Interaksi orangtua dengan anak tidak hanya berpengaruh pada suasana hati sesaat, tetapi juga dapat membentuk cara pandang anak terhadap dirinya sendiri serta hubungan yang terjalin dengan orangtuanya. Dalam kehidupan sehari-hari, sering kali orangtua mengucapkan kalimat tertentu ketika merasa lelah, marah, atau ingin anak segera mematuhi. Meskipun tampak sepele, beberapa ungkapan ini dapat membuat anak merasa tidak dipahami, kurang dihargai, dan tidak aman dalam mengekspresikan perasaannya. Psikolog klinis Dr. Shefali Tsabary menekankan bahwa kata-kata memiliki kekuatan yang besar dan dapat meninggalkan dampak yang mendalam pada diri seorang anak. Oleh karena itu, penting bagi orangtua untuk lebih berhati-hati dalam memilih kata-kata agar hubungan dengan anak tetap hangat dan mendukung.
Ungkapan yang Perlu Dihindari
Berikut adalah tiga kalimat yang sebaiknya dihindari oleh orangtua saat berbicara dengan anak:
1. "Kenapa kamu tidak bisa seperti kakakmu?"
Membandingkan anak dengan saudara kandung atau anak lain mungkin dimaksudkan untuk memotivasi, namun hal ini justru dapat membuat anak merasa tidak cukup baik. Menurut Dr. Shefali, kebiasaan membandingkan anak dapat menimbulkan rasa rendah diri dan menciptakan persaingan yang tidak sehat di antara saudara. Sebaliknya, orangtua disarankan untuk menghargai keunikan masing-masing anak, karena setiap anak memiliki karakter, kemampuan, dan cara belajar yang berbeda. Penelitian dari Pennsylvania State University juga menunjukkan bahwa saudara kandung yang dibesarkan dalam keluarga yang sama tetap memiliki kepribadian dan perkembangan yang berbeda. Oleh karena itu, membandingkan mereka bukanlah pendekatan yang efektif. Sebagai alternatif, orangtua dapat mengatakan, "Ayo kita cari cara supaya kamu bisa berkembang sesuai kemampuanmu."
2. "Karena Ayah atau Ibu bilang begitu"
Ungkapan ini sering digunakan untuk mengakhiri perdebatan dengan anak. Namun, Dr. Shefali menjelaskan bahwa kalimat tersebut dapat memutus komunikasi, karena anak tidak mendapatkan penjelasan mengenai alasan di balik suatu aturan atau keputusan. Memberikan penjelasan yang sesuai dengan usia anak dapat membantu mereka memahami batasan dan membangun rasa percaya kepada orangtua. Penjelasan singkat, seperti "Kamu harus tidur lebih awal supaya tubuhmu bisa beristirahat dan besok tetap segar," dapat membantu anak memahami alasan di balik aturan tersebut.
3. "Berhenti menangis"
Ketika melihat anak menangis, banyak orangtua yang secara spontan meminta anak untuk berhenti agar situasi segera tenang. Namun, kalimat ini dapat membuat anak merasa emosinya tidak diterima. Menurut Children's Hospital of Philadelphia, mengabaikan atau menekan emosi anak tidak membantu mereka belajar mengelola perasaan. Sebaliknya, anak membutuhkan bantuan untuk mengenali, memahami, dan mengekspresikan emosinya dengan cara yang sehat. Dr. Shefali menyarankan agar orangtua mengakui perasaan anak terlebih dahulu, misalnya dengan mengatakan, "Ibu tahu kamu sedang sedih," atau "Ayah mengerti kamu kecewa." Setelah itu, orangtua dapat membantu anak mencari cara untuk menenangkan diri dan menyelesaikan masalah yang dihadapinya.
Pentingnya Pilihan Kata dalam Pengasuhan
Komunikasi yang baik sangat penting dalam pengasuhan, karena anak belajar mengenali diri mereka, memahami emosi, dan membangun rasa percaya diri melalui interaksi sehari-hari dengan orangtua. Oleh karena itu, komunikasi yang penuh empati menjadi salah satu fondasi penting dalam menciptakan hubungan yang sehat antara orangtua dan anak. Meskipun orangtua tidak perlu selalu berbicara dengan sempurna, menyadari dampak dari kata-kata yang diucapkan dan berusaha untuk memperbaikinya dapat membantu menciptakan hubungan yang lebih hangat, terbuka, dan saling menghargai.