Kebiasaan untuk selalu menyetujui permintaan orang lain sering kali muncul dari keinginan untuk tidak mengecewakan, baik itu dari teman, keluarga, maupun rekan kerja. Meskipun sebenarnya tidak ingin memenuhi permintaan tersebut, banyak orang yang memilih untuk mengiyakan demi menjaga perasaan orang lain. Oleh karena itu, penting untuk menyadari kapan kita perlu memenuhi permintaan orang lain dan kapan saatnya mempertimbangkan kebutuhan diri sendiri.
Manfaat Menolak Permintaan untuk Kesehatan Mental
Psikoterapis Nancy Colier, dalam bukunya yang berjudul The Emotionally Exhausted Woman, menjelaskan bahwa perempuan sering kali merasa perlu untuk menyenangkan orang lain agar mendapatkan penerimaan dan rasa aman secara emosional. Ia menyatakan, "Mengatakan ya adalah apa yang diinginkan dari kita, dan karena itu, dalam upaya untuk menyenangkan dan mengamankan keamanan emosional serta rasa memiliki kita, kita mengabaikan kebutuhan kita sendiri."
Psikiater Anisha Patel-Dunn menambahkan bahwa individu yang terbiasa menyenangkan orang lain dapat mengalami stres dan kecemasan ketika harus menolak permintaan. Ia menyarankan agar orang tersebut mencari tahu penyebab kecemasan tersebut, terutama jika ada orang tertentu yang membuatnya merasa sangat khawatir untuk mengatakan tidak. Dunn juga mengajak untuk mengevaluasi hubungan yang membuat seseorang kesulitan menolak dan mempertimbangkan apakah hubungan tersebut sehat.
Akibat Kebiasaan Menyetuju Permintaan
Stephanie Kriesberg, seorang psikolog, menjelaskan bahwa kebiasaan ini bisa berakar dari pengalaman masa kecil. "Jika kamu dibesarkan dalam keluarga di mana mengungkapkan perasaan bukanlah hal yang wajar, atau jika orang tuamu marah ketika kamu mengungkapkan kebutuhan, kamu mungkin memiliki reaksi otomatis berupa rasa takut ketika harus berbicara tentang apa yang benar-benar kamu inginkan atau pikirkan," ujarnya.
Menetapkan batasan dapat membantu menjaga kesejahteraan mental. Penelitian menunjukkan bahwa orang yang mampu memisahkan pekerjaan dari kehidupan pribadi selama pandemi melaporkan tingkat kebahagiaan yang lebih tinggi. Dunn memperingatkan bahwa kebiasaan terus-menerus menyetujui permintaan orang lain dapat menguras energi dalam jangka panjang. "Mengatakan 'ya' mungkin terasa menyenangkan saat itu juga, tetapi dalam jangka panjang, memaksakan diri secara berlebihan dapat menyebabkan kelelahan," jelasnya.
Selain menyebabkan kelelahan, menyetujui permintaan yang sebenarnya tidak diinginkan juga dapat menimbulkan rasa kesal terhadap orang lain. Colier menegaskan bahwa persetujuan yang tidak tulus dapat menimbulkan perasaan terjebak dan dimanfaatkan.
Cara Menolak Permintaan dengan Sopan
Kriesberg menyarankan agar seseorang tidak merasa harus segera menjawab setiap permintaan. Memberi waktu untuk mempertimbangkan keputusan dapat membantu menghindari jawaban spontan yang tidak diinginkan. Contoh kalimat yang dapat digunakan adalah, "Terima kasih telah memikirkan saya. Saya akan memeriksa kalender saya dan menghubungi Anda kembali," atau "Izinkan saya memikirkannya dulu."
Ketika sudah yakin untuk menolak, tidak perlu memberikan penjelasan panjang. Colier menekankan bahwa kebutuhan diri sendiri tetap penting meskipun orang lain mungkin tidak menyukai keputusan tersebut. Dengan latihan, seseorang dapat belajar untuk menolak dengan lebih nyaman sambil tetap mempertahankan batasan yang sehat.