Teknologi

Indonesia Kembangkan Satelit LEO untuk Perluasan Jaringan Komunikasi

Pemerintah Indonesia sedang memproses pengembangan satelit Low Earth Orbit (LEO) yang diharapkan dapat meningkatkan jaringan komunikasi nasional. Proses pengajuan orbit dan frekuensi satelit telah dil...

B
Bayu Triatma
13 July 2026 76 pembaca
Ilustrasi satelit. Foto: Planet
Ilustrasi satelit. Foto: Planet

Pemerintah Indonesia mengungkapkan bahwa operator satelit nasional sedang dalam tahap pengembangan satelit Low Earth Orbit (LEO). Saat ini, pengajuan terkait orbit dan frekuensi untuk satelit tersebut telah disampaikan kepada International Telecommunication Union (ITU), yang merupakan langkah penting sebelum peluncuran satelit dapat dilakukan. Hal ini disampaikan oleh Direktur Penataan Spektrum Frekuensi Radio, Orbit Satelit, dan Standardisasi Infrastruktur Digital Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi), Adis Alifiawan, pada acara peringatan 50 Tahun Satelit Indonesia di Gedung BJ Habibie, Jakarta, Rabu (8/7/2026).

Proses Pengajuan dan Tanggung Jawab Operator

Menurut Adis, peran Kementerian Komunikasi dan Digital adalah untuk memfasilitasi pengajuan slot orbit dan spektrum frekuensi satelit kepada ITU, sementara pembangunan satelit menjadi tanggung jawab dari operator. "Ada permohonan dari operator satelit kita, dan sudah kami proses ke ITU. Peran kami membantu proses itu dan memfasilitasinya di tingkat internasional," jelasnya.

Adis menambahkan bahwa pengembangan satelit LEO tidak hanya bergantung pada kesiapan teknologi dan pendanaan, tetapi juga memerlukan proses koordinasi internasional agar sistem satelit yang baru tidak mengganggu satelit milik negara lain. "Meluncurkan satelit bukan hanya soal memiliki modal untuk membeli dan meluncurkan. Ada proses koordinasi satelit agar sistem yang dibangun kompatibel dengan sistem lain dan tidak menimbulkan interferensi. Itu membutuhkan waktu," ujarnya.

Jadwal Peluncuran dan Operator Terlibat

Adis juga menjelaskan bahwa sesuai dengan ketentuan ITU, terdapat periode regulasi sekitar tujuh tahun dari pengajuan hingga peluncuran satelit. Oleh karena itu, meskipun proses administrasi sudah berjalan, operator Indonesia tidak akan meluncurkan satelit LEO dalam waktu dekat. "Kalau tahun ini belum. Prosesnya memang membutuhkan waktu karena ada tahapan koordinasi internasional," tambahnya.

Walaupun demikian, ia memastikan bahwa ada operator nasional yang sedang mengembangkan rencana tersebut. Saat ditanya mengenai siapa operator tersebut, Adis menyebutkan bahwa pengajuan berasal dari operator satelit domestik seperti PSN dan Telkomsat. Namun, ia tidak memberikan informasi lebih lanjut mengenai target peluncurannya dan menyarankan agar pertanyaan tersebut diajukan langsung kepada masing-masing operator.

Adis juga mengklarifikasi bahwa satelit LEO tidak identik dengan layanan Starlink. Ia menjelaskan bahwa LEO adalah istilah untuk orbit satelit yang berada pada ketinggian sekitar 300 hingga 2.000 kilometer dari permukaan Bumi. "Kita sering mempersepsikan LEO itu seolah hanya Starlink. Padahal LEO adalah jenis orbit, dan Indonesia sebenarnya sudah memiliki satelit yang berada di orbit rendah," ungkapnya.

Ia berharap semakin banyak operator nasional yang memanfaatkan orbit rendah untuk mengembangkan layanan satelit di masa depan, sehingga Indonesia tidak hanya menjadi pengguna, tetapi juga dapat berperan lebih besar dalam industri satelit global.

Artikel Terkait