Masa pascapersalinan tidak selalu mudah bagi setiap ibu. Selain beradaptasi dengan kehadiran bayi, mereka juga harus menghadapi masalah seperti kurang tidur, perubahan hormonal, pemulihan fisik, dan tekanan untuk menjadi orangtua yang baik. Dalam situasi ini, ungkapan yang tampaknya sederhana atau dimaksudkan untuk memberikan dukungan justru bisa membuat ibu merasa tidak dimengerti. Dr. Sarah Oreck, seorang psikiater reproduksi dan pendiri Mavida Health, menekankan pentingnya memperlakukan kesehatan mental pascapersalinan sama seperti kondisi kesehatan lainnya. “Kesehatan mental perinatal harus diperlakukan persis sama,” ujarnya.
Ungkapan yang Harus Dihindari
1. “Tidurlah saat bayi tidur”
Kalimat ini mungkin terdengar seperti saran yang baik untuk membantu ibu mendapatkan istirahat. Namun, terapis pernikahan dan keluarga, Chelsea Solorzano, menjelaskan bahwa ungkapan ini dapat memberi kesan bahwa ibu seharusnya dapat mengatur waktu tidurnya dengan mudah. “Meskipun bermaksud baik, hal itu memberikan pesan tersirat tentang apa yang seharusnya bisa dilakukan oleh seorang ibu yang baik secara alami,” katanya. Sebaiknya, orang terdekat menanyakan kapan terakhir kali ibu mendapatkan tidur yang cukup dan menawarkan bantuan agar ia bisa beristirahat.
2. "Baru Segini, Nanti Masih Ada Fase yang Lebih Capek"
Ibu baru sering kali mendengar bahwa akan ada fase lain yang lebih melelahkan, seperti saat bayi mulai tumbuh gigi. Kimberly Meehan, seorang ahli praktik pribadi di New York City, menyarankan agar percakapan lebih difokuskan pada hal-hal menyenangkan yang bisa dinantikan. “Para ibu baru sudah cukup sering mendengar tentang hal-hal yang akan menjadi lebih sulit. Beri tahu mereka apa yang bisa mereka nantikan,” ungkapnya. Misalnya, mengingatkan ibu tentang momen ketika bayi mulai tersenyum atau menggenggam tangan.
3. “Nikmati saja setiap momen”
Meskipun menjadi orangtua membawa banyak momen berharga, bukan berarti seorang ibu harus selalu merasa bahagia. Oreck menjelaskan bahwa kalimat ini dapat membuat ibu merasa tertekan untuk bersyukur dan menikmati setiap momen, meskipun mereka sedang mengalami kesulitan. Sebagai alternatif, Meehan menyarankan kalimat yang mengakui bahwa pengalaman menjadi ibu bisa menyenangkan sekaligus sulit. “Kamu bisa menyukai ini dan tetap merasa ada bagian-bagian yang sangat sulit,” katanya. Memberikan apresiasi atas usaha ibu dalam merawat bayi juga sangat berarti.
4. “Setidaknya bayinya sehat”
Memiliki bayi yang sehat adalah hal yang patut disyukuri, tetapi itu tidak menghilangkan kesulitan yang dialami ibu. Julia Alzoubaidi, seorang psikolog dan manajer program psikosis pascapersalinan di Postpartum Support International, mengingatkan agar kondisi bayi tidak digunakan untuk meremehkan keluhan ibu. “Bayi yang sehat tidak menghapus pengalaman persalinan traumatis, depresi pascapersalinan, kecemasan, atau perasaan kehilangan identitas,” jelas Meehan.
5. “Kapan menambah saudara kandung (adik)?”
Pertanyaan tentang anak kedua mungkin terdengar sepele, tetapi bagi sebagian ibu, itu bisa menjadi hal yang sensitif, terutama jika pengalaman kehamilan sebelumnya sulit. Oreck menyatakan bahwa orang lain mungkin tidak memahami apa yang dibutuhkan untuk mendapatkan bayi tersebut atau apa yang baru saja dialami oleh ibu. “Itu bukan sekadar obrolan ringan baginya, bahkan ketika itu adalah obrolan ringan bagi Anda,” tambahnya. Sebaiknya, alihkan pertanyaan menjadi sesuatu yang lebih terbuka, seperti menanyakan bagaimana keadaan seluruh keluarga setelah kehadiran bayi.
Dukungan yang Diperlukan Ibu
Terkadang, yang lebih dibutuhkan oleh ibu setelah melahirkan adalah seseorang yang mau mendengarkan tanpa menghakimi. Masa pascapersalinan tidak berhenti hanya beberapa minggu setelah melahirkan. Meehan mengingatkan bahwa perhatian kepada ibu sebaiknya tidak berhenti setelah masa awal kelahiran bayi. Tanyakan kembali kabarnya setelah beberapa waktu dan pastikan ia tahu bahwa ia tidak harus menghadapi semuanya sendirian.