Kesehatan

Memahami Perbedaan Antara LDL dan HDL dalam Kesehatan Jantung

Kolesterol tinggi sering kali dikaitkan dengan risiko penyakit jantung, namun tidak semua kolesterol memiliki dampak negatif. Terdapat dua jenis kolesterol, yaitu LDL yang dianggap buruk dan HDL yang...

A
Aisyah Nur Hidayah
10 June 2026 10 pembaca
Memahami Perbedaan Antara LDL dan HDL dalam Kesehatan Jantung
Sumber gambar: lifestyle.kompas.com

Kadar kolesterol yang tinggi dapat meningkatkan risiko berbagai penyakit, termasuk serangan jantung dan stroke. Namun, penting untuk memahami bahwa tidak semua kolesterol berbahaya. Ada dua jenis kolesterol, yaitu kolesterol jahat dan kolesterol baik. Apa yang membedakan keduanya? Berikut penjelasannya.

Dokter spesialis jantung dan pembuluh darah, dr. Febtusia Puspitasari, Sp.JP, FIHA, FAsCC, menjelaskan bahwa tubuh memerlukan lemak dan kolesterol untuk menjalankan berbagai fungsi penting. Lemak berperan dalam membantu proses tubuh, menjaga suhu tubuh, serta mendukung fungsi sel. Namun, masalah muncul ketika kadar kolesterol berlebihan dan mulai menumpuk di pembuluh darah.

Perbedaan Antara LDL dan HDL

Menurut dr. Febtusia, kolesterol jahat diwakili oleh Low-Density Lipoprotein (LDL) dan trigliserida. LDL disebut sebagai kolesterol jahat karena cenderung menempel pada dinding pembuluh darah yang mengalami kerusakan. Sebaliknya, High-Density Lipoprotein (HDL) berfungsi sebagai kolesterol baik, yang membantu mengeluarkan kolesterol dari pembuluh darah untuk diproses dan dibuang oleh hati, sehingga tidak menumpuk di dinding arteri.

“Kalau HDL dikatakan kolesterol baik, karena dia ngajak-ngajak (tidak menempel) dan keluar nanti dimetabolisme sama hati kita,” jelas dr. Febtusia. Kadar HDL yang lebih tinggi umumnya lebih menguntungkan bagi kesehatan pembuluh darah dan jantung.

Bagaimana Kolesterol Jahat Menyebabkan Penyumbatan?

Pembuluh darah dapat diibaratkan seperti selang air. Ketika masih baru, bagian dalam selang bersih dan aliran air lancar. Namun, seiring waktu, kotoran dapat menempel dan menyempitkan saluran. Hal ini juga berlaku pada pembuluh darah manusia. Ketika dinding pembuluh darah rusak akibat hipertensi, diabetes, merokok, atau faktor risiko lainnya, LDL lebih mudah menempel dan membentuk plak.

“Tekanan darah yang bisa dikompensasi tubuh dengan baik itu adalah 130/80. Jadi, kalau lebih tinggi dari itu dinding pembuluh darahnya mulai erosi. Begitu dindingnya erosi, itu yang kita sebut sebagai endothelial dysfunction, disfungsi dari sel-sel yang membentuk dinding pembuluh darah itu. Maka, mulailah di situ kolesterol jahat (menempel),” ungkap dr. Febtusia. Penumpukan ini berlangsung perlahan, dan seiring waktu, plak yang terbentuk dapat mempersempit aliran darah yang membawa oksigen ke berbagai organ, termasuk jantung.

Melalui materi edukasi yang disampaikan, dr. Febtusia menjelaskan bahwa LDL adalah kolesterol yang menumpuk di dinding arteri, membentuk plak aterosklerosis, dan dapat menyebabkan penyempitan serta penyumbatan pembuluh darah. Oleh karena itu, semakin tinggi kadar LDL, semakin besar risikonya terhadap penyakit jantung dan pembuluh darah.

Untuk menjaga keseimbangan kolesterol, dr. Febtusia menyarankan agar masyarakat tidak hanya fokus pada angka kolesterol total saat melakukan pemeriksaan kesehatan. Kolesterol total merupakan gabungan dari berbagai komponen, termasuk LDL, HDL, dan trigliserida. “Sering orang bilang, kolesterolnya berapa? Jangan lihat (angka) itu. Karena kolesterol total itu adalah penggabungan antara yang jahat sama yang baik,” katanya. “Nah yang harus kita lihat justru nilai dari LDL sama trigliserida itu berapa, dan nilai HDL itu berapa. Karena HDL ini harus as high as you can,” tambahnya.

Dia juga menekankan bahwa tingginya kadar kolesterol tidak boleh dianggap sepele, karena dapat menjadi awal dari berbagai masalah kardiovaskular. Risiko ini semakin meningkat pada individu yang merokok, mengalami obesitas, hipertensi, diabetes, atau kurang bergerak.

Untuk mengurangi risiko tersebut, penting untuk melakukan perubahan gaya hidup, seperti berhenti merokok, menjaga pola makan yang sehat, rutin berolahraga, dan mengontrol berat badan. Selain itu, pemeriksaan kesehatan secara berkala juga sangat penting untuk memantau kadar LDL dan HDL sejak dini.

Artikel Terkait