Empeng, atau pacifier, merupakan alat yang umum digunakan oleh orangtua untuk menenangkan bayi yang rewel. Benda ini sering diberikan kepada anak saat tidur agar mereka merasa lebih nyaman. Ketika anak sudah terbiasa, empeng sering kali menjadi bagian dari rutinitas harian mereka. Namun, kebiasaan ini sebaiknya tidak dibiarkan berlangsung terlalu lama, karena proses untuk menghentikannya bisa menjadi semakin sulit.
Pengaruh Empeng Terhadap Gigi dan Rahang
Dokter spesialis gigi anak, drg. Herawati Kusuma, Sp.KGA, menekankan pentingnya memperhatikan penggunaan empeng, karena dampaknya tidak hanya terbatas pada gigi, tetapi juga dapat memengaruhi rahang anak. "Efeknya bukan hanya di gigi aja nih, efeknya nanti di rahang juga," ungkapnya dalam sebuah acara peluncuran Mayapada Dental Care (MDC) di Mayapada Hospital Jakarta Timur.
Ia menjelaskan bahwa kebiasaan menggunakan empeng dapat menyebabkan posisi gigi anak menjadi lebih maju ke depan, dan rahang juga dapat berkembang ke arah yang sama. "Rahang, giginya bisa posisinya lebih ke depan, rahangnya juga ke depan," tambahnya. Oleh karena itu, orangtua perlu mempertimbangkan durasi penggunaan empeng agar tidak menjadi kebiasaan yang berkepanjangan.
Waktu yang Tepat untuk Menghentikan Penggunaan Empeng
Herawati mengakui bahwa empeng dapat memberikan rasa aman dan nyaman bagi anak, namun jika dibiarkan terlalu lama, bisa membuat proses penghentian penggunaannya menjadi lebih sulit. "Empeng itu kan memang membuat kebiasaan ya, dan itu membuat rasa aman nyaman di anak," jelasnya. Ia merekomendasikan agar orangtua mulai menghentikan penggunaan empeng sebelum anak mencapai usia satu tahun. "Nah, kalau bisa misalkan sekarang masih pakai empeng, kalau bisa sebelum satu tahun berhenti," sarannya.
Proses menghentikan penggunaan empeng berkaitan dengan membiasakan anak untuk menemukan cara lain untuk merasa nyaman. "Itu sebetulnya hanya pembiasaan aja sih," tuturnya.
Alternatif untuk Menenangkan Anak
Ketika empeng biasanya digunakan untuk membantu anak tidur, orangtua dapat mencoba memberikan kenyamanan dengan cara lain yang tidak melibatkan benda yang dimasukkan ke dalam mulut. "Kalau misalkan tidurnya jadi enggak susah tidur nih anak, mungkin kita pakai cara lain, asal jangan sesuatu yang ditaruh di mulutnya," saran Herawati. Orangtua bisa menemani anak sebelum tidur dengan berbicara, bercerita, atau memberikan pelukan sebagai alternatif rutinitas baru. "Jadi bisa bercerita atau bisa dipeluk seperti itu," imbuhnya.
Selain itu, kebiasaan mengisap jempol juga perlu diperhatikan dan sebaiknya dihentikan jika sudah muncul sejak awal. "Kemudian kebiasaan menghisap jempol itu juga, kalau awal-awal sudah sebaiknya segera dicoba dihentikan seperti itu," pesan Herawati.