Teknologi

Kisah di Balik Pengembangan Coretax Senilai Rp 1,23 Triliun oleh LG CNS

LG CNS, perusahaan teknologi asal Korea Selatan, mengungkapkan proses pengembangan Core Tax Administration System (Coretax) yang bernilai Rp 1,23 triliun, sebuah sistem perpajakan yang akan digunakan...

A
Angelica Putri Wijaya
21 October 2026 59 pembaca
LG CNS Ungkap Cerita di Balik Coretax Rp 1,23 Triliun Foto: Najmi Dhiaulhaq
LG CNS Ungkap Cerita di Balik Coretax Rp 1,23 Triliun Foto: Najmi Dhiaulhaq

Jakarta - LG CNS, sebuah perusahaan teknologi dari Korea Selatan, menjelaskan latar belakang pengembangan Core Tax Administration System (Coretax), sistem administrasi perpajakan Indonesia yang bernilai Rp 1,23 triliun. Proyek ini menjadi salah satu pencapaian penting bagi LG CNS yang telah beroperasi di Indonesia selama dua dekade.

Mark Mansik Won, Direktur Utama PT LG CNS Indonesia, menyatakan bahwa perusahaannya telah hadir di Indonesia sejak tahun 2006. Selama 20 tahun, LG CNS terlibat dalam berbagai proyek transformasi digital yang mencakup sistem pemerintahan, transportasi, dan infrastruktur teknologi. Salah satu proyek besar yang dikerjakan adalah Coretax untuk Direktorat Jenderal Pajak (DJP) Kementerian Keuangan, yang dijadwalkan mulai digunakan secara nasional pada Januari 2025. Proyek ini dikembangkan melalui kolaborasi antara LG CNS dan Qualysoft, di mana LG CNS berperan sebagai integrator sistem utama.

Tantangan dalam Pengembangan Coretax

Dalam wawancaranya, Mark mengakui bahwa pengembangan Coretax bukanlah tugas yang mudah. Tantangan terbesar yang dihadapi adalah mengintegrasikan berbagai sistem perpajakan yang sebelumnya beroperasi secara terpisah menjadi satu platform terpadu. Menurutnya, kompleksitas tersebut semakin meningkat karena Coretax merupakan sistem berskala nasional yang harus beradaptasi dengan perubahan regulasi, proses bisnis, dan kebutuhan pengguna.

"Proses bisnis di Indonesia sangat kompleks. Mengintegrasikan semuanya menjadi satu sistem merupakan tantangan terbesar. Apalagi ini proyek jangka panjang, ketika regulasi dan kebutuhan pengguna terus berubah," jelas Mark.

Permasalahan Awal dan Solusi yang Diterapkan

Setelah diluncurkan pada Januari 2025, Coretax sempat menghadapi keluhan dari beberapa wajib pajak yang mengalami kesulitan dalam mengakses dan menggunakan sistem administrasi perpajakan tersebut. Mark mengakui adanya masalah pada fase awal implementasi, yang mana sistem teknologi informasi berskala besar biasanya memerlukan proses stabilisasi setelah digunakan secara luas.

Ia menjelaskan bahwa gangguan pada sistem baru dapat disebabkan oleh berbagai faktor, mulai dari masalah teknis yang sederhana hingga isu yang lebih kompleks. Adaptasi pengguna terhadap sistem baru juga menjadi tantangan tersendiri. Namun, Mark tidak merinci penyebab teknis dari gangguan yang dialami Coretax saat pertama kali diluncurkan.

Untuk mengatasi masalah tersebut, LG CNS bekerja sama dengan DJP dan mengirimkan tim teknis khusus dari Korea Selatan. "Ketika masalah muncul, kami segera mendatangkan tim khusus dari Korea. Tim tersebut bekerja sama dengan DJP untuk menganalisis penyebab masalah dan mencari solusinya," ungkap Mark. Tim tersebut bertugas untuk mengidentifikasi gangguan, melakukan analisis teknis, dan membantu menyelesaikan masalah agar Coretax dapat beroperasi dengan lebih stabil.

Mark mengklaim bahwa berbagai kendala pada fase awal implementasi telah berhasil diatasi. Ia menambahkan bahwa Coretax kini telah berjalan lebih stabil dibandingkan saat pertama kali diluncurkan. Meskipun demikian, LG CNS tidak menangani operasional dan pemeliharaan harian Coretax secara langsung, tetapi tetap memberikan dukungan teknologi terkait infrastruktur dan database sesuai kontrak, serta melakukan proses transfer pengetahuan kepada tim Indonesia.

Kemajuan Teknologi Pemerintahan di Indonesia

Mark juga menyoroti kemajuan teknologi pemerintahan di Indonesia selama dua dekade terakhir. Ia mencatat bahwa kemampuan perusahaan teknologi lokal telah meningkat secara signifikan dibandingkan saat LG CNS pertama kali hadir pada tahun 2006. Meskipun Korea Selatan lebih dahulu mengembangkan sistem pemerintahan berbasis elektronik, Indonesia kini dinilai memiliki kemampuan yang semakin baik dalam membangun sistem digital berskala nasional.

Coretax menjadi salah satu contoh kemajuan tersebut. Mark menilai bahwa sistem perpajakan Indonesia memiliki kemampuan integrasi dan kelengkapan fitur yang bahkan lebih maju dibandingkan dengan beberapa negara lain, termasuk Malaysia yang menurutnya masih tertinggal dalam aspek integrasi dan fitur sistem perpajakan.

Peningkatan tersebut juga membuka peluang untuk pengembangan Coretax dengan memanfaatkan kecerdasan buatan (AI). Mark berpendapat bahwa ketersediaan data dalam Coretax dapat menjadi dasar untuk penerapan AI agent yang mendukung layanan perpajakan di masa mendatang. Namun, keputusan mengenai penerapan teknologi AI sepenuhnya berada di tangan DJP, dan LG CNS siap memberikan dukungan teknologi jika diperlukan.

Selain Coretax, LG CNS memiliki rekam jejak yang panjang dalam pengembangan sistem digital untuk pemerintah Indonesia. Salah satunya adalah Sistem Perbendaharaan dan Anggaran Negara (SPAN) yang dikembangkan untuk Kementerian Keuangan dan didukung oleh pembiayaan Bank Dunia. Di sektor keamanan publik, LG CNS juga terlibat dalam pengembangan Pusat Informasi Kriminal Nasional (PIKNAS) untuk Kepolisian Republik Indonesia.

Di bidang transportasi, perusahaan ini menjadi mitra teknologi dalam penyediaan platform pintu pengaman peron di enam stasiun LRT Jakarta Fase 1A dan terlibat dalam proyek Bus Information Management System (BIMS) di Jakarta. Mark menegaskan bahwa kehadiran LG CNS di Indonesia bukan hanya untuk mengerjakan proyek teknologi, tetapi juga untuk membangun kemampuan sumber daya manusia lokal melalui kolaborasi dan transfer pengetahuan. Ia mencontohkan proyek SPAN yang kini dapat dioperasikan secara mandiri oleh tim Indonesia setelah proses transfer teknologi.

Mark berharap di masa depan, LG CNS dapat memperkuat perannya sebagai penghubung kerja sama teknologi antara Indonesia dan Korea Selatan, terutama dalam pengembangan pemerintahan digital dan kecerdasan buatan.

Artikel Terkait