Kesehatan

Lansia Perlu Waspada Terhadap Dampak Abu Vulkanik, Ini 3 Cara Perlindungannya

Paparan abu vulkanik dapat berbahaya bagi lansia yang memiliki sistem pernapasan yang lebih rentan. Dokter memberikan tiga langkah pencegahan untuk melindungi kelompok usia ini.

L
Luthfi Zaki Maulana
06 September 2026 46 pembaca
Lansia Perlu Waspada Terhadap Dampak Abu Vulkanik, Ini 3 Cara Perlindungannya
Sumber gambar: lifestyle.kompas.com

Paparan abu vulkanik menjadi perhatian serius, terutama bagi kelompok yang lebih rentan seperti lansia. Partikel halus yang terkandung dalam abu dapat masuk ke dalam saluran pernapasan dan menyebabkan iritasi saat terhirup. Menurut Prof. Dr. dr. Agus Dwi Susanto, Sp.P (K), FISR, FAPSR, seorang dokter spesialis paru, lansia lebih berisiko karena mekanisme pertahanan saluran pernapasan mereka menurun seiring bertambahnya usia. Salah satu faktor adalah berkurangnya kemampuan tubuh untuk membersihkan partikel yang masuk ke dalam saluran pernapasan. Selain itu, sistem imun di saluran pernapasan juga tidak sekuat pada usia yang lebih muda, sehingga partikel abu yang terhirup dapat lebih mudah menyebabkan masalah kesehatan.

Alasan Lansia Lebih Rentan

Agus menjelaskan bahwa proses pembersihan partikel dari saluran pernapasan menurun pada orang yang lebih tua. “Pada usia lanjut itu secara fisiologi memang mengalami penurunan. Kemudian kemampuan untuk clearance dari partikel juga menurun,” ungkapnya. Selain itu, pertahanan lokal di saluran pernapasan juga mengalami penurunan. “Imunitas lokal di saluran napas juga menurun. Sehingga kalau ada partikel yang masuk, dia akan lebih sensitif dan lebih cepat menimbulkan masalah kesehatan,” tambahnya.

Dampak Iritasi Akibat Abu Vulkanik

Abu vulkanik mengandung partikel halus yang bersifat iritatif. Ketika terhirup, partikel ini dapat mengganggu lapisan saluran pernapasan dan mekanisme pembersihan alami. “Iritasi ini akan menyebabkan inflamasi pada saluran napas. Kemudian terjadi gangguan dari epitel dan juga rambut-rambut saluran napas untuk melakukan pembersihan,” jelas Agus. Iritasi dapat menimbulkan rasa tidak nyaman di tenggorokan, batuk, lendir berlebih, hingga hidung berair. Pada individu yang sensitif, peradangan dan pembengkakan dapat menyebabkan penyempitan saluran pernapasan. “Kalau terjadi penyempitan saluran napas, maka akan timbul sesak, kemudian bisa juga timbul mengi (suara siulan),” ujarnya. Gangguan dalam proses pembersihan saluran napas juga dapat membuat partikel biologis seperti virus dan bakteri lebih mudah menyebabkan infeksi, yang dapat berujung pada infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) atau pneumonia jika infeksi mencapai saluran napas bawah.

Tiga Langkah Perlindungan untuk Lansia

1. Pencegahan Primer: Cegah Partikel Masuk
Pencegahan primer dilakukan dengan cara menghindari partikel abu masuk ke dalam saluran pernapasan. Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah dengan mengurangi aktivitas di luar rumah saat konsentrasi abu tinggi. “Kalau konsentrasi polusi vulkaniknya tinggi, sebaiknya memang jangan melakukan aktivitas di luar. Kalau terpaksa keluar, gunakan masker,” saran Agus. Respirator merupakan pilihan terbaik untuk menyaring partikel halus dari debu vulkanik. N95 dan KN95 adalah jenis yang direkomendasikan, sedangkan masker bedah bisa digunakan jika respirator tidak tersedia. “N95 itu salah satu jenis respirator. Dia bisa memfiltrasi sampai 95 persen partikel,” jelas Agus. Masker bedah memiliki kemampuan filtrasi yang lebih rendah, tetapi tetap lebih baik daripada tidak menggunakan masker. Agus juga tidak merekomendasikan masker kain untuk menghadapi paparan abu vulkanik. Selain itu, penting untuk menutup pintu dan jendela rumah serta celah yang memungkinkan abu masuk. Penggunaan air purifier juga dianjurkan, dan jika menggunakan AC, sebaiknya diatur pada mode recirculate agar tidak menarik udara dari luar.

2. Pencegahan Sekunder: Kenali Gejala Sejak Awal
Pencegahan sekunder melibatkan pengenalan gejala sejak dini. Batuk, sakit atau rasa panas di tenggorokan, serta ketidaknyamanan di hidung bisa menjadi tanda adanya iritasi akibat paparan. “Kalau sudah mulai ada gejala, misalnya batuk, sakit tenggorokan, atau hidung tidak nyaman, itu sudah harus mulai dikenali sebagai dampak dari polusi,” ungkap Agus. Gejala ringan dapat ditangani secara simptomatik pada tahap awal. Namun, jika gejala berlanjut atau muncul sesak, segera lakukan pemeriksaan di fasilitas kesehatan.

3. Pencegahan Tersier: Cegah Kondisi Makin Berat
Pencegahan tersier ditujukan bagi lansia yang sudah memiliki asma atau penyakit paru kronis. Kelompok ini perlu memastikan obat yang biasa digunakan selalu tersedia selama terjadi paparan abu. “Jangan sampai menunggu terjadi serangan baru kemudian mencari obat. Obatnya harus disiapkan,” kata Agus. Jika muncul sesak atau mengi, segera cari pertolongan medis agar tidak menunggu kondisi semakin parah.

Artikel Terkait