Melanjutkan hidup setelah mengalami hubungan atau situasi yang menyakitkan tidak selalu berarti melupakan semua yang telah terjadi. Dalam beberapa kasus, proses ini dapat dimulai ketika seseorang menghentikan penantian terhadap hal-hal yang mungkin tidak akan pernah datang. Psikoterapis Loriann Oberlin, MS, LCPC, mengidentifikasi tiga hal yang sebaiknya tidak terus-menerus ditunggu saat seseorang berusaha untuk pulih dari pengalaman yang menyakitkan atau hubungan yang tidak sehat, merujuk pada buku karya Najwa Zebian berjudul The One Who Broke You Can’t Heal You: Let Go of Toxic Bonds and Build Healthy Ones.
1. Berhenti Menunggu Permintaan Maaf
Ketika seseorang terluka, mendengar permintaan maaf dari pihak yang menyakiti bisa memberikan rasa lega. Pengakuan kesalahan dapat menjadi bagian dari proses memperbaiki hubungan. Namun, bagaimana jika permintaan maaf itu tidak pernah datang? Oberlin mengutip pandangan Zebian yang menyatakan bahwa seseorang tidak perlu terus menunggu permintaan maaf untuk bisa melanjutkan hidup. Meskipun permintaan maaf bisa membantu, proses pemulihan tidak seharusnya sepenuhnya bergantung pada pengakuan dari orang lain. Jika seseorang terus menunggu pengakuan dari pihak yang menyakitinya, perhatian dan energinya akan tetap terikat pada hubungan tersebut. Sebagai alternatif, individu dapat memberi diri mereka ruang untuk mengakui bahwa pengalaman tersebut memang menyakitkan. Rasa marah atau kecewa bisa dirasakan tanpa harus terus diarahkan kepada orang yang menjadi sumber luka. Dengan cara ini, perhatian dapat perlahan-lahan dialihkan pada kehidupan yang ingin dibangun tanpa ketergantungan pada orang tersebut.
2. Berhenti Menunggu Orang Lain Berubah
Salah satu alasan yang membuat seseorang sulit untuk melepaskan hubungan adalah harapan bahwa orang lain akan berubah. Seringkali, seseorang terjebak dalam kenangan janji-janji atau masa-masa baik, serta membayangkan bagaimana hubungan tersebut jika orang yang bersangkutan akhirnya menjadi seperti yang diharapkan. Namun, mempertahankan hubungan hanya berdasarkan harapan terhadap masa depan dapat membuat seseorang mengabaikan kenyataan yang ada. Oberlin merujuk pada penelitian yang menunjukkan bahwa harapan terhadap kepuasan hubungan di masa depan dapat memengaruhi komitmen untuk mempertahankan hubungan, meskipun tingkat kepuasan saat ini berbeda. Oleh karena itu, penting untuk melihat hubungan berdasarkan kenyataan yang ada, bukan hanya berdasarkan sosok yang diharapkan akan berubah suatu hari nanti. Jika seseorang telah menunjukkan bahwa mereka tidak ingin atau tidak mampu memenuhi kebutuhan tertentu dalam hubungan, perubahan tersebut tidak dapat dipaksakan hanya dari satu pihak. Menerima kenyataan ini bukan berarti membenarkan perilaku yang menyakitkan, melainkan menjadi bagian dari proses memahami bahwa tidak semua hubungan dapat berjalan sesuai harapan.
3. Berhenti Menunggu Orang Lain Memperbaiki Diri
Dalam situasi sulit, adalah hal yang wajar jika seseorang berharap ada orang lain yang datang untuk membantu memperbaiki keadaan. Hal ini dapat terjadi dalam konteks hubungan, pekerjaan, atau aspek kehidupan lainnya. Namun, terus menunggu intervensi dari luar untuk memperbaiki hidup justru dapat menghambat kemajuan seseorang. Oberlin mengutip Zebian yang menekankan pentingnya mengambil tanggung jawab atas proses pemulihan diri. Ini tidak berarti seseorang harus menghadapi semua masalah sendirian; dukungan dari orang lain tetap penting. Namun, keputusan untuk mulai merawat diri, menetapkan batasan, dan meninggalkan situasi yang tidak sehat harus datang dari diri sendiri. Proses ini tidak selalu mudah, karena melepaskan sesuatu yang sudah dikenal dapat menimbulkan ketidaknyamanan, meskipun seseorang menyadari bahwa situasi tersebut tidak lagi baik untuk mereka. Oleh karena itu, proses move on bukan hanya sekadar berhenti memikirkan seseorang, tetapi juga belajar mengenali kebutuhan diri, memahami batasan, dan memilih hubungan atau lingkungan yang lebih sehat.