Kehamilan menyebabkan banyak perubahan pada tubuh wanita, termasuk perubahan hormonal dan fisik, serta munculnya berbagai keluhan. Salah satu fenomena yang sering dibicarakan adalah "baby brain", istilah yang merujuk pada kondisi di mana ibu hamil merasa lebih mudah lupa dan bingung. Namun, perubahan yang terjadi selama kehamilan tidak hanya sebatas pengalaman yang dirasakan oleh ibu, tetapi juga melibatkan perubahan pada struktur otak. Penelitian tentang pencitraan otak telah mengungkap adanya perubahan signifikan selama masa kehamilan.
Perubahan pada Grey Matter
Selama sepuluh tahun terakhir, penelitian pencitraan otak menunjukkan bahwa kehamilan berhubungan dengan perubahan volume grey matter, yaitu bagian otak yang terletak di lapisan luar dan kaya akan sel saraf. Dr. Sasha Davies, seorang peneliti psikologi kognitif dari The Cairnmillar Institute, menjelaskan bahwa perubahan ini terutama terlihat pada area yang berhubungan dengan pemrosesan sosial dan emosional. “Penelitian pencitraan otak selama sekitar 10 tahun terakhir menunjukkan bahwa kehamilan dikaitkan dengan perubahan volume materi abu-abu di area otak yang terkait dengan pemrosesan sosial dan emosional,” ungkapnya.
Ahli saraf dr. Sarah McKay menambahkan bahwa perubahan ini berkaitan dengan peningkatan hormon selama kehamilan, seperti progesteron dan estradiol. “Kami memahami bahwa reorganisasi materi abu-abu ini sebagian besar didorong oleh hormon kehamilan seperti progesteron dan estradiol,” jelasnya. Davies juga menekankan bahwa perubahan paling mencolok terjadi di wilayah yang terlibat dalam kognisi sosial, pemrosesan emosi, empati, serta pemahaman terhadap pikiran dan kebutuhan orang lain.
Reorganisasi Otak, Bukan Kemunduran
Volume grey matter yang mengalami perubahan sering kali disebut sebagai “penyusutan” otak. Namun, McKay menegaskan bahwa istilah ini dapat memberikan kesan yang salah, seolah-olah perubahan tersebut merupakan penurunan fungsi. “Kami tidak suka menggunakan kata ‘penyusutan’, karena itu membuatnya terdengar seperti semacam penurunan atau kemerosotan,” katanya. Menurutnya, perubahan ini merupakan bagian dari reorganisasi otak, di mana koneksi yang tidak lagi diperlukan akan dihilangkan, sementara koneksi yang penting akan diperkuat.
Davies menyatakan bahwa para peneliti melihat perubahan ini sebagai bagian dari proses penyesuaian yang terjadi selama kehamilan. “Para peneliti berpendapat bahwa perubahan otak ini merupakan bagian dari semacam proses persiapan, di mana otak mengalami penyesuaian di area-area penting untuk mendukung para ibu agar dapat merespons bayi mereka dengan lebih mudah dan akurat,” jelasnya.
Perubahan struktur otak yang terdeteksi melalui pencitraan harus dibedakan dari fenomena baby brain. Davies menegaskan bahwa keduanya tidak sama. “Perubahan struktural yang terlihat pada materi abu-abu semakin dipandang sebagai reorganisasi otak yang disengaja untuk mendukung pengasuhan anak, sementara ‘baby brain’ adalah konsep budaya yang lebih luas yang berfokus pada pengalaman sehari-hari berupa kabut otak dan kelupaan,” ujarnya. McKay mencatat bahwa sekitar empat dari lima perempuan melaporkan mengalami baby brain selama atau setelah kehamilan.
Pengalaman baby brain lebih sulit diukur secara objektif dibandingkan dengan perubahan struktur otak yang dapat dilihat melalui pencitraan. Selain itu, tidak semua perubahan pada otak kembali seperti semula setelah melahirkan. McKay menjelaskan bahwa beberapa perubahan dapat pulih, tetapi ada juga yang tetap bertahan. “Kita bisa mengatakan bahwa terjadi pemulihan sedikit di beberapa wilayah otak, tetapi secara umum, pengurangan volume materi abu-abu itu tetap dipertahankan,” ujarnya. Beberapa perubahan tersebut bahkan dapat teramati hingga enam tahun setelah melahirkan.