Kesehatan

Transformasi Tapis Lampung Menjadi Busana Modern oleh Jan Ayu

Jenama Jan Ayu berinovasi dengan mengubah kain tapis Lampung yang tradisional menjadi busana siap pakai yang dapat digunakan sehari-hari, menjadikannya lebih relevan di kalangan masyarakat urban.

D
Daniel Kristianto
20 October 2026 60 pembaca
Salah satu produk jenama Jan Ayu yang mengangkat kain tapis Lampung menjadi busana siap pakai di IN2MOTIONFEST X JMFW, JICC Senayan, Jakarta, Sabtu (17/10/2026).(Kompas.com / Nabilla Ramadhian)
Salah satu produk jenama Jan Ayu yang mengangkat kain tapis Lampung menjadi busana siap pakai di IN2MOTIONFEST X JMFW, JICC Senayan, Jakarta, Sabtu (17/10/2026).(Kompas.com / Nabilla Ramadhian)

JAKARTA - Kain tradisional sering kali diasosiasikan dengan pakaian formal yang berat dan hanya dipakai pada acara-acara tertentu, seperti kain tapis Lampung. Namun, jenama mode Jan Ayu berusaha mengubah pandangan tersebut dengan merancang kain tapis menjadi busana modern yang dapat dikenakan kapan saja dan di mana saja. "Jan Ayu itu fokusnya untuk mengenalkan wastra Lampung, khususnya tapis. Jadi di sini tapisnya juga sudah kita buat semacam inovasi," ungkap Linda Sudibyo, pemilik jenama Jan Ayu, di IN2MOTIONFEST X JMFW, JICC Senayan, Jakarta, pada Sabtu (17/10/2026).

Inovasi Tapis untuk Pekerja Urban

Jenama ini memiliki tujuan utama untuk menghadirkan keindahan kain buatan tangan ke dalam dunia fashion sehari-hari bagi para pekerja kantoran di kota besar. "Gimana tapis Lampung harus masuk nih dengan pasar teman-teman yang bekerja di Jakarta. Akhirnya kita inovasi dengan tapis menggunakan benang bukan emas," tambahnya.

Menghidupkan Kembali Tradisi Tapis

Pada masa lalu, tapis merupakan pakaian sarung yang dikenakan oleh perempuan saat menghadiri acara adat. Kain ini dianggap sebagai warisan budaya yang sangat berharga, sehingga penggunaannya sangat terbatas. "Keluarga itu hanya punya beberapa pieces. Nah, yang saya bayangkan, kalau semua orang berpikir begitu, nanti pengrajin tapisnya mau makan dari mana?" jelas Linda. Dari kekhawatiran tersebut, ia mulai memproduksi tapis menjadi pakaian siap pakai dengan mengganti benang emas yang berat dengan benang biasa untuk kenyamanan sehari-hari.

"Saya dulu kalau ngantor di Jakarta juga enggak mau pakai baju bling-bling. Makanya kita harus ciptakan demand dengan cara bagaimana kalau tapis kita buat jadi baju," lanjutnya.

Proses Pembuatan Tapis yang Rumit

Pengerjaan tapis Lampung berbeda dari pakaian rajut atau sulam biasa, karena prosesnya melibatkan dua tahapan utama sebelum dijahit menjadi busana. "Uniknya tapis itu dua langkah. Jadi pertama dia ditenun dulu bahannya, kemudian baru ditapis. Nah, tapis itu juga satu-satu dicucuk pakai tangan," kata Linda. Proses ini memerlukan ketelitian tinggi dari para perajin, karena setiap pola harus disusun dengan akurat agar motifnya tidak meleset.

Keindahan kain tapis tidak hanya terletak pada teknik pengerjaannya, tetapi juga pada makna filosofis yang terkandung dalam motif-motifnya. Kegiatan menenun dan menyusun benang telah menjadi cara komunikasi antargenerasi bagi perempuan di Lampung. "Ini cara tutur perempuan untuk menitipkan pesan kebaikan dan kebajikan kepada anak cucu," ucap Linda.

Motif yang digunakan umumnya terinspirasi dari kekayaan biota laut, seperti cumi-cumi yang melambangkan proteksi dan ketahanan. Selain itu, terdapat pola bernama Silung yang berarti "saling", yang mengajarkan pentingnya menjaga keharmonisan dengan lingkungan. "Pesan leluhurnya begini, 'Kalau kamu mau hidup panjang, maka kamu harus saling dengan alam.' Ini kan jadi filosofinya bagus banget," jelasnya.

Jenama ini juga mengangkat motif Rajamendal yang menyerupai kereta kerajaan, yang secara tradisional digunakan dalam upacara kenaikan status sosial. Namun, motif ini kini diinterpretasikan ulang agar lebih relevan dengan kehidupan modern. "Jika kamu mau naik derajat, dalam pengertian menjadi manusia yang lebih baik, motif ini sebagai lambang bahwa kita 'naik kelas'," tutup Linda.

Artikel Terkait