Keluarga yang memiliki anak dengan attention deficit hyperactivity disorder (ADHD) seringkali menghadapi kesulitan saat menjalani rutinitas pagi, terutama ketika harus bersiap-siap untuk pergi ke sekolah dalam waktu yang terbatas. Orangtua sering kali perlu mengingatkan anak berulang kali untuk berpakaian, sarapan, menyikat gigi, dan menyiapkan tas sekolah. Namun, kondisi ini tidak selalu berarti bahwa anak sengaja mengabaikan instruksi atau tidak mau berkolaborasi. Psikiater anak dan remaja, Michael Morse, menjelaskan beberapa cara untuk membantu anak menjalani rutinitas pagi tanpa menambah ketegangan di rumah.
Persiapan Malam Sebelumnya
Morse menyarankan agar orangtua menyiapkan segala kebutuhan sekolah anak pada malam hari, saat suasana tidak terburu-buru. Orangtua dapat menandatangani surat izin, menentukan menu sarapan, serta membantu anak menyiapkan tas dan pakaian untuk keesokan harinya. “Pagi yang paling lancar biasanya dimulai sejak malam sebelumnya, ketika masih ada waktu untuk berpikir dan tidak ada yang sedang terburu-buru mengejar bus,” ungkap Morse. Selain itu, penting bagi orangtua untuk mengajak anak berdiskusi mengenai kegiatan yang akan dilakukan keesokan harinya, seperti pelajaran olahraga atau ujian. Tidur yang cukup juga menjadi faktor penting, karena “otak yang lelah membuat setiap gejala ADHD menjadi lebih buruk,” kata Morse. Ia merekomendasikan agar keluarga menerapkan waktu tidur yang konsisten dan mematikan layar sekitar satu jam sebelum tidur agar anak lebih mudah beristirahat.
Membuat Daftar Kegiatan dan Mengatur Waktu
Anak dengan ADHD seringkali mengalami kesulitan dalam mengikuti beberapa instruksi sekaligus. Oleh karena itu, Morse menyarankan agar orangtua membuat daftar kegiatan pagi yang mencakup semua langkah yang perlu dilakukan, mulai dari berpakaian, sarapan, hingga mengambil tas sekolah. Daftar tersebut bisa dilengkapi dengan gambar untuk anak yang lebih kecil atau dalam bentuk daftar centang untuk anak yang lebih besar. “‘Ayo bersiap-siap’ sebenarnya adalah enam instruksi dalam tiga kata,” jelas Morse. Jika anak lupa langkah selanjutnya, orangtua dapat mengarahkan kembali anak ke daftar tersebut. Selain itu, penggunaan pengatur waktu visual dapat membantu anak memperkirakan waktu yang tersisa sebelum berangkat sekolah, mengingat sebagian anak dengan ADHD mengalami kesulitan dalam memperkirakan waktu. “Pengatur waktu sederhana yang hanya melakukan satu hal lebih baik daripada ponsel,” tambah Morse, karena ponsel dapat mengalihkan perhatian anak dengan permainan atau pesan yang masuk.
Mengurangi Pilihan dan Menghindari Hukuman
Morse juga merekomendasikan agar orangtua memilihkan pakaian pada malam hari atau memberikan beberapa pilihan agar anak tidak bingung saat bersiap di pagi hari. Selain itu, orangtua dapat membatasi pilihan sarapan menjadi dua menu dan menyiapkan tempat khusus untuk tas, sepatu, dan jaket agar lebih mudah ditemukan. “Semakin sedikit keputusan, semakin sedikit pula pertengkaran,” jelasnya. Bagi anak yang mengonsumsi obat ADHD, orangtua disarankan untuk berkonsultasi dengan dokter mengenai waktu minum obat, karena efeknya tidak selalu langsung terasa. Orangtua juga tidak boleh mengubah jadwal atau dosis obat tanpa petunjuk dokter. Ketika rutinitas pagi tidak berjalan sesuai rencana, Morse mengingatkan agar orangtua tidak terburu-buru menghukum anak. “Hukuman tidak bisa mengajarkan keterampilan yang belum dimiliki anak, tetapi dukungan bisa,” tegasnya. Ia menyarankan agar orangtua membahas masalah tersebut setelah suasana tenang dan mencari cara agar rutinitas pagi berikutnya dapat berjalan lebih baik. Tujuannya bukan hanya untuk membuat setiap pagi sempurna, tetapi untuk membantu anak menjalani rutinitas dengan dukungan yang sesuai dengan kebutuhannya.