Merokok tidak hanya berdampak pada kesehatan paru-paru, tetapi juga dapat memengaruhi suara seseorang. Paparan asap rokok yang terus-menerus dapat mengiritasi pita suara, menyebabkan pembengkakan, dan mengubah cara pita suara bergetar. Hal ini dapat membuat suara terdengar lebih berat, serak, atau bahkan kehilangan kemampuan untuk mencapai nada tinggi.
Penjelasan Pita Suara oleh Dokter THT
Dr. Rohit Udaya Prasad, seorang konsultan senior di bidang THT dan Implan Koklea di KIMS Hospitals Bengaluru, menjelaskan bahwa pita suara terdiri dari dua jaringan yang terletak di dalam laring atau kotak suara. “Pita suara merupakan dua pita jaringan di dalam kotak suara atau laring. Pita tersebut bergetar ketika udara melewatinya untuk menghasilkan suara,” ungkap Dr. Prasad.
Ketika seseorang merokok, asap tembakau yang dihirup akan melewati jaringan pita suara. Berbagai zat kimia yang terdapat dalam asap rokok dapat menyebabkan iritasi, peradangan, dan pembengkakan, serta meningkatkan produksi lendir. Jika paparan ini terjadi secara berulang, maka dapat mengubah struktur dan fungsi pita suara.
Perubahan Suara Akibat Merokok
Dr. Prasad menekankan bahwa suara yang lebih berat tidak selalu menunjukkan bahwa suara tersebut lebih sehat atau kuat. “Suara yang lebih berat tidak selalu berarti lebih sehat atau lebih kuat. Pembengkakan akibat merokok dapat menurunkan nada suara sekaligus membuatnya lebih kasar dan kurang fleksibel,” jelasnya. Perubahan suara ini dapat muncul secara bertahap, antara lain: suara menjadi lebih berat, serak atau parau, jangkauan nada berkurang, suara mudah lelah saat digunakan dalam waktu lama, serta keinginan untuk sering membersihkan tenggorokan.
Sebuah penelitian yang diterbitkan dalam Indian Journal of Otolaryngology and Head & Neck Surgery yang melibatkan 103 orang dengan gangguan suara menemukan adanya hubungan antara kebiasaan merokok dan kelainan pada pita suara. Dalam penelitian tersebut, perokok menunjukkan perubahan seperti kemerahan dan leukoplakia serta hasil yang lebih buruk pada beberapa pemeriksaan suara. Namun, penelitian ini melibatkan individu yang sudah mengalami gangguan suara, sehingga hasilnya tidak dapat digunakan untuk menentukan seberapa sering perubahan tersebut terjadi pada seluruh perokok.
Merokok dalam jangka panjang dapat menyebabkan perubahan permanen pada pita suara. Salah satu kondisi yang terkait dengan kebiasaan merokok adalah edema Reinke, yaitu penumpukan cairan pada lapisan jaringan pita suara. Kondisi ini dapat membuat suara menjadi lebih berat dan serak. Selain itu, merokok juga meningkatkan risiko kanker laring, yang dapat mengubah kualitas suara dan memerlukan penanganan medis, termasuk operasi pada kondisi tertentu.
Seberapa besar kerusakan yang terjadi dapat bervariasi pada setiap individu, tergantung pada kondisi yang mendasari, jumlah dan lama seseorang merokok, serta seberapa cepat masalah tersebut terdeteksi. Oleh karena itu, perubahan suara yang menetap sebaiknya tidak dianggap sebagai dampak normal dari kebiasaan merokok.
Apakah Suara Bisa Kembali Normal Setelah Berhenti Merokok?
Berhenti merokok dapat menghentikan sumber iritasi dan memberi kesempatan bagi pita suara untuk memulihkan diri. Namun, suara belum tentu sepenuhnya kembali seperti semula jika sudah terjadi kerusakan struktural. Jika perubahan suara disebabkan terutama oleh iritasi dan peradangan, kondisi tersebut dapat berangsur membaik setelah berhenti merokok. Sementara itu, masalah struktural seperti edema Reinke, jaringan parut, atau kerusakan lainnya mungkin memerlukan penanganan lebih lanjut.
Dokter THT dapat melakukan pemeriksaan pada kondisi laring menggunakan kamera tipis dan fleksibel yang dimasukkan melalui hidung. Pemeriksaan ini membantu mendeteksi adanya pembengkakan, lesi, atau perubahan lain pada pita suara. Penanganan dapat berupa bantuan untuk berhenti merokok, terapi suara, hingga operasi, tergantung pada penyebabnya.
Perokok disarankan untuk memeriksakan diri ke dokter THT jika suara serak berlangsung selama tiga hingga empat minggu, semakin parah, atau berulang. Pemeriksaan juga penting dilakukan lebih cepat jika perubahan suara disertai dengan kesulitan atau nyeri saat menelan, benjolan di leher, nyeri tenggorokan atau telinga yang menetap, batuk berdarah, penurunan berat badan tanpa sebab, atau kesulitan bernapas. Suara serak yang menetap tidak selalu berarti kanker, tetapi kondisi tersebut bisa menjadi tanda awal adanya masalah pada laring yang perlu diperiksa, terutama bagi mereka yang memiliki kebiasaan merokok.