Teknologi

Gelembung AI di China Meledak, Nilai Pasar Hilang Rp 8.700 Triliun

Laporan terbaru mengungkapkan bahwa gelembung investasi di sektor kecerdasan buatan (AI) di China telah pecah, menyebabkan hilangnya nilai pasar yang signifikan. Banyak perusahaan AI terkemuka mengala...

D
Danendra Surya
30 October 2026 6 pembaca
Foto: detik
Foto: detik

Jakarta - Menurut laporan yang beredar, gelembung investasi dalam kecerdasan buatan (AI) di China telah mengalami keruntuhan. Saat ini, terdapat investasi yang mencapai triliunan dolar yang sangat bergantung pada kesuksesan sektor AI. Namun, banyak laboratorium AI terkemuka yang belum mampu menghasilkan pendapatan yang cukup untuk menutupi biaya operasional yang terus meningkat, sehingga tanda-tanda peringatan mulai muncul.

Gelembung AI merujuk pada fenomena di mana valuasi pasar, harga saham, dan investasi dalam teknologi AI jauh melebihi laba yang sebenarnya dalam jangka pendek serta nilai fundamental yang dihasilkan oleh teknologi tersebut. Dalam empat bulan terakhir, indeks STAR50 yang mencakup perusahaan-perusahaan AI dan semikonduktor di China mengalami penurunan sebesar 40 persen, yang mengakibatkan hilangnya nilai pasar sekitar USD 480 miliar atau setara dengan Rp 8.700 triliun. Hal ini dianggap sebagai indikasi pecahnya gelembung AI di negara tersebut.

Pasar Saham yang Volatil

“Pasar saham belakangan ini berubah menjadi pasar bullish spekulatif yang gila-gilaan. Dan sekarang kita melihat gelembung itu pecah,” ungkap seorang manajer investasi yang berbasis di Beijing, Dong Baozhen. Saham Unitree, sebuah perusahaan robotika yang sedang menjadi sorotan, telah merosot hingga setengahnya sejak melakukan penawaran umum perdana (IPO) yang sangat dinanti pada bulan Agustus. Di sisi lain, produsen chip CXMT mengalami penurunan nilai lebih dari seperempat dalam sebulan terakhir.

Meskipun fluktuasi di pasar saham tidak sepenuhnya mematahkan semangat para investor di sektor AI, beberapa perusahaan masih menunjukkan performa yang baik. DeepSeek, salah satu perusahaan AI terkemuka di China, baru-baru ini berhasil mengumpulkan USD 15 miliar dalam salah satu putaran pendanaan terbesar yang pernah ada di negara tersebut. Selain itu, Huawei juga berhasil mendapatkan pinjaman sebesar USD 2,3 miliar dari bank-bank di China untuk memperluas investasi dalam chip AI.

Perbandingan dengan Pasar Global

Kondisi di China jelas berbeda dengan situasi di wilayah lain di dunia. Negara ini menghadapi tekanan berkelanjutan dari Amerika Serikat yang berupaya mengeluarkan China dari persaingan global melalui penerapan tarif dan wacana pelarangan perusahaan-perusahaan China untuk menyediakan peralatan ke pusat data. Meskipun demikian, jumlah investasi yang dialokasikan untuk industri AI di China tidak jauh berbeda dengan yang terjadi di negara-negara Barat, di mana ketidakmampuan untuk menghasilkan laba dari investasi semakin sulit untuk diabaikan.

Pengungkapan terbaru dari Anthropic dalam pengajuan IPO-nya mengenai kerugian mengejutkan sebesar USD 80 miliar serta rencana untuk menghabiskan USD 1 triliun lagi untuk pusat data, hanya akan menambah kekhawatiran bahwa bahkan pemain utama dalam industri AI pun masih jauh dari keuntungan.

Artikel Terkait