Kesehatan

Kurang Tidur Meningkatkan Risiko Demensia, Ini Penjelasannya

Pola tidur yang tidak baik tidak hanya menyebabkan kelelahan, tetapi juga dapat berdampak serius pada kesehatan otak. Penelitian menunjukkan bahwa kurang tidur dapat mengganggu kemampuan otak dalam me...

T
Theresia Agatha Lestari
11 September 2026 2 pembaca
Kurang Tidur Meningkatkan Risiko Demensia, Ini Penjelasannya
Sumber gambar: lifestyle.kompas.com

Kualitas tidur yang buruk dapat berakibat lebih serius daripada sekadar rasa lelah di pagi hari. Para peneliti menemukan bahwa kurang tidur dapat menghambat kemampuan alami otak untuk menghilangkan racun, yang pada akhirnya dapat meningkatkan risiko demensia di masa depan. Hal ini diungkapkan dalam sebuah penelitian yang dipublikasikan pada tahun 2025 di jurnal Alzheimer's & Dementia: The Journal of the Alzheimer's Association.

Keterkaitan Antara Pola Tidur dan Kesehatan Otak

Studi yang berjudul "MRI markers of cerebrospinal fluid dynamics predict dementia and mediate the impact of cardiovascular risk" ini menganalisis hasil pemindaian MRI dari sekitar 40.000 orang dewasa yang terdaftar dalam basis data UK Biobank. Penelitian ini berfokus pada cara kerja sistem glimfatik, yang berfungsi untuk membersihkan otak dari zat-zat sisa metabolisme dan racun.

Pada kondisi otak yang sehat, cairan serebrospinal diproduksi dan mengalir dengan baik melalui sistem glimfatik. Cairan ini berfungsi seperti petugas kebersihan yang membersihkan berbagai zat sisa dan racun dari otak. Namun, penelitian menunjukkan bahwa kurang tidur dapat mengganggu fungsi sistem ini, sehingga mengurangi kemampuannya dalam membersihkan racun dari otak.

Dampak Negatif Kurang Tidur

Peneliti dari University of Cambridge menemukan bahwa waktu tidur yang tidak cukup dapat berdampak negatif pada efektivitas sistem glimfatik. Saat tidur tanpa gangguan, otak berada dalam fase paling aktif untuk menghilangkan racun. Jika pola tidur terganggu, risiko mengalami demensia di usia tua akan meningkat.

Demensia merupakan istilah umum yang menggambarkan penurunan kemampuan kognitif, seperti ingatan dan pengambilan keputusan, yang dapat mengganggu aktivitas sehari-hari. Penyakit Alzheimer adalah bentuk demensia yang paling umum dan sering didiagnosis.

Bahaya Penumpukan Protein di Otak

Hui Hong, penulis studi, menjelaskan bahwa penyakit pembuluh darah kecil di otak dapat mempercepat perkembangan penyakit seperti Alzheimer. Gangguan pada sistem pembersihan alami otak dapat menyebabkan penumpukan protein amiloid dan tau, yang jika tidak dibersihkan dengan baik, akan membentuk plak. Plak ini diyakini menjadi pemicu utama gejala Alzheimer yang merusak fungsi kognitif.

Selain masalah tidur, penelitian ini juga menunjukkan bahwa penurunan fungsi glimfatik berkaitan erat dengan tekanan darah tinggi. Hal ini menekankan pentingnya menjaga kesehatan tubuh secara keseluruhan untuk melindungi memori. Profesor Hugh Markus dari Cambridge menjelaskan bahwa sekitar seperempat dari semua risiko demensia disebabkan oleh faktor risiko seperti tekanan darah tinggi dan merokok. Ia menegaskan bahwa penurunan memori dapat dicegah dengan memperbaiki gaya hidup.

Markus menambahkan, "Jika faktor-faktor ini merusak fungsi glimfatik, kita dapat melakukan intervensi. Mengobati tekanan darah tinggi atau mendorong orang untuk berhenti merokok dapat membantu sistem glimfatik berfungsi lebih baik."

Artikel Terkait