Lifestyle

Empat Faktor Penyebab Insomnia yang Sering Dialami Wanita Usia 30-an Akhir

Banyak wanita di usia akhir 30-an mengalami kesulitan tidur yang berkualitas, yang disebabkan oleh berbagai faktor hormonal dan stres. Hal ini membuat mereka lebih rentan terhadap masalah tidur diband...

A
Ahmad Fauzan
11 August 2026 49 pembaca
Empat Faktor Penyebab Insomnia yang Sering Dialami Wanita Usia 30-an Akhir
Sumber gambar: lifestyle.kompas.com

Sejumlah wanita yang telah mencapai usia akhir 30-an sering kali merasa bahwa mendapatkan tidur malam yang berkualitas adalah hal yang sulit dicapai. Berbeda dengan masa lalu ketika mereka dapat tidur di mana saja dengan mudah, kini rutinitas malam yang teratur pun tidak selalu menjamin mereka bisa terlelap. Penelitian menunjukkan bahwa wanita lebih rentan mengalami insomnia dibandingkan pria, dengan risiko dua kali lipat untuk terbangun dengan perasaan tidak segar.

Menurut Saema Tahir, MD, seorang spesialis kedokteran tidur yang berbasis di New York, fluktuasi hormon seks seperti estrogen dan progesteron berkontribusi pada masalah ini, yang dimulai sejak masa pubertas dan berlanjut hingga usia dewasa. "Fenomena ini terjadi akibat fluktuasi hormon seks estrogen dan progesteron, mulai sedini masa pubertas dan hingga akhir waktu," jelasnya.

Fase Pascapersalinan dan Tantangan Pengasuhan Anak

Masa kehamilan memang penuh tantangan, tetapi fase setelah melahirkan sering kali lebih melelahkan. Pada periode ini, tubuh mengalami perubahan besar dengan penurunan kadar estrogen dan progesteron secara drastis. "Estrogen membantu menstabilkan tidur kita, meningkatkan tidur nyenyak dan fase tidur dengan gerakan mata cepat, serta berperan dalam mengatur ritme sirkadian kita," tambah dr. Tahir. Penurunan hormon penenang alami ini dapat menyebabkan kecemasan yang lebih tinggi di malam hari.

Psikolog klinis Shelby Harris, PsyD, DBSM, juga menyatakan bahwa ibu sering kali menjadi lebih peka terhadap lingkungan demi menjaga anak mereka, sehingga sulit untuk mendapatkan tidur yang nyenyak.

Menghadapi Perimenopause dan Stres Hidup

Perimenopause, fase transisi menuju menopause, dapat dimulai lebih awal, bahkan di pertengahan usia 30-an. Selama periode ini, kadar hormon mengalami fluktuasi yang signifikan, yang dapat memicu gejala insomnia sebelum munculnya gejala fisik lainnya. Selain itu, perubahan suasana hati dapat menyebabkan pikiran yang terus-menerus berputar, meningkatkan risiko masalah tidur seperti henti napas saat tidur dan sindrom kaki gelisah.

Di sisi lain, banyak wanita di usia ini juga menghadapi tekanan hidup yang tinggi, seperti merawat anak kecil dan orang tua yang menua, serta tuntutan karier yang meningkat. Stres yang berkepanjangan dapat membuat hormon stres seperti kortisol dan adrenalin tetap tinggi, sehingga tubuh tetap dalam keadaan siaga saat seharusnya bersantai.

Langkah-Langkah untuk Memperbaiki Pola Tidur

Untuk mengatasi masalah tidur ini, ada beberapa langkah yang dapat diambil. Salah satunya adalah meminta bantuan pasangan dalam membagi tugas pengasuhan anak agar durasi tidur tidak terputus minimal empat jam. Selain itu, penting untuk menjaga kebiasaan tidur yang baik, seperti menjaga suhu kamar tetap sejuk, membatasi tidur siang dan konsumsi kafein, serta menghindari alkohol.

Jika semua usaha tersebut tidak membuahkan hasil yang diharapkan, disarankan untuk berkonsultasi dengan dokter guna evaluasi lebih lanjut atau mempertimbangkan terapi hormon. Mengabaikan masalah tidur ini tidak hanya dapat memengaruhi kesehatan fisik, tetapi juga mempercepat penuaan otak dan meningkatkan risiko penyakit jantung. "Mendapatkan penanganan medis yang tepat sangatlah penting karena dapat menyelamatkan hidupmu, bukan hanya dalam hal metrik kesehatan. Itu dapat membuatmu merasa seperti dirimu sendiri lagi," tutup dr. Tahir.

Artikel Terkait