Studi terbaru menunjukkan bahwa pengelolaan tiga faktor risiko di usia paruh baya dapat menambah masa hidup bebas demensia hingga 12 tahun. Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Neurology pada Agustus 2026 ini berjudul "Midlife Vascular Risk Burden and Dementia-Free Survival Years" dan melibatkan lebih dari 12.000 peserta selama 26 tahun. Para peneliti menekankan dampak dari tiga faktor risiko vaskular utama, yaitu diabetes, hipertensi, dan kebiasaan merokok.
Ahli saraf David Perlmutter, M.D., F.A.C.N., A.B.I.H.M., mengungkapkan bahwa temuan ini melengkapi laporan penting dari Lancet Commission tahun 2024 yang mengidentifikasi 14 faktor risiko demensia yang dapat dimodifikasi. "Diabetes, hipertensi, dan merokok hanyalah sebagian kecil dari gambaran yang jauh lebih luas. Pesan dari kedua laporan ini semakin sulit untuk diabaikan. Sebagian besar risiko demensia berkaitan dengan faktor-faktor yang sebenarnya dapat kita pengaruhi," tambahnya.
Dampak Penurunan Risiko bagi Fungsi Kognitif
Hasil penelitian menunjukkan bahwa semakin sedikit faktor risiko yang dimiliki seseorang di usia paruh baya, semakin lambat kepikunan akan muncul. Peserta yang tidak memiliki faktor risiko menikmati tambahan 12,6 tahun bebas demensia dibandingkan dengan mereka yang memiliki ketiga risiko tersebut. Sementara itu, satu faktor risiko menambah 8,8 tahun, dan dua faktor risiko menambah 3,5 tahun.
Riset ini memiliki dua aspek penting. Pertama, menyoroti efektivitas pencegahan dini. "Bagi saya, pesan pentingnya adalah bahwa kesehatan otak sangat terhubung dengan kesehatan metabolik dan vaskular, dan apa yang terjadi di usia paruh baya dapat memiliki konsekuensi yang mendalam beberapa dekade mendatang," kata dr. Perlmutter. Kedua, dampak dari faktor risiko ini bersifat kumulatif. Satu faktor risiko saja sudah mengkhawatirkan, dua lebih buruk, dan tiga jauh lebih buruk. "Orang dengan ketiganya memiliki risiko sekitar 2,7 kali lipat terkena demensia dibandingkan dengan mereka yang tidak memilikinya," jelasnya.
Pentingnya Langkah Pencegahan Sejak Dini
Walaupun tidak mungkin untuk sepenuhnya menghilangkan risiko kepikunan, individu tetap memiliki kontrol atas pencegahannya. "Ancaman terhadap kesehatan otak dimulai jauh sebelum masalah memori muncul. Ketahui tekanan darah kamu. Ketahui gula darah dan kesehatan metabolikmu. Jangan merokok," imbau dr. Perlmutter.
Ahli saraf Jeremy M. Liff, M.D., menambahkan bahwa langkah-langkah tersebut tidak hanya penting untuk kesehatan fungsi kognitif tetapi juga untuk kesehatan secara keseluruhan. "Merokok, diabetes, dan tekanan darah jelas merupakan faktor risiko yang akan menghentikanmu menjalani kehidupan yang lebih panjang dan secara umum lebih sehat," ujarnya. Ia juga memperingatkan agar tidak menunggu hingga usia pertengahan 70-an untuk mulai peduli, karena perubahan biologis yang mengarah pada hilangnya ingatan dapat berkembang 20 hingga 30 tahun sebelum diagnosis ditegakkan.
Dr. Perlmutter menyatakan bahwa menjaga kesehatan otak melampaui sekadar mengonsumsi suplemen atau makanan tertentu. Kesehatan otak mencerminkan kebiasaan yang dilakukan secara konsisten selama bertahun-tahun. Selain memantau tekanan darah dan menjauhi rokok, beberapa kebiasaan yang dianjurkan untuk mendukung kesehatan kognitif meliputi: rutin berolahraga, menjaga kualitas tidur, mempertahankan hubungan sosial, mengonsumsi makanan berserat, terus belajar hal baru, melindungi pendengaran, membatasi konsumsi alkohol, dan menghindari stimulan di malam hari.
Perlu dicatat bahwa penelitian ini bersifat observasional dan belum membuktikan hubungan sebab-akibat yang mutlak antara kebiasaan tersebut dan kondisi kognitif di masa depan, karena demensia dipengaruhi oleh berbagai faktor kompleks lainnya seperti genetika dan lingkungan.