Bencana kabut asap yang disebabkan oleh kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan terus berlanjut tanpa tanda-tanda perbaikan. Sekitar 38.310 hektar lahan di Kalimantan Barat telah terbakar, menghasilkan kabut asap yang pekat dan menyebabkan lonjakan penyakit pernapasan, bahkan hingga menjangkau Malaysia dan Brunei. Dalam situasi udara yang berbahaya ini, ibu hamil menjadi salah satu kelompok yang paling rentan terhadap dampak paparan zat beracun.
Risiko Kelahiran Prematur akibat Paparan Asap
Terpapar polusi asap dalam jangka waktu lama dapat menyebabkan berbagai bahan kimia berbahaya masuk ke dalam tubuh. Dr. Fita Maulina, Sp.OG, seorang spesialis Obstetri dan Ginekologi, menjelaskan bahwa kondisi ini dapat mengganggu suplai oksigen. "Paparan asap berhari-hari memicu peradangan hebat dan mengganggu pernapasan, bahkan penumpukan radikal bebas tersebut dapat masuk ke dalam aliran darah pada plasenta," ungkapnya. Reaksi berantai dari paparan zat beracun ini dapat berakibat fatal bagi kehamilan, di mana tubuh ibu yang berjuang melawan hipoksia dapat memberikan sinyal bahaya pada rahim. "Hal ini meningkatkan risiko kontraksi dini yang menyebabkan bayi lahir prematur," tambahnya.
Selain risiko kelahiran prematur, janin juga berisiko kekurangan pasokan nutrisi yang penting untuk pertumbuhannya. Asap karhutla yang mengandung karbon monoksida dalam jumlah tinggi dapat mengikat sel darah merah lebih kuat dibandingkan oksigen. "Karena pasokan oksigen dan nutrisi dari ibu ke janin terhambat oleh karbon monoksida, pertumbuhan bayi di dalam rahim menjadi tidak maksimal dan risiko janin cenderung kecil," jelas dr. Fita.
Dampak Jangka Panjang pada Hormon Janin
Dampak negatif dari menghirup polusi asap tidak berhenti di situ. Kabut asap mengandung partikel mikroskopis dan senyawa beracun yang dapat menembus dinding plasenta. Prof. Dr. dr. Budi Wiweko, Sp.O.G, Subsp.F.E.R., MPH, FRANZCOG (Hons), FICRM, menjelaskan bahwa sisa pembakaran dapat mengganggu regulasi tubuh ibu hamil dan memicu gangguan pada struktur sel bayi. "Yang kita takutkan sebenarnya dari polutan itu adanya substansi-substansi yang bisa mengganggu kerja hormon, yang kita sebut sebagai endocrine disrupting chemicals," terangnya.
Kelompok zat ini dapat mengubah profil kesehatan bayi secara signifikan di masa depan. "Bisa menyebabkan nanti, janinnya kalau dia perempuan, cenderung meningkatkan risiko terjadinya endometriosis, PMOS (Polycystic Metabolic Ovarian Syndrome), atau kelainan pada alat kelamin," tambahnya.
Ibu hamil biasanya mengalami sesak napas akibat perubahan hormonal, namun sesak napas yang disebabkan oleh polusi asap memiliki gejala yang lebih mengganggu. "Keluhan napas cepat seperti sesak pada ibu hamil sering terjadi akibat besarnya rahim mendesak organ sekitarnya termasuk paru-paru, sehingga cakupan oksigen yang diambil paru-paru tidak bisa terlalu banyak," jelas dr. Fita. Sebaliknya, gangguan pernapasan akibat asap karhutla dapat menyebabkan keluhan lain seperti demam, flu, bunyi napas mengi, dan batuk terus-menerus.
Tindakan Pencegahan untuk Ibu Hamil
Mengingat tingginya risiko komplikasi, tindakan pencegahan sangat penting dilakukan sebelum ibu hamil menunjukkan gejala infeksi saluran pernapasan. Dr. Fita merekomendasikan agar ibu hamil menjauh dari sumber polusi. "Pastikan ibu hamil dikarantina atau dipindahkan ke area yang bebas paparan asap kebakaran agar terjaga oksigenasi untuk janin dalam kandungannya," tuturnya.
Pandangan serupa juga disampaikan oleh Prof. Dr. dr. Erlina Burhan, M.Sc., Sp.P(K), yang menekankan pentingnya mempertimbangkan opsi mengungsi bagi ibu hamil. "Kalau bisa ya jangan terpapar lagi, kalau perlu pindah daerah dulu sementara. Cari saudara yang lokasi rumahnya aman," katanya.
Jika evakuasi tidak memungkinkan, penggunaan masker pelindung menjadi langkah terakhir untuk membatasi paparan debu partikel kecil. "Ibu hamil disarankan menggunakan masker minimal tiga lapis yang bisa menghalangi masuknya uap dan debu partikel kecil, agar janin dalam kandungan tetap mendapatkan aliran darah yang tinggi oksigen dan rendah karbon monoksida," pungkas dr. Fita.