Teknologi

Kementerian Komunikasi dan Digital Ingatkan Pentingnya Verifikasi Informasi dari Chatbot AI

Kementerian Komunikasi dan Digital mengingatkan masyarakat untuk tidak menganggap jawaban dari chatbot AI sebagai kebenaran mutlak dan pentingnya memverifikasi informasi yang diterima.

L
Luthfi Zaki Maulana
30 October 2026 3 pembaca
Foto: iStock
Foto: iStock

Jakarta - Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) menegaskan bahwa informasi yang diberikan oleh chatbot AI di media sosial tidak dapat dianggap sebagai representasi yang akurat dari kenyataan. Masyarakat diimbau untuk memahami cara kerja teknologi ini dan selalu memeriksa informasi sebelum mempercayainya.

Marroli J. Indarto, Direktur Kemitraan Komunikasi Lembaga dan Kehumasan Komdigi, menyatakan bahwa algoritma yang digunakan dalam media sosial berpengaruh terhadap informasi yang diterima oleh pengguna setiap harinya. Konten yang muncul di linimasa dipilih dan direkomendasikan berdasarkan berbagai faktor, seperti aktivitas, minat, dan interaksi pengguna. "Jadi kami menekankan bahwa informasi yang ada itu bukanlah satu-satunya kebenaran. Harus kita melakukan kembali namanya cek dan recek," ujarnya pada acara Ngopi Komdigi di Jakarta, Kamis (29/10/2026).

Perbedaan Informasi di Media Sosial

Marroli menjelaskan bahwa sistem rekomendasi membuat informasi yang diterima oleh setiap pengguna bisa berbeda-beda. Oleh karena itu, konten yang muncul di media sosial tidak bisa dijadikan acuan tunggal untuk memahami situasi yang ada di masyarakat. "Jadi apa yang muncul di media sosial itu tentu tidak menjadi gambaran utuh di dalam realitas sosial," ungkapnya.

Pentingnya Sikap Kritis terhadap AI

Marroli juga mengingatkan bahwa perkembangan teknologi AI memberikan banyak manfaat dalam kehidupan sehari-hari, seperti dalam mencari informasi dan mendukung pekerjaan serta kegiatan belajar. Namun, pengguna tetap harus bersikap kritis terhadap jawaban yang diberikan oleh chatbot. Dia menjelaskan bahwa sistem AI menghasilkan jawaban berdasarkan pola yang telah dipelajari dan mekanisme pemrosesan bahasa. Hal ini membuat jawaban dari chatbot tetap memiliki kemungkinan untuk salah, sehingga perlu diverifikasi melalui sumber lain. "Namun kita juga tetap harus kritis bahwa AI juga menghasilkan jawaban itu juga berdasarkan pola," tuturnya.

Dia menekankan pentingnya melakukan verifikasi informasi melalui sumber yang terpercaya, termasuk media yang telah terverifikasi. Pengguna tidak seharusnya menerima jawaban dari AI tanpa memastikan bahwa informasi tersebut didukung oleh sumber yang dapat dipertanggungjawabkan. "Makanya penting untuk kita melakukan namanya intervensi manusia untuk mengecek terutama. Cek dan recheck juga penting adalah kita mencari konfirmasi kebenaran pada sumber-sumber yang verified, pada media online yang verified, tentunya ya pada media-media lain," tuturnya.

Selain itu, Komdigi mendorong literasi digital di masyarakat dan meminta platform digital untuk meningkatkan transparansi mengenai sistem yang membentuk pengalaman pengguna. Ini mencakup penjelasan tentang rekomendasi konten, proses moderasi, penggunaan AI, serta mekanisme pengaduan bagi pengguna yang merasa dirugikan.

Marroli menyatakan bahwa platform digital memiliki tanggung jawab untuk menjelaskan cara kerja sistem yang digunakan serta melindungi hak pengguna. Masyarakat juga diharapkan tetap kritis dalam mengonsumsi informasi, baik yang diperoleh melalui media sosial maupun teknologi AI. "Intinya adalah AI boleh membantu kita berpikir tapi kemudian keputusan dan penilaian tetap harus berada di tangan para penggunanya. Untuk itu, kami juga menyadari bahwa sistem yang membentuk pengalaman digital mereka perlu dibuat lebih transparan. Ini terkait dengan platform ya," pungkasnya.

Artikel Terkait