Lifestyle

Durasi Penggunaan Media Sosial Lebih dari 2,5 Jam Dapat Memicu Depresi

Sebuah penelitian menunjukkan adanya hubungan signifikan antara lama penggunaan media sosial dan risiko depresi pada orang dewasa, terutama setelah lebih dari 2,5 jam per hari.

D
Danendra Surya
29 August 2026 54 pembaca
Durasi Penggunaan Media Sosial Lebih dari 2,5 Jam Dapat Memicu Depresi
Sumber gambar: lifestyle.kompas.com

Sebuah penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal npj Mental Health Research mengungkapkan adanya keterkaitan antara lama waktu penggunaan media sosial dan depresi di kalangan orang dewasa. Penelitian ini menganalisis data dari lebih dari 180.000 orang dewasa di Amerika Serikat selama lebih dari sepuluh tahun.

Para peneliti menemukan bahwa hubungan antara penggunaan media sosial dan depresi menjadi lebih jelas setelah individu menghabiskan sekitar 150 menit atau 2,5 jam dalam sehari untuk berselancar di media sosial.

Detail Penelitian yang Dilakukan

Penelitian ini dilakukan oleh tim peneliti dari University of Cincinnati dan Northwestern University, yang menganalisis sebelas survei tahunan yang melibatkan sekitar 183.000 orang dewasa berusia antara 18 hingga 70 tahun. Data dikumpulkan dalam rentang waktu dari tahun 2014 hingga 2024 melalui Media Behaviors and Influence Study.

Survei tersebut dirancang untuk mengeksplorasi berbagai aspek kesehatan, termasuk kesehatan mental dan kebiasaan penggunaan media. Responden diminta untuk melaporkan penggunaan media sosial serta aktivitas lain seperti bermain game dan menonton televisi, serta perasaan sedih dan gejala depresi yang mereka alami. Para peneliti kemudian menerapkan model pembelajaran mesin untuk menganalisis data dan mengidentifikasi pola yang berkaitan dengan tingkat depresi.

Temuan Utama dari Penelitian

Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan media sosial tidak langsung menjadi prediktor kuat terhadap depresi pada durasi yang lebih rendah. Pola ini mulai terlihat ketika penggunaan media sosial mencapai sekitar 150 menit atau 2,5 jam setiap harinya. Setelah melewati batas waktu tersebut, penggunaan media sosial yang lebih lama berhubungan dengan kemungkinan yang lebih tinggi untuk melaporkan depresi.

Para peneliti memperkirakan bahwa setiap penambahan satu jam penggunaan media sosial setelah ambang tersebut berhubungan dengan peningkatan sekitar 17 persen dalam kemungkinan depresi yang dilaporkan. Hubungan ini tetap terlihat meskipun peneliti mempertimbangkan faktor-faktor seperti usia, pendapatan, pendidikan, dan jenis kelamin. Temuan ini juga konsisten selama periode penelitian, termasuk saat data yang diambil dari masa pandemi Covid-19 dikeluarkan dari analisis.

Pentingnya Memahami Perubahan Fungsi Media Sosial

Nicole Vike, peneliti senior di University of Cincinnati dan salah satu penulis studi ini, menyatakan bahwa fungsi media sosial telah berubah. "Awalnya, media sosial digunakan sebagai sarana untuk berinteraksi dengan orang-orang yang dikenal. Namun kini, penggunaan media sosial lebih banyak berfokus pada konsumsi konten dari orang-orang yang tidak dikenal," jelas Vike.

Ia juga menyoroti bahwa penggunaan media sosial dapat menjadi sulit untuk dikendalikan. "Perhatikan para kreator konten yang sering kali harus mengambil jeda berbulan-bulan dari dunia maya demi menjaga kesehatan mental mereka," tambahnya. Perubahan dari interaksi sosial menjadi konsumsi konten yang terus-menerus dianggap penting untuk memahami kebiasaan penggunaan media sosial saat ini.

Meskipun penelitian ini menemukan pola yang konsisten, penting untuk dicatat bahwa penelitian ini tidak membuktikan bahwa penggunaan media sosial secara langsung menyebabkan depresi. Para peneliti menekankan bahwa studi ini menunjukkan adanya korelasi antara kedua hal tersebut. Oleh karena itu, belum dapat dipastikan apakah penggunaan media sosial yang berlebihan meningkatkan risiko depresi, atau justru orang dengan masalah kesehatan mental cenderung lebih banyak menggunakan media sosial.

Penelitian ini juga memiliki beberapa keterbatasan, termasuk tidak mengikuti individu yang sama dari waktu ke waktu untuk mengamati perubahan dalam penggunaan media sosial dan kondisi depresi mereka. Selain itu, kategori "penggunaan media sosial" tidak dibedakan berdasarkan aktivitas yang dilakukan, sehingga tidak ada pemisahan antara kebiasaan menggulir konten tanpa tujuan dan berinteraksi dengan teman.

Martin Block, penulis utama dan profesor emeritus di Northwestern University, menyebut temuan ini sebagai peringatan untuk lebih memperhatikan dampak media sosial. "Media sosial memiliki dampak negatif yang signifikan terkait dengan depresi, sama halnya dengan mobil yang berkaitan dengan cedera akibat kecelakaan dan polusi," ungkap Block. Meskipun temuan ini tidak menetapkan batas penggunaan media sosial yang aman bagi semua orang, penelitian ini menunjukkan bahwa durasi penggunaan yang melebihi 2,5 jam sehari patut menjadi perhatian, terutama jika kebiasaan tersebut mulai mengganggu keseharian dan suasana hati.

Artikel Terkait