeda. “Padahal olive itu bisa masuk ke warm tone, cool tone, maupun ke neutral tone gitu.” Dengan demikian, dua orang yang memiliki kulit dengan kesan olive belum tentu memiliki undertone yang sama, dan warna yang cocok untuk masing-masing individu tidak bisa ditentukan hanya berdasarkan tampilan kehijauan tersebut. Pemahaman ini penting agar istilah olive skin tidak disamakan dengan olive undertone. Dalam analisis warna pribadi, tampilan olive dapat menjadi salah satu karakteristik yang terlihat pada kulit, sementara warna dasarnya perlu dilihat secara terpisah.