Kesehatan

Kurang Tidur Dapat Meningkatkan Risiko Stroke, Simak Penjelasan Ahli

Hari Stroke Sedunia yang diperingati setiap 29 Oktober mengingatkan kita akan pentingnya menjaga kualitas tidur, yang berpengaruh pada risiko terkena stroke.

Y
Yusuf Ahmad Pratama
30 October 2026 4 pembaca
Ilustrasi begadang. Beberapa hal harus dihindari untuk membantu Anda tampak awet muda, seperti tidak cukup tidur, merokok, dan tidak banyak bergerak.(OcusFocus)
Ilustrasi begadang. Beberapa hal harus dihindari untuk membantu Anda tampak awet muda, seperti tidak cukup tidur, merokok, dan tidak banyak bergerak.(OcusFocus)

Setiap tanggal 29 Oktober, dunia memperingati Hari Stroke Sedunia. Menurut data dari World Stroke Organization, stroke merupakan penyebab kematian kedua tertinggi dan penyebab kecacatan ketiga di seluruh dunia. Menariknya, sekitar 80 persen dari kasus stroke dapat dicegah dengan perubahan gaya hidup yang lebih baik. Pencegahan seharusnya dimulai jauh sebelum gejala muncul, dan salah satu faktor kunci adalah menjaga pola tidur yang baik.

Kaitan Antara Durasi Tidur dan Risiko Stroke

Dr. Bharath Kumar Surisetti, seorang konsultan neurologi di Yashoda Hospitals, menjelaskan bahwa meskipun kurang tidur sesekali tidak langsung meningkatkan risiko stroke, kebiasaan tidur yang buruk atau kurang tidur secara konsisten dapat menyebabkan masalah kesehatan yang berujung pada peningkatan risiko stroke. "Meskipun sesekali kurang tidur mungkin tidak secara signifikan memengaruhi risiko stroke, kebiasaan tidur tidak cukup atau berkualitas buruk secara terus-menerus bisa memicu masalah kesehatan yang pada akhirnya meningkatkan risiko stroke tersebut," ungkap dr. Surisetti.

Kurang tidur dapat mengganggu pengaturan tekanan darah, memicu peradangan, dan merusak metabolisme gula darah. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat menyebabkan lonjakan tekanan darah, obesitas, dan diabetes tipe 2, yang merupakan faktor utama penyebab stroke. Sebuah metaanalisis pada tahun 2025 yang dipublikasikan dalam jurnal GeroScience menunjukkan adanya hubungan berbentuk U antara durasi tidur dan insiden stroke. Tidur kurang dari enam jam berisiko meningkatkan kemungkinan stroke hingga 29 persen. Di sisi lain, tidur lebih dari delapan jam juga meningkatkan risiko stroke sebesar 1,38 kali lipat.

Dampak Henti Napas Saat Tidur

Selain durasi tidur, kualitas pernapasan saat tidur juga sangat penting. Dr. Surisetti menekankan bahwa henti napas obstruktif saat tidur dapat menurunkan kadar oksigen dan memberikan beban tambahan pada sistem kardiovaskular. Tinjauan yang diterbitkan dalam European Respiratory Journal pada tahun 2020 mengungkapkan bahwa individu dengan henti napas obstruktif parah memiliki risiko dua kali lipat lebih besar untuk mengalami stroke.

Menjaga kualitas tidur sangat penting, dan dr. Sauradeep Sarkar, konsultan bedah saraf di Cytecare Hospitals, menambahkan bahwa lebih baik fokus pada kualitas tidur daripada hanya menghitung jam tidur. "Daripada sekadar menghitung berapa jam waktu tidur yang kamu dapatkan di malam hari, saya rasa akan jauh lebih penting jika kita berfokus pada kualitas istirahat tersebut," saran dr. Sarkar. Untuk itu, disarankan untuk tidur antara tujuh hingga sembilan jam, mengurangi konsumsi kafein di sore hari, serta menghindari penggunaan gadget sebelum tidur.

Dr. Surisetti menekankan bahwa tidur yang cukup harus dianggap sebagai bagian penting dalam upaya pencegahan stroke, sama halnya dengan menjaga tekanan darah, mengelola diabetes, dan menerapkan gaya hidup sehat. Jika mengalami kesulitan tidur, mendengkur keras, atau merasa sangat lemas di siang hari, sebaiknya segera berkonsultasi dengan tenaga medis untuk pemeriksaan lebih lanjut.

Artikel Terkait