Kesehatan gigi anak sering kali terganggu oleh masalah karies, yang merupakan salah satu isu kesehatan gigi yang umum. Data dari Kementerian Kesehatan menunjukkan bahwa 40 persen anak usia sekolah dan remaja yang mengikuti program Cek Kesehatan Gratis (CKG) mengalami karies. Masalah gigi berlubang ini tidak terlepas dari kebiasaan yang dibentuk sejak kecil, termasuk perilaku orangtua dalam kehidupan sehari-hari mereka.
Pentingnya Memahami Faktor Penyebab Karies
Dokter gigi Kurnia Dwi Wulan menjelaskan bahwa karies pada anak dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor yang saling terkait. “Karies itu sebenarnya multifaktorial. Jadi enggak cuma karena satu (penyebab),” ungkap Kurnia dalam acara peluncuran Mayapada Dental Care di Jakarta Timur.
Salah satu faktor yang dapat berkontribusi adalah perpindahan bakteri dari orangtua ke anak, yang dapat terjadi melalui kebiasaan sederhana seperti memberi makanan. Misalnya, ketika orangtua meniup makanan yang masih panas sebelum memberikannya kepada anak, hal ini dapat menjadi salah satu cara bakteri berpindah. “Biasanya ibu-ibu suka niup makanannya. Nah itu secara enggak langsung, apa pun karena takut kepanasan anaknya, nah itu sudah ada transfer bakteri tuh,” jelas Kurnia.
Kebiasaan Makan dan Kesehatan Gigi
Namun, Kurnia menekankan bahwa karies pada anak tidak hanya disebabkan oleh bakteri dari orangtua. Terdapat berbagai faktor lain yang saling berkaitan, termasuk pola makan dan kebiasaan sehari-hari. “Dari bakterinya itu sendiri, dari kebiasaannya dan dari frekuensi jumlah makanannya,” tambahnya. Oleh karena itu, anggapan bahwa gigi berlubang pada anak hanya disebabkan oleh faktor keturunan tidak sepenuhnya akurat. Meskipun faktor genetik dapat berperan, hal ini bukanlah satu-satunya penyebab munculnya karies.
Kebiasaan makan juga memegang peranan penting dalam menjaga kesehatan gigi anak. Kurnia menjelaskan bahwa makanan manis dan sumber karbohidrat dapat mempercepat terjadinya karies, terutama jika dikonsumsi secara berlebihan. “Terlalu sering diberi makanan-makanan manis, nah itu jadi mempercepat proses terjadinya gigi berlubang,” ucapnya. Kondisi ini semakin diperparah jika kebersihan gigi tidak terjaga dengan baik. Terlebih lagi, struktur gigi geraham yang memiliki lekukan dapat menjadi tempat sisa makanan terselip jika tidak dibersihkan dengan optimal. “Lekukan-lekukan ini yang ceruknya ini suka ke skip kalau lagi sikat gigi. Nah itu juga salah satu faktor yang menyebabkan jadinya gigi berubang,” papar Kurnia.
Peran Orangtua dalam Menjaga Kesehatan Gigi Anak
Untuk menjaga kesehatan gigi anak, orangtua tidak hanya perlu mengajarkan cara menyikat gigi. Dokter gigi Helen Jung menyarankan agar orangtua mendampingi dan memeriksa kembali kebersihan gigi anak setelah menyikat gigi. Hal ini penting karena kemampuan motorik anak yang masih berkembang membuat mereka belum bisa menyikat gigi secara menyeluruh. “Orangtua harus bantu. Karena anak kecil belum terbiasa, pasti masih ada ketinggalan plak dan kurang bersih,” pesannya.
Helen juga mengingatkan bahwa pola makan dan kebiasaan menyikat gigi harus berjalan beriringan. Frekuensi mengonsumsi makanan manis dapat mengurangi efektivitas usaha menjaga kebersihan gigi. “Kalau sering makan manis-manis, pasti sikat gigi pun tidak ada gunanya. Jadi cara sikat giginya juga penting, tapi pola makannya juga penting,” imbuhnya. Dengan demikian, peran orangtua sangat penting, tidak hanya dalam memastikan anak menyikat gigi, tetapi juga dalam membentuk kebiasaan yang mendukung kesehatan gigi sejak dini. Pendampingan saat menyikat gigi, perhatian terhadap frekuensi makanan manis, serta menghindari kebiasaan yang dapat memindahkan bakteri adalah bagian dari upaya tersebut.