Kesehatan

Fenomena "Iyup" di Kalangan Gen Z dan Penjelasan Dokter Gigi

Fenomena "iyup" yang populer di kalangan Gen Z terkait dengan penggunaan behel, mendapat penjelasan dari dokter gigi mengenai kondisi mulut yang sebenarnya terjadi.

M
Muhammad Rizki Ramadhan
04 September 2026 45 pembaca
Fenomena "Iyup" di Kalangan Gen Z dan Penjelasan Dokter Gigi
Sumber gambar: lifestyle.kompas.com

Pemakaian behel dapat memengaruhi penampilan senyum seseorang karena alat ortodonti tersebut mengubah posisi bibir di dalam rongga mulut. Banyak pengguna media sosial yang menyebut tampilan bibir yang sedikit maju saat menggunakan behel sebagai “iyup moment”, istilah yang kini banyak dikenal di kalangan Gen Z dan menjadi bagian dari tren behel yang semakin populer. Dokter gigi Kurnia Dwi Wulan menjelaskan bahwa perubahan posisi bibir ini merupakan respons alami tubuh dan tidak menunjukkan adanya masalah serius pada gigi atau rahang.

Penyebab Posisi Bibir yang Berubah

Kurnia menyatakan bahwa perubahan posisi bibir terjadi karena adanya behel di dalam mulut. Tubuh secara otomatis menyesuaikan agar bibir tetap dapat menutup mulut meskipun terdapat alat ortodonti. “Sebenarnya kalau istilah iyup itu kan kondisi pada saat kita pakai behel gitu kan. Karena ada sesuatu alat di dalam rongga mulut, otomatis kan bibir kan menyesuaikan,” ungkap Kurnia saat pembukaan Mayapada Dental Care di Jakarta Timur.

Ia menambahkan bahwa posisi bibir yang menyesuaikan dengan behel juga berfungsi untuk mencegah rasa sakit akibat gesekan. Jika bibir tidak mengikuti posisi behel, bagian dalam bibir dapat langsung bersentuhan dengan alat tersebut, yang dapat menyebabkan ketidaknyamanan. “Bahkan kalau misalkan kita enggak dimajukan gitu ya, bibir atasnya otomatis kan kena alat itu dan pasti sakit. Jadi makanya rentan sariawan,” imbuhnya. Penjelasan ini menunjukkan bahwa tampilan “iyup” tidak selalu berarti ada gangguan pada gigi atau rahang, melainkan merupakan refleks tubuh saat beradaptasi dengan behel.

Pentingnya Pemeriksaan Gigi Sejak Dini

Kurnia juga mengingatkan agar penggunaan behel tidak hanya mengikuti tren, tetapi juga harus memperhatikan kondisi pertumbuhan gigi sejak dini. Pemeriksaan awal dapat membantu dokter gigi dalam mengenali pola pertumbuhan yang dapat menyebabkan gigi berdesakan. “Tapi kalau misalkan tadi yang dokter Rizki sampaikan bahwa memang kalau ada terjadi gigi berdesakan, harusnya dari awal,” jelasnya.

Dokter gigi dapat mengidentifikasi kemungkinan tersebut melalui pola tertentu dalam pertumbuhan gigi. “Jadi kita tahu nih sebagai dokter gigi, oh ini anak ini nantinya akan jadinya berdesakan. Kenapa kok dokter gigi bisa tahu? Karena ada pola-pola khususnya yang menandakan bahwa 'oh ini nantinya giginya akan jadi berdesakan',” tambah Kurnia.

Dokter gigi juga dapat merencanakan langkah-langkah preventif untuk mengatasi masalah tersebut. “Jadi ada rangka preventifnya dengan apa? dengan behel lepasan,” katanya. Kurnia menjelaskan bahwa behel lepasan dapat membantu proses pelebaran rahang jika perawatan dilakukan sejak dini, sehingga mempersiapkan kondisi rahang sebelum seseorang mencapai usia dewasa. Perawatan awal ini juga dapat mengurangi kemungkinan seseorang memerlukan perawatan behel cekat di kemudian hari.

Kurnia mengamati bahwa tren penggunaan behel cekat mendapat perhatian besar dari Gen Z, karena gigi merupakan bagian wajah yang terlihat jelas saat berbicara. “Kenapa harus ada perawatan behel satu? Karena kita kan otomatis, semua orang pasti merasa di muka itu kan point centernya, apalagi orang kalau mau ngomong pasti lihatnya ke gigi dan segala macamnya,” ujarnya. “Makanya tren behel satu ini juga pasti digandungi para Gen Z,” tambahnya. Namun, penggunaan behel tetap harus mempertimbangkan kebutuhan perawatan yang tepat. Pemeriksaan awal dapat membantu dokter gigi dalam mengenali potensi gigi berdesakan dan menentukan langkah perawatan yang sesuai.

Artikel Terkait