Jakarta - CoreWeave, sebuah perusahaan yang fokus pada layanan cloud untuk kecerdasan buatan (AI), telah mengumumkan langkah ekspansi pertamanya ke wilayah Asia-Pasifik dengan memilih Indonesia sebagai lokasi untuk tiga pusat data baru. Fasilitas ini dirancang untuk memenuhi kebutuhan komputasi AI di Asia Tenggara, dengan total kapasitas daya mencapai 360 megawatt. CoreWeave menargetkan agar pusat data ini dapat beroperasi mulai tahun 2028.
Perusahaan ini akan memiliki dan mengelola infrastruktur komputasi di ketiga lokasi tersebut, yang akan menyediakan platform cloud AI bagi laboratorium, startup, dan pelanggan yang memerlukan kapasitas komputasi di kawasan ini.
Alasan Pemilihan Indonesia
Indonesia dipilih karena dianggap memiliki kombinasi yang ideal antara pertumbuhan ekonomi digital, investasi dalam pendidikan AI, serta permintaan komputasi yang terus meningkat. Posisi geografis Indonesia di Asia Tenggara juga dinilai strategis untuk melayani perusahaan, startup AI, dan lembaga pemerintah yang membutuhkan kapasitas komputasi yang tinggi.
"CoreWeave hadir di mana pun kami dapat memberikan para pionir AI kapasitas, kinerja, dan keandalan yang mereka butuhkan untuk membangun dan mengembangkan ide-ide mereka," ungkap Sachin Jain, Chief Operating Officer CoreWeave. Jain menambahkan bahwa investasi besar Indonesia dalam pendidikan AI dan kapasitas digital sudah mulai menunjukkan hasil yang positif.
Menurut Jain, Indonesia kini berkembang menjadi salah satu tujuan investasi teknologi dengan pertumbuhan tercepat di Asia Tenggara. "Sekarang, ekspansi ini memberi perusahaan, perusahaan berbasis AI, dan pemerintah lebih banyak daya komputasi secara lokal dan global, di mana pun mereka membutuhkannya, untuk mengubahnya menjadi keunggulan kompetitif," ujarnya.
Dampak dan Rencana Ke Depan
Investasi yang dilakukan oleh CoreWeave sejalan dengan prioritas nasional Indonesia untuk memperkuat infrastruktur digital dan memperluas kemampuan AI domestik, serta memposisikan negara ini sebagai salah satu ekonomi digital terkemuka di kawasan. Selain itu, CoreWeave berencana untuk merekrut dan melatih tim lokal dalam pengoperasian pusat data, yang diharapkan dapat mendukung pengembangan talenta teknis di Indonesia, khususnya dalam bidang pusat data, cloud, dan infrastruktur AI.
Kehadiran kapasitas komputasi lokal di Indonesia juga diharapkan dapat mengurangi latensi bagi pelanggan saat mengakses layanan AI. Infrastruktur yang ada akan sangat penting bagi perusahaan yang memerlukan pemrosesan data cepat, kapasitas GPU besar, serta kepatuhan terhadap regulasi penyimpanan dan pengelolaan data.
CoreWeave dikenal sebagai penyedia layanan cloud yang berfokus pada infrastruktur komputasi yang diakselerasi untuk kebutuhan AI. Perusahaan ini banyak menggunakan akselerator AI dari Nvidia untuk pelatihan model, inferensi, dan aplikasi AI berskala besar. CoreWeave telah melayani sejumlah perusahaan besar di industri teknologi, termasuk Microsoft, Meta, OpenAI, dan Anthropic, serta mengoperasikan hampir 50 pusat data di Amerika Serikat dan Eropa dengan daya aktif lebih dari 1 GW.
Pembangunan tiga pusat data di Indonesia menunjukkan bahwa persaingan di sektor AI tidak hanya berlangsung dalam pengembangan model, tetapi juga dalam penguasaan pasokan chip, pusat data, jaringan, dan listrik yang diperlukan untuk menjalankan teknologi tersebut. Dengan kapasitas total 360 megawatt, ekspansi ini berpotensi memberikan kontribusi signifikan bagi ekosistem pusat data di Indonesia. Namun, dampak investasi ini akan lebih jelas setelah perusahaan mengumumkan lokasi, sumber energi, jumlah lapangan kerja, dan mitra yang terlibat dalam proyek tersebut.