Teknologi

Kolaborasi Sega dan Nvidia: Dari Kebangkitan hingga Kesuksesan Bersama

Setelah tiga dekade berkolaborasi, Sega dan Nvidia kembali bersatu untuk merilis game terbaru dalam seri Virtua Fighter, yang akan memanfaatkan teknologi canggih dari Nvidia.

D
Danendra Surya
20 July 2026 50 pembaca
Foto: Sega
Foto: Sega

Jakarta - Tiga puluh tahun setelah Sega bekerja sama dengan Nvidia untuk menghadirkan game arcade legendaris Virtua Fighter ke platform PC melalui kartu multimedia NV1, kedua perusahaan teknologi besar ini kembali berkolaborasi. Sega dan Nvidia telah mengumumkan peluncuran seri terbaru dari waralaba tersebut, Virtua Fighter Crossroads, yang akan tersedia untuk laptop dan desktop yang menggunakan chip terbaru berbasis Arm dari Nvidia, yaitu RTX Spark. Kerja sama ini dipastikan akan meluas ke berbagai judul game Sega lainnya di masa depan.

Dalam pernyataan resmi Nvidia, dijelaskan bahwa game-game terbaru dari Sega akan mendukung teknologi mutakhir mereka, termasuk kemampuan upscaling dan rendering, seperti ray tracing dan DLSS. Nvidia juga mengungkapkan bahwa perangkat kecerdasan buatan (AI) terbaru mereka akan sepenuhnya terintegrasi, yang mencakup penggunaan teknologi neural rendering bertenaga AI seperti Reflex dan G-Assist.

Spekulasi Game yang Akan Datang

Walaupun Nvidia dan Sega belum mengumumkan daftar resmi game yang akan dirilis di ekosistem RTX Spark, spekulasi di kalangan penggemar sudah mulai beredar. Beberapa informasi yang bocor menyebutkan bahwa judul-judul besar seperti Alien: Isolation 2 dari Creative Assembly, Total War: Warhammer 40.000, serta instalmen terbaru dari waralaba Yakuza dan Persona berpotensi mendapatkan dukungan yang sama.

Sejarah Kerjasama yang Menyelamatkan Nvidia

Pengumuman kolaborasi ini disampaikan oleh CEO Nvidia, Jensen Huang, dalam sebuah acara spesial di Tokyo yang merayakan 30 tahun kemitraan antara Sega dan Nvidia. Acara tersebut menjadi momen emosional bagi Huang dan mantan Presiden Sega era 90-an, Shoichiro Irimajiri. Petinggi lainnya seperti CEO Sega saat ini, Haruki Satomi, COO Shuji Utsumi, dan desainer game legendaris Yu Suzuki juga hadir dalam acara tersebut.

Dalam pidatonya, Huang mengenang masa-masa kritis ketika Irimajiri berperan sebagai penyelamat Nvidia dari kebangkrutan pada tahun 1990-an. Irimajiri memberikan dana darurat sebesar USD 5 juta pada saat Nvidia benar-benar kehabisan modal. Huang mengakui bahwa kebaikan hati dan pengertian Irimajiri adalah faktor utama yang memungkinkan Nvidia bertahan hingga saat ini.

Awalnya, Sega menunjuk Nvidia untuk mengembangkan GPU khusus untuk konsol Dreamcast yang legendaris. Namun, di tengah jalan, Sega membatalkan pesanan tersebut dan memilih GPU PowerVR buatan NEC karena menganggap teknologi Nvidia tidak kompetitif. Meskipun demikian, Irimajiri tetap membayar biaya kontrak senilai USD 5 juta, tetapi merestrukturisasinya sebagai investasi saham. Dana dari proyek Dreamcast yang gagal tersebut akhirnya digunakan Nvidia untuk mengembangkan GPU gaming Riva 128 dan GeForce 256 yang sukses di pasar.

Penyesalan di Balik Keputusan Bisnis

Ketika Nvidia melaksanakan penawaran saham perdana (IPO) pada tahun 1999, Sega memutuskan untuk mencairkan sahamnya seharga USD 15 juta. Keputusan tersebut membuat Sega meraih keuntungan tiga kali lipat dari investasi awal. Meskipun langkah tersebut terlihat menguntungkan saat itu, sejarah menunjukkan sebaliknya. Saat ini, kapitalisasi pasar Nvidia telah melonjak hingga mencapai sekitar USD 5 triliun. Seandainya Sega menahan saham tersebut hingga kini, nilai kepemilikan mereka diperkirakan bisa mencapai ratusan miliar dolar AS.

Artikel Terkait