Kesehatan

Dampak Sparkling Water Terhadap Kesehatan Gigi

Penelitian terbaru menunjukkan bahwa sparkling water dapat menurunkan pH mulut, namun tidak seberbahaya soda. Peneliti menyarankan agar sparkling water tanpa pemanis bisa menjadi alternatif yang lebih...

A
Aisyah Nur Hidayah
01 September 2026 38 pembaca
Dampak Sparkling Water Terhadap Kesehatan Gigi
Sumber gambar: lifestyle.kompas.com

KOMPAS.com - Apakah Anda tahu bahwa enamel gigi dapat mulai terkikis ketika pH di dalam mulut turun di bawah 5,5? Penelitian terbaru mengungkapkan bahwa sparkling water dapat menurunkan pH mulut untuk sementara. Namun, seperti yang dilaporkan oleh Science Daily, efek penurunan keasaman ini tidak sekuat kerusakan yang disebabkan oleh soda.

"Banyak orang saat ini beralih dari soda ke sparkling water," kata Wajiha Zulfiqar, seorang Mahasiswa Pascasarjana Ilmu Gizi di Purdue University. "Temuan kami menunjukkan bahwa sparkling water tanpa pemanis dapat menjadi alternatif dengan risiko lebih rendah dibandingkan soda, asalkan dikonsumsi dalam jumlah wajar dan dibarengi dengan praktik kebersihan mulut yang baik," tambahnya.

Memahami Efek Sparkling Water Terhadap Mulut

Zulfiqar mempresentasikan hasil penelitian ini pada NUTRITION 2026, sebuah konferensi tahunan yang diselenggarakan oleh American Society for Nutrition di National Harbor, Maryland, AS, pada 25 hingga 28 Juli. Penelitian sebelumnya telah menunjukkan bahwa soda dengan pemanis gula dapat menyebabkan erosi gigi dengan menurunkan pH mulut di bawah 5,5. Namun, informasi mengenai pengaruh sparkling water tanpa pemanis terhadap keasaman mulut masih sangat terbatas.

Untuk menyelidiki hal ini, peneliti melakukan pengujian terhadap soda manis, sparkling water biasa, sparkling water yang diperkaya kalsium, serta air putih pada 20 orang dewasa. Setiap peserta mengonsumsi semua jenis minuman tersebut secara bergantian untuk meminimalkan perbedaan respons individu. Peneliti memilih untuk mengukur pH air liur daripada hanya mengandalkan keasaman minuman, sehingga mereka dapat mengamati respons mulut secara akurat setelah setiap minuman dikonsumsi.

"Membandingkan berbagai minuman secara langsung menggunakan kerangka eksperimen yang sama memungkinkan kami mengevaluasi efek sparkling water terhadap soda sebagai minuman berisiko tinggi, serta air putih sebagai referensi netral," jelas Zulfiqar. "Dengan mengukur bagaimana mulut merespons secara waktu nyata, studi kami memberikan pemahaman yang lebih realistis tentang dampaknya pada kesehatan mulut," lanjutnya.

Reaksi Air Liur Berdasarkan Jenis Minuman

Dari semua minuman yang diuji, soda menyebabkan penurunan pH air liur yang paling signifikan. pH air liur peserta jauh lebih rendah setelah mengonsumsi soda dibandingkan dengan air putih, baik pada menit kedua maupun ke-20. Sementara itu, sparkling water biasa menyebabkan penurunan pH air liur sementara pada menit kedua, sedangkan sparkling water yang diperkaya kalsium menunjukkan efek serupa pada menit kelima. Kedua jenis sparkling water ini dapat mengembalikan pH mulut mendekati tingkat awal dalam waktu 20 menit.

Air liur juga terbukti membantu mengembalikan tingkat keasaman normal mulut setelah peserta mengonsumsi soda maupun sparkling water. Dalam jangka pendek, pH tetap di atas ambang batas yang sering dikaitkan dengan kerusakan enamel. Namun, para peneliti mengingatkan bahwa penelitian ini hanya mengukur perubahan singkat pada pH air liur. Dalam kehidupan sehari-hari, kemungkinan terjadinya erosi gigi bergantung pada seberapa sering seseorang mengonsumsi minuman tersebut, durasi paparan gigi, serta kandungan gula dalam minuman.

"Hasil penelitian kami menunjukkan bahwa mengganti soda manis dengan sparkling water tanpa pemanis dapat membantu menurunkan risiko pengikisan enamel," ungkap Zulfiqar. "Hasil ini juga menunjukkan peluang bagi industri minuman untuk mengeksplorasi strategi reformulasi yang dapat mengurangi potensi kerusakan akibat minuman asam," tambahnya.

Ke depan, tim peneliti berencana untuk menyelidiki lebih lanjut efek jangka panjang dari konsumsi sparkling water terhadap kesehatan mulut. Penelitian mendatang diharapkan dapat menentukan apakah jenis minuman ini dapat memengaruhi aspek lain dalam rongga mulut yang berdampak pada kesehatan gigi dan gusi.

Perlu dicatat bahwa abstrak penelitian yang dipresentasikan di NUTRITION 2026 telah melalui proses peninjauan oleh komite ahli, meskipun sebagian besar belum melalui tinjauan sejawat penuh untuk publikasi di jurnal ilmiah. Oleh karena itu, temuan ini sebaiknya dianggap sebagai hasil awal hingga resmi diterbitkan dalam publikasi ilmiah.

Artikel Terkait