Paparan abu vulkanik yang dihasilkan oleh aktivitas Gunung Anak Krakatau menjadi perhatian penting bagi orangtua, karena abu ini memiliki karakteristik yang berbeda dari debu biasa dan dapat mempengaruhi kesehatan anak. Dokter spesialis anak, dr. Yogi Prawira, Sp.A, Subsp. ETIA (K), dalam presentasinya mengenai “Anak dan Bencana Erupsi Gunung Berapi”, menyatakan bahwa abu vulkanik mengandung silika kristalin yang dapat berdampak negatif pada kesehatan pernapasan dan kondisi psikologis anak. “Anak dengan asma bisa kambuh dan memberat gejalanya,” jelas Yogi. Selain itu, paparan abu vulkanik dapat menyebabkan masalah psikologis seperti stres, kecemasan, dan gejala Post-Traumatic Stress Disorder (PTSD) subklinis. Dalam kasus paparan kronis, ada risiko penyakit paru-paru berat yang dikenal sebagai pneumonoultramicroscopicsilicovolcanoconiosis (PUSVC).
Langkah Pertama: Tetap di Dalam Rumah
Langkah awal yang disarankan adalah menjaga anak tetap di dalam rumah ketika abu vulkanik menyebar. Penting untuk menutup jendela dan pintu dengan rapat, serta menutup celah yang memungkinkan abu masuk menggunakan lakban jika perlu. Aktivitas di luar rumah sebaiknya ditunda, dan orangtua dapat mengalihkan perhatian anak dengan kegiatan di dalam rumah seperti menggambar, membaca, atau bermain. Selain itu, lantai harus dibersihkan dengan pel basah, bukan disapu dalam keadaan kering, karena abu yang mengendap dapat terbang kembali.
Orangtua juga diingatkan untuk menutup tandon dan wadah air, serta mencuci buah dan sayuran dengan lebih teliti.
Langkah Kedua: Gunakan Masker Sesuai Usia
Bagi anak yang lebih besar dan harus keluar rumah, disarankan untuk menggunakan masker N95 atau KN95 yang dapat menutupi wajah dengan baik. Jika masker tersebut tidak tersedia, masker bedah berlapis atau kain lembap bisa digunakan sebagai perlindungan tambahan. Namun, bayi dan balita kecil tidak dianjurkan menggunakan N95 karena dapat menyulitkan mereka bernapas. Perlindungan utama bagi kelompok usia ini adalah tetap berada di ruangan yang tertutup. Anak-anak dengan asma juga disarankan untuk membawa obat pelega napas dan mengikuti rencana penanganan yang telah ditetapkan dokter.
Langkah Ketiga: Lindungi Mata dan Kulit
Abu vulkanik dapat menyebabkan iritasi pada mata dan kulit. Jika anak mengalami rasa perih di mata, sebaiknya bilas dengan air bersih yang mengalir dan hindari mengucek mata. Yogi juga mengingatkan remaja yang memakai lensa kontak untuk tidak menggunakannya saat terjadi paparan abu. Jika terpaksa keluar rumah, anak dapat mengenakan kacamata pelindung atau goggle serta pakaian yang menutupi tubuh. Setelah kembali, anak dianjurkan untuk mandi dan mengganti pakaian guna membersihkan sisa abu yang mungkin menempel.
Langkah Keempat: Komunikasikan dengan Bijak
Penting bagi orangtua untuk membantu anak memahami situasi tanpa menimbulkan ketakutan. Untuk anak usia 3–5 tahun, orangtua dapat menggunakan kalimat sederhana seperti, “Gunungnya sedang batuk. Kita main di dalam supaya aman.” Sedangkan untuk anak usia 6–10 tahun, penjelasan mengenai abu vulkanik dan alasan penutupan jendela dapat diberikan. Bagi remaja, orangtua bisa melibatkan mereka dalam persiapan tas siaga keluarga. Validasi rasa takut mereka dengan mengatakan, “Wajar merasa takut. Kita sudah bersiap.” Selain itu, orangtua disarankan untuk membatasi tontonan video bencana yang menakutkan di media sosial dan memastikan kebenaran informasi sebelum diteruskan.
Langkah Kelima: Waspadai Tanda Bahaya
Yogi menekankan bahwa orangtua harus segera membawa anak ke puskesmas atau rumah sakit jika mengalami sesak napas atau napas cepat, bibir atau ujung jari yang kebiruan, serta batuk yang tidak kunjung reda, terutama pada anak yang memiliki asma. Pertolongan medis juga diperlukan jika mata merah dan nyeri tidak membaik setelah dibilas. Untuk bayi, tanda-tanda seperti malas menyusu atau tampak lemas juga perlu diwaspadai.
IDAI mengingatkan bahwa kesiapan orangtua sangat penting untuk mengurangi dampak paparan abu vulkanik pada anak. Di sisi lain, anak juga perlu merasa aman selama menghadapi situasi bencana.