Kemajuan olahraga golf terlihat jelas, terutama jika dibandingkan dengan akhir tahun 1990-an ketika harga satu set stik golf setara dengan uang muka untuk rumah tipe 36. Saat ini, golf semakin inklusif dan mulai diminati oleh masyarakat dari berbagai latar belakang, tidak lagi terbatas pada kalangan elit.
Martina Harianda Mutis, Senior General Manager Brand Marketing & Consumer Engagement PT MAP Aktif Adiperkasa, menyatakan, “Kalau saya boleh bicara di akhir 90-an, kalau orang mau main golf itu beli golf stick-nya sama seperti rumah KPR tipe 36. Tapi sekarang golf itu lebih murah dan lebih mudah.” Menurutnya, perubahan ini membuat olahraga golf lebih terbuka bagi mereka yang sebelumnya menganggap bahwa bermain golf memerlukan biaya yang besar.
Inklusivitas dalam Olahraga Golf
Hal serupa juga diungkapkan oleh Ashok Kumar, AVP Golf House Indonesia PT MAP Aktif Adiperkasa. Ia menambahkan bahwa inklusivitas golf tidak hanya terlihat dari aspek gender dan usia, tetapi juga dari beragamnya latar belakang ekonomi para pemain. “Bukan cuma cowok-cewek, bukan cuma anak-anak, tapi kelas menengah C, D, E juga kayaknya sudah mulai kenal golf,” ujarnya.
Dengan meningkatnya minat masyarakat terhadap golf, pelaku industri memiliki peluang untuk menyediakan berbagai pilihan perlengkapan yang lebih bervariasi, terutama bagi pemula. Golf House, misalnya, menawarkan paket perlengkapan khusus untuk pemula dengan harga yang lebih terjangkau, termasuk set golf yang mencakup perlengkapan dasar seperti sarung tangan.
Strategi untuk Menarik Pemain Baru
“Beginner itu harusnya dia mencoba dulu, baru dia tahu kekurangannya apa. Jadi kami tidak mengusulkan kalau ada beginner langsung beli set yang harga Rp 100 juta,” jelas Ashok. Filosofi ini menekankan pentingnya memulai dengan perlengkapan yang lebih sederhana sebelum berinvestasi lebih besar setelah mendapatkan pengalaman bermain.
Golf House juga menerapkan program tukar tambah atau trade in untuk mempermudah akses ke perlengkapan golf. Menariknya, perlengkapan yang ditukarkan tidak harus dalam kondisi sempurna untuk mendapatkan potongan harga. “Walaupun patah, bekas, kita kasih special discount. Tujuannya adalah untuk menarik mereka untuk start,” tambah Ashok.
Selain itu, berbagai program promosi juga disiapkan untuk mendukung pertumbuhan jumlah pemain, termasuk program buy one get one free dan area bazar dengan produk dari koleksi tahun sebelumnya yang ditawarkan dengan harga lebih terjangkau.
Menurut Ashok, pertumbuhan jumlah pemain sangat penting bagi industri golf. Semakin banyak orang yang mengenal dan memainkan golf, semakin besar pula pasar yang dapat berkembang. Namun, kondisi ekonomi juga menjadi tantangan, di mana masyarakat menjadi lebih selektif dalam membeli barang.
Golf House berusaha memahami kebutuhan konsumen sebelum mendorong mereka untuk membeli produk baru. “Ada kelas yang namanya ‘I want’, saya maunya ini. Ada kelas yang ‘I need’,” jelasnya. Dalam konteks golf, beberapa perlengkapan termasuk dalam kategori kebutuhan yang harus digunakan dan diganti secara berkala, seperti bola golf dan sarung tangan.
Strategi Golf House saat ini lebih berfokus pada pemenuhan kebutuhan utama pemain. “Untuk pada saat begini yang kita fokuskan adalah ‘what I need’,” ungkap Ashok. Pendekatan ini menunjukkan bahwa perkembangan golf tidak hanya bergantung pada penjualan perlengkapan premium, tetapi juga pada aksesibilitas bagi semua kalangan.