Perusahaan semikonduktor dari China, ChangXin Memory Technologies (CXMT), mengambil langkah hukum dengan menggugat Departemen Pertahanan Amerika Serikat (Pentagon). Tindakan ini diambil sebagai upaya perusahaan untuk menghapus status mereka yang terdaftar sebagai entitas militer China, serta membuka kesempatan untuk kembali beroperasi di pasar AS.
Pentagon sebelumnya mengklasifikasikan CXMT sebagai perusahaan yang memiliki afiliasi langsung dengan operasi militer Partai Komunis China. Penetapan ini pertama kali dilakukan pada Januari 2025 dan diperpanjang dalam pembaruan daftar pengawasan pada Juni 2026. CXMT menolak keras label tersebut, menyatakan bahwa tuduhan itu tidak berdasar. Perusahaan yang berlokasi di Hefei, Anhui, ini menegaskan bahwa semua produk memori yang mereka tawarkan dirancang khusus untuk aplikasi komersial dan sipil, serta mematuhi standar memori JEDEC.
Kerugian Akibat Daftar Hitam
Akibat dari penetapan daftar hitam ini, CXMT mengklaim mengalami kerugian besar, baik dari segi komersial maupun reputasi. Dalam dokumen gugatannya, CXMT menyatakan bahwa mereka telah berusaha untuk bersikap kooperatif dengan Pentagon selama lebih dari satu tahun. Bahkan, pada awal tahun ini, Departemen Pertahanan AS sempat mengonfirmasi rencana untuk menghapus nama CXMT dari daftar militer. Namun, secara tiba-tiba, otoritas AS menarik kembali keputusan tersebut setelah pengumuman diterbitkan.
Kesuksesan di Tengah Kontroversi
Meski menghadapi kendala di pasar Amerika, CXMT justru mengalami peningkatan signifikan dalam bisnisnya. Permintaan yang tinggi untuk kebutuhan pusat data kecerdasan buatan (AI) dan harga tinggi dari merek memori tradisional membuat pendapatan CXMT melonjak hingga 874% pada paruh pertama tahun ini. Chip yang mereka produksi kini menjadi alternatif yang lebih terjangkau dan banyak digunakan oleh pabrikan pihak ketiga untuk dirakit menjadi modul DRAM.
Namun, di balik kesuksesan finansial tersebut, CXMT tidak terlepas dari kontroversi. Beberapa sumber dari industri di Korea Selatan menuduh perusahaan ini telah memangkas waktu penelitian dan pengembangan (R&D) dengan mengeksploitasi kekayaan intelektual (IP) milik Samsung yang bocor.