Jakarta - Perusahaan pembuat chip asal Amerika Serikat, AMD, sedang bersiap untuk meningkatkan kapasitas produksi komponen secara signifikan pada tahun 2027. Keputusan ini diambil untuk memenuhi lonjakan permintaan global terhadap perangkat keras kecerdasan buatan (AI) yang terus berkembang pesat. CEO AMD, Lisa Su, menyampaikan informasi ini saat bertemu dengan media di Taipei.
Kunjungan Su ke Taiwan merupakan bagian dari rangkaian perjalanan bisnisnya di Asia untuk memastikan kesiapan rantai pasok produksi prosesor (CPU) dan kartu grafis (GPU) generasi mendatang. Dalam upayanya untuk mengamankan jalur manufaktur, Su mengadakan serangkaian pertemuan dengan mitra strategis di kawasan tersebut.
Pertemuan dengan Mitra Strategis
Lisa Su mengonfirmasi bahwa ia telah bertemu dengan pimpinan Foxconn dan juga memiliki rencana untuk segera bertemu dengan TSMC, salah satu raksasa pengecoran semikonduktor dunia. Selain itu, Su juga akan mengunjungi Korea Selatan untuk bernegosiasi langsung dengan produsen chip memori utama guna memastikan pasokan DRAM dan HBM (High Bandwidth Memory).
Respon Positif Pasar Modal
Rencana ekspansi yang diumumkan oleh AMD mendapatkan respons positif dari pasar modal. Saham AMD melonjak 3,98% menjadi USD 656,84, mencatatkan kenaikan hampir 194% sepanjang tahun ini. Permintaan yang tinggi untuk produk AI telah menyebabkan krisis pasokan dalam industri semikonduktor, yang berdampak pada harga perangkat elektronik konsumen.
Harga konsol PlayStation 5 Pro versi refurbished kini dijual dengan harga mencapai USD 1.399 (sekitar Rp 21,7 juta), yang merupakan dua kali lipat dari harga resminya, seiring dengan meningkatnya antusiasme menjelang peluncuran game GTA VI. Selain itu, kelangkaan chip memori juga memaksa produsen laptop untuk menurunkan spesifikasi produk mereka. Contohnya, laptop anggaran terbaru HP, OmniBook 5, kini hanya dilengkapi dengan 8 GB RAM, yang merupakan separuh dari kapasitas standar laptop terjangkau sebelum adanya AI.
Meskipun perusahaan-perusahaan besar seperti SK Hynix telah menginvestasikan puluhan miliar dolar untuk membangun fasilitas pabrik baru, proses konstruksi yang memakan waktu bertahun-tahun membuat para pengamat yakin bahwa kelangkaan perangkat keras akibat meningkatnya permintaan untuk AI belum akan segera teratasi.