Kesehatan

Apakah Kamu Termasuk "Vibe Checker" di Lingkungan Pertemananmu?

Dalam setiap kelompok pertemanan, ada individu yang sangat peka terhadap perubahan suasana dan emosi teman-temannya, yang sering disebut sebagai vibe checker. Peran ini penting, namun bisa menjadi beb...

N
Nathania Gabriella Wardani
04 September 2026 42 pembaca
Apakah Kamu Termasuk "Vibe Checker" di Lingkungan Pertemananmu?
Sumber gambar: lifestyle.kompas.com

Dalam sebuah kelompok pertemanan, sering kali terdapat sosok yang cepat menyadari perubahan suasana, seperti ketika teman-teman tiba-tiba menjadi diam atau nada bicara seseorang berubah. Individu yang memiliki kepekaan ini sering disebut sebagai vibe checker. Menurut informasi dari Real Simple, istilah ini merujuk pada seseorang yang sangat sensitif terhadap perubahan emosi dan ketegangan di dalam kelompok sosial.

Vibe checker biasanya berusaha memastikan bahwa semua teman merasa diperhatikan, memberikan ruang bagi mereka yang ingin berbagi cerita, serta membantu menyelesaikan konflik sebelum masalah menjadi lebih besar. Terapis Alexandra Foglia, DMFT, dan psikolog klinis berlisensi Mirjam Quinn, PhD, menjelaskan bahwa peran ini dapat membantu dalam menjaga hubungan pertemanan yang baik.

Peran Penting Vibe Checker

Foglia menjelaskan bahwa individu yang berperan sebagai vibe checker cenderung cepat menangkap perubahan kecil dalam interaksi sosial. Kepekaan ini memungkinkan mereka untuk menyadari masalah yang mungkin belum dibicarakan secara terbuka oleh anggota kelompok. “Setiap lingkaran sosial setidaknya memiliki satu anggota yang akan segera menyadari perubahan kecil dalam nada bicara, bahasa tubuh, atau ketegangan yang tidak terucapkan pada seseorang,” ujarnya.

Kebiasaan Sejak Kecil

Mirjam Quinn menambahkan bahwa kebiasaan menjadi orang yang peka dalam kelompok sering kali tidak muncul secara tiba-tiba. Banyak individu yang telah terbiasa memperhatikan emosi orang lain sejak kecil, terutama dalam lingkungan keluarga. Seseorang dapat berkembang dengan kebiasaan ini jika sejak kecil mereka harus memperhatikan perubahan suasana di rumah. Dalam situasi tertentu, anak-anak tersebut mungkin secara tidak sengaja mengambil peran untuk mengetahui siapa yang sedang marah, stres, atau menghadapi masalah.

“Sering kali anak-anak tersebut sedikit lebih sensitif dibandingkan saudara mereka dan kemudian, tanpa sengaja, diberi peran dalam keluarga untuk memperhatikan siapa yang sedang dalam suasana hati buruk, siapa yang stres karena pekerjaan, dan di ruangan mana suasana akan berubah menjadi tegang,” jelas Quinn. Kebiasaan ini dapat terbawa hingga dewasa dan muncul kembali dalam hubungan pertemanan, di mana seseorang merasa perlu mengetahui kondisi emosional orang-orang di sekitarnya.

Quinn menjelaskan bahwa peran ini sering dianggap sebagai bagian dari kepribadian seseorang. “Kita hanya menganggap diri kita sebagai orang yang secara ‘alami’ melakukan perilaku seperti ini, kemudian kita cenderung mengulanginya dalam kelompok pertemanan,” tambahnya.

Risiko Menjadi Vibe Checker

Menjadi orang yang peka bukanlah hal yang negatif. Namun, masalah dapat muncul ketika seseorang merasa harus terus-menerus bertanggung jawab atas suasana hati seluruh kelompok. Foglia menyatakan bahwa individu yang mengambil peran ini dapat kehilangan kesempatan untuk menikmati waktu bersama teman karena terlalu fokus memperhatikan kondisi orang lain. Ia menggambarkan situasi ini sebagai seseorang yang mengatur lalu lintas emosi dalam kelompok.

“Sisi buruk dari kemampuan ini adalah, seiring waktu, vibe checker biasanya mulai bertindak sebagai pengatur lalu lintas emosional dalam kelompok,” ungkap Foglia. Ia menambahkan bahwa orang tersebut akan memperhatikan segala sesuatu yang terjadi di sekitarnya dan jarang memiliki kesempatan untuk bersantai serta menikmati kebersamaan. Jika kebiasaan ini berlangsung terus-menerus, dapat menimbulkan kelelahan dan rasa kesal karena merasa harus menjaga semuanya tetap berjalan baik.

Quinn menilai dinamika ini menjadi kurang sehat ketika satu orang mengambil alih tanggung jawab atas suasana emosional seluruh kelompok. Oleh karena itu, ia menyarankan agar vibe checker belajar untuk mengambil jarak dan tidak selalu berusaha menyelesaikan masalah orang lain. “Saya biasanya mendorong mereka untuk melihat bagaimana rasanya membiarkan dua anggota kelompok mengalami konflik, atau satu anggota kelompok memiliki perasaan yang sulit, tanpa langsung turun tangan untuk menyelamatkan mereka,” katanya.

Quinn menekankan bahwa membiarkan orang lain menghadapi emosinya sendiri dapat menjadi pengalaman yang membuka mata. Terkadang, anggota kelompok lain juga mampu mengambil peran dan membantu menyelesaikan masalah ketika tidak selalu didahului oleh vibe checker. Foglia menegaskan bahwa pertemanan yang sehat memerlukan saling memeriksa keadaan satu sama lain dan memberikan ruang bagi setiap anggota untuk menyampaikan perasaannya secara terbuka. “Kelompok yang sehat tidak menganggap kepekaan dan kesadaran sebagai tugas satu anggota saja,” imbuhnya.

Dengan membagi tanggung jawab emosional secara lebih seimbang, setiap anggota pertemanan dapat merasa diperhatikan tanpa membuat satu orang terus-menerus menjadi penjaga suasana.

Artikel Terkait