Teknologi

Gibran: Indonesia Harus Menguasai Teknologi AI, Bukan Hanya Menggunakan

Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka menekankan pentingnya Indonesia untuk menjadi penguasa teknologi kecerdasan buatan (AI) dan tidak hanya sekadar pengguna. Ia percaya bahwa generasi muda harus mem...

D
Danendra Surya
17 June 2026 9 pembaca
Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka dorong Indonesia harus menguasai teknologi AI. Foto: Screenshot Instagram gibran_rakabuming
Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka dorong Indonesia harus menguasai teknologi AI. Foto: Screenshot Instagram gibran_rakabuming

Jakarta - Gibran Rakabuming Raka, Wakil Presiden Indonesia, menegaskan bahwa negara ini tidak seharusnya hanya menjadi pengguna teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI). Menurutnya, Indonesia harus berperan aktif dan menjadi penguasa dalam bidang teknologi yang berkembang pesat ini. Dalam sebuah unggahan di akun Instagramnya, Gibran menyatakan bahwa AI bukan lagi sekadar teknologi masa depan, melainkan telah menjadi bagian integral dari kehidupan sehari-hari.

“Dalam beberapa kesempatan, saya sering menyampaikan bahwa AI bukan lagi masa depan. AI adalah hari ini. Kita tidak bisa lagi menutup mata atau sekadar menjadi penonton. Kita harus menjadi pemain, kita harus menjadi penguasa teknologi tersebut,” ungkap Gibran.

Peluang untuk Generasi Muda

Pernyataan Gibran ini disampaikan di tengah pesatnya perkembangan AI di seluruh dunia yang mulai memengaruhi berbagai sektor, seperti pendidikan, industri kreatif, dan dunia kerja. Ia menambahkan bahwa perkembangan ini harus dilihat sebagai peluang bagi Indonesia untuk mengejar ketertinggalan dan meningkatkan daya saing bangsa.

Gibran berpendapat bahwa generasi muda Indonesia memiliki kesempatan besar untuk memanfaatkan AI, mengingat banyak teknologi canggih yang kini tersedia secara terbuka atau open source. “Kabar baiknya, banyak sekali teknologi AI canggih yang sekarang sifatnya open source. Ilmu gratis, kodenya terbuka, bisa diakses siapa saja. Ini kesempatan emas bagi talenta berbakat Indonesia,” jelasnya.

Pentingnya Etika dalam Penggunaan AI

Oleh karena itu, Gibran mengajak para pelajar untuk tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga memahami cara kerja serta memanfaatkannya untuk meningkatkan kemampuan diri. Menurutnya, AI dapat membantu dalam proses belajar, mencari informasi, memahami bahasa asing, dan menyederhanakan materi pelajaran yang kompleks.

Meski demikian, ia mengingatkan bahwa penguasaan AI harus disertai dengan kemampuan berpikir kritis. “Gunakan AI untuk memicu kreativitas, bukan untuk menggantikan kemampuan berpikir kalian sendiri,” imbaunya.

Gibran juga menyoroti pentingnya etika dalam pemanfaatan AI. Ia menegaskan bahwa meskipun teknologi ini dapat memberikan manfaat besar, ada juga potensi penyalahgunaan untuk menyebarkan informasi palsu, melakukan plagiarisme, dan melanggar privasi. “Teknologi tanpa etika itu berbahaya. AI bisa digunakan untuk membuat konten positif, tapi juga bisa dipakai untuk menyebar hoax, melakukan plagiarisme, atau melanggar privasi orang lain,” tegasnya.

Gibran menekankan bahwa penguasaan teknologi dan penerapan etika harus berjalan beriringan jika Indonesia ingin mewujudkan visi Indonesia Emas 2045. “Di tangan yang menguasai teknologi, Indonesia Emas 2045 bukan lagi sekadar impian, tetapi sebuah kepastian,” pungkasnya.

Artikel Terkait