KOMPAS.com - Obat-obatan yang digunakan untuk menurunkan berat badan dan mengatur kadar gula darah kini memberikan dampak signifikan bagi kehidupan penggunanya. Sebuah penelitian terbaru mengungkap bahwa obat-obatan ini dapat secara drastis mengubah kebiasaan dan pilihan makanan seseorang.
Studi Terkait Kebiasaan Makan
Sebuah penelitian berjudul "Characteristics and food consumption for current, previous, and potential consumers of GLP-1 s" yang dipublikasikan dalam jurnal Food Quality and Preference pada Agustus 2025, menganalisis pola makan 1.955 individu. Dalam laporan yang dirilis oleh Prevention pada Rabu (23/9/2026), para peserta dibagi menjadi beberapa kelompok: pengguna aktif agonis reseptor GLP-1 seperti Ozempic, mantan pengguna, calon pengguna, dan mereka yang tidak berencana menggunakannya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelompok yang menggunakan obat seperti Ozempic mengonsumsi kalori jauh lebih sedikit, dengan pengurangan antara 720 hingga 990 kalori dibandingkan kelompok lainnya.
Selain itu, mereka juga mengurangi konsumsi makanan olahan, minuman manis, biji-bijian olahan, dan daging sapi. Sebaliknya, asupan buah, sayuran hijau, dan air putih meningkat secara signifikan. Menariknya, meskipun pengguna obat ini masih merasakan keinginan untuk mengonsumsi makanan olahan dan minuman manis, mereka memilih untuk tidak melakukannya.
Dampak Obat Terhadap Selera Makan
Hasil penelitian ini memberikan wawasan berharga bagi calon konsumen dan perusahaan makanan mengenai efek GLP-1 yang lebih luas terhadap asupan kalori dan preferensi makanan. Penelitian lain yang diterbitkan di jurnal SSRN pada bulan Desember lalu juga menemukan bahwa pengguna obat ini menghabiskan 5,5 persen lebih sedikit saat berbelanja bahan makanan dalam enam bulan pertama. Mereka cenderung membeli lebih sedikit camilan, permen, dan makanan tinggi kalori, sementara lebih banyak membeli produk bergizi seperti bahan makanan segar dan yogurt.
Ada beberapa alasan medis yang menjelaskan mengapa obat seperti Ozempic dapat memengaruhi selera makan. Salah satu alasan utama adalah karena obat ini bekerja langsung di otak. "Reseptor GLP-1 ditemukan di seluruh otak," kata Kepala Divisi Endokrinologi di Rutgers Robert Wood Johnson Medical School, dr. Christoph Buettner, M.D., Ph.D. Ia menjelaskan bahwa ketika obat ini menargetkan reseptor tersebut, proses pencernaan makanan dan sinyal rasa lapar akan berubah. "Ada beberapa bukti yang menunjukkan adanya perubahan aktivitas otak terkait perilaku yang berhubungan dengan penghargaan, termasuk nafsu makan dan isyarat makanan yang diinginkan," tambah rekan penulis studi, Brandon R. McFadden, Ph.D.
Dengan demikian, pengguna mungkin merasakan keinginan untuk makan yang jauh lebih sedikit dibandingkan sebelumnya. Meskipun banyak peserta studi yang masih menginginkan makanan tidak sehat, pada akhirnya mereka tidak mengonsumsinya. "Ketika orang mengatakan mereka menyukai suatu makanan, tetapi mereka sebenarnya tidak memakannya, jelas bahwa mereka tidak begitu menyukainya," ucap dr. Buettner. "Perubahan preferensi makanan itu pada dasarnya penting bagi kemampuan agonis reseptor GLP-1 untuk memicu penurunan berat badan," tambahnya.
Dokter Mir Ali, M.D., Direktur Medis di MemorialCare Surgical Weight Loss Center, menjelaskan bahwa obat ini secara efektif menekan nafsu makan dan memperlambat pengosongan lambung, sehingga pasien merasa kenyang lebih lama. Efek samping seperti mual juga berperan dalam mengurangi keinginan untuk makan. Selain faktor biologis, dorongan dari anjuran dokter juga sangat penting. "Kami mendorong mereka untuk mengonsumsi makanan yang lebih sehat. Obat-obatan ini dimaksudkan sebagai alat untuk pola makan yang lebih baik," ujar dr. Ali.
Pentingnya Perubahan Gaya Hidup
Makanan yang tinggi lemak atau pati yang sebelumnya sangat disukai dapat menyebabkan mual, kembung, dan diare setelah penggunaan obat ini. Oleh karena itu, menjaga gaya hidup aktif dan waktu tidur yang cukup sangat penting. Perubahan pola makan juga krusial untuk mencegah kenaikan berat badan setelah berhasil menurunkan berat badan. "Ketika pasien menghentikan obat-obatan ini tanpa melakukan perubahan pola makan, berat badan mereka akan kembali naik," jelas dr. Ali.
Sebuah studi menunjukkan bahwa pasien mengalami kenaikan berat badan hingga dua pertiga dari total berat yang berhasil diturunkan dalam satu tahun setelah berhenti menggunakan semaglutide. "Temuan ini menunjukkan bahwa perawatan berkelanjutan diperlukan untuk mempertahankan perbaikan berat badan dan kesehatan," catat para peneliti. Akhirnya, sangat disarankan untuk meningkatkan asupan sayuran non-tepung dan protein tinggi, yang membantu menjaga massa otot, membuat perut kenyang lebih lama, dan mendorong tubuh membakar lemak tanpa memicu lonjakan gula darah.