Teknologi

Lebih dari 31 Ribu Titik Akses Internet Bakti Komdigi, Fokus pada Sekolah dan Puskesmas

Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informasi (Bakti) Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) telah membangun lebih dari 31.000 titik akses internet di seluruh Indonesia, dengan prioritas pada...

M
Maria Gabriella
13 August 2026 49 pembaca
Dirut Bakti Komdigi Fadhilah Mathar. Foto: Agus Tri Haryanto/detikINET
Dirut Bakti Komdigi Fadhilah Mathar. Foto: Agus Tri Haryanto/detikINET

Jakarta - Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informasi (Bakti) dari Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) terus berupaya memperluas penggunaan infrastruktur internet di daerah Terdepan, Terluar, dan Tertinggal (3T). Konektivitas yang dibangun oleh pemerintah ini tidak hanya bertujuan untuk meningkatkan akses komunikasi, tetapi juga untuk mendukung layanan pendidikan, kesehatan, pemerintahan, serta kegiatan ekonomi masyarakat.

Direktur Utama Bakti Komdigi, Fadhilah Mathar, mengungkapkan bahwa Bakti telah berhasil membangun akses internet di lebih dari 31.000 lokasi di berbagai daerah di Indonesia. Sebagian besar dari lokasi tersebut berfokus pada sektor pendidikan.

Rincian Lokasi Akses Internet

Fadhilah menjelaskan, "Bakti telah membangun akses internet di lebih dari 31.000 lokasi. Sekitar 68% dari lokasi tersebut berada di sektor pendidikan, sementara sektor kesehatan menyumbang 5,89% untuk mendukung e-government." Selain itu, sekitar 19,9% lokasi digunakan untuk kantor pemerintahan dan pusat kegiatan masyarakat. Infrastruktur ini juga dimanfaatkan di pasar tradisional, tempat ibadah, pos keamanan, lokasi usaha, hingga fasilitas transportasi publik.

Fadhilah menekankan pentingnya pembangunan konektivitas di daerah 3T agar memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Oleh karena itu, keberhasilan program ini tidak hanya diukur dari jumlah infrastruktur yang dibangun, tetapi juga dari tingkat pemanfaatannya.

Dampak di Daerah 3T

Salah satu contoh nyata dapat dilihat di Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), di mana akses internet dari Bakti digunakan untuk mendukung modernisasi sekolah dan meningkatkan layanan kesehatan melalui optimalisasi rujukan medis di puskesmas. Dampak positif juga terlihat di Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah, di mana kehadiran BTS Bakti membantu mengurangi blank spot, sehingga masyarakat yang sebelumnya terisolasi dapat terhubung dengan layanan digital dan membuka peluang untuk aktivitas ekonomi lokal.

Untuk menyediakan konektivitas di daerah yang sulit dijangkau oleh jaringan komersial, Bakti memanfaatkan berbagai infrastruktur strategis. Di sisi satelit, Satelit Republik Indonesia (Satria-1) dengan kapasitas 150 Gbps digunakan untuk menyediakan akses internet bagi fasilitas publik, termasuk sekolah, puskesmas, dan kantor pemerintah daerah.

Selain itu, jaringan serat optik Palapa Ring berfungsi sebagai tulang punggung konektivitas darat dan laut dengan panjang sekitar 12.148 kilometer. Jaringan ini melayani 131 lokasi Network Operation Center (NOC) di 57 kabupaten/kota nonkomersial yang tersebar di Indonesia Barat, Tengah, dan Timur.

Program Bakti Aksi juga telah menyediakan akses internet gratis di lebih dari 31.864 titik layanan publik. Melalui Bakti Sinyal, pemerintah telah membangun BTS 4G dan BTS Universal Service Obligation (USO) di 6.747 lokasi 3T dengan menggunakan dana APBN serta kontribusi dari dana USO. Konektivitas ini juga dipadukan dengan program pemberdayaan masyarakat, yang meliputi literasi digital, digitalisasi pariwisata, dan penguatan kemitraan BUMDesma.

Artikel Terkait