Tiga tahun lalu, Alya, seorang wanita berusia 24 tahun, merasa terpaksa untuk membeli berbagai pakaian yang sedang viral di TikTok. Setiap kali ada tren baru, seperti cardigan rajut, rok satin, atau sneakers yang dikenakan oleh para influencer, ia merasa harus segera memiliki barang-barang tersebut. "Bahkan pernah aku beli cardigan yang modelnya hampir sama dengan yang sudah ada di lemari. Alasannya cuma karena semua orang lagi pakai itu," ungkap Alya. Namun, setelah beberapa waktu, ia menyadari bahwa kepuasan dari mengikuti tren tersebut tidak bertahan lama, dan banyak pakaian yang hanya tersimpan di lemari. Saat ini, Alya telah mengubah cara belanjanya dengan memberikan jeda waktu antara dua minggu hingga satu bulan sebelum memutuskan untuk membeli barang-barang yang sedang viral. Jika setelah waktu tersebut keinginannya masih ada dan barang tersebut memang dibutuhkan, baru ia mempertimbangkan untuk membeli.
Alya bukan satu-satunya yang merasakan perubahan ini. Di tengah derasnya konten di media sosial yang mempromosikan berbagai produk, banyak anak muda yang mulai merasa lelah mengikuti setiap tren. Mereka tetap menikmati media sosial, tetapi tidak lagi merasa perlu memiliki semua barang yang sedang viral. Fenomena ini dikenal dengan istilah Joy of Missing Out (JOMO), yang menggambarkan perasaan nyaman saat memilih untuk tidak mengikuti semua tren atau aktivitas yang sedang populer. Berbeda dengan Fear of Missing Out (FOMO), yang menciptakan rasa takut tertinggal, JOMO justru menekankan kebebasan untuk memilih sesuai dengan kebutuhan dan nilai pribadi.
FOMO dan Dampaknya di Era Digital
Psikolog Meity Arianty menjelaskan bahwa FOMO muncul karena paparan terus-menerus dari kehidupan orang lain melalui media sosial, yang sering kali menampilkan momen-momen terbaik. Hal ini mendorong individu untuk membandingkan diri mereka dengan orang lain, sehingga muncul rasa takut tertinggal dari kelompok sosial. "Secara psikologis, paparan visual yang terus-menerus ini memperdaya otak untuk mempersepsikan bahwa orang lain hidup lebih menyenangkan," jelasnya. Akibatnya, individu merasa perlu untuk melakukan berbagai cara agar dianggap tidak berbeda dan tetap relevan.
Meity menambahkan bahwa FOMO bukan hanya berkaitan dengan membeli barang, tetapi juga mencakup kebutuhan untuk diterima dan mendapatkan validasi sosial. Keputusan untuk membeli sering kali tidak didasarkan pada kebutuhan nyata, melainkan dorongan untuk mengikuti apa yang sedang populer. Jika hal ini terus berlangsung, dapat memicu kecemasan kronis, menurunkan rasa percaya diri, dan menyebabkan kelelahan mental.
Ketenangan dalam Memilih untuk Tidak Terlibat
Di sisi lain, semakin banyak anak muda yang merasakan ketenangan dengan tidak mengikuti semua tren. Dimas, seorang desainer grafis berusia 25 tahun, mengaku bahwa sebelumnya ia rutin membeli sneakers atau kaus yang sedang viral karena takut kehabisan atau dianggap tidak mengikuti perkembangan tren. "Kalau lihat teman upload sepatu baru, rasanya aku juga harus punya. Padahal setelah dipikir lagi, belum tentu aku benar-benar suka modelnya," ungkap Dimas. Saat ini, ia hanya membeli pakaian atau sepatu yang benar-benar diperlukan dan lebih memilih produk berkualitas yang dapat digunakan dalam jangka panjang.
Meity menjelaskan bahwa perasaan tenang ini merupakan bagian dari JOMO. "Ketika seseorang berhenti mengejar semua tren, energi kognitif yang sebelumnya habis untuk mencari validasi dari luar kembali kepada dirinya sendiri," ujarnya. Hal ini membantu mengurangi stres dan menghadirkan rasa puas karena individu merasa memiliki kontrol atas pilihan hidupnya.
Meski demikian, sosiolog dari Universitas Sebelas Maret, Prof. Dr. Drajat Tri Kartono, mengingatkan bahwa JOMO tidak bisa dilihat hanya sebagai kebalikan dari FOMO. Menurutnya, baik FOMO maupun JOMO berkaitan dengan cara seseorang membangun identitas di masyarakat. Dalam budaya konsumsi modern, barang tidak hanya memiliki nilai guna, tetapi juga menjadi simbol status dan gaya hidup. Ketika seseorang memilih untuk tidak mengikuti tren, pilihan tersebut juga dapat menjadi cara untuk menunjukkan identitas yang berbeda.
Co-Founder diNADI, Iwan Junaedi, menilai bahwa konsumen muda saat ini memiliki akses informasi yang lebih luas, sehingga mereka lebih rasional dalam berbelanja. "Tren seperti de-influencing, anti-haul, hingga JOMO tidak selalu menjadi ancaman bagi pelaku usaha," katanya. Menurutnya, hal ini sejalan dengan misi mereka untuk menghadirkan produk berkualitas dan terjangkau.
Munculnya JOMO tidak menandakan berakhirnya FOMO. Beberapa orang mungkin masih terdorong untuk mengikuti tren, sementara yang lain mulai lebih nyaman memilih berdasarkan kebutuhan dan nilai yang dianggap penting. Bagi sebagian Gen Z, keberanian untuk melewatkan tren kini menjadi bentuk kebebasan baru, mendefinisikan ulang apa arti "cukup" dan "keren". Bukan lagi tentang siapa yang paling cepat mengikuti tren, tetapi siapa yang mampu memilih mana yang benar-benar bernilai bagi dirinya.