Kesehatan

Sebagian Besar Anak Mengandalkan AI, Banyak yang Lebih Memilih Chatbot daripada Orang Dewasa

Survei terbaru menunjukkan bahwa hampir 90% anak dan remaja menggunakan kecerdasan buatan (AI) untuk berbagai keperluan, termasuk mencari jawaban untuk tugas sekolah dan masalah pribadi.

M
Maria Gabriella
28 June 2026 39 pembaca
Sebagian Besar Anak Mengandalkan AI, Banyak yang Lebih Memilih Chatbot daripada Orang Dewasa
Sumber gambar: lifestyle.kompas.com

Kecerdasan buatan (AI) kini telah melampaui fungsi awalnya yang hanya terbatas pada pembuatan gambar atau membantu tugas sekolah. Sebuah survei terbaru mengungkapkan bahwa banyak anak dan remaja memanfaatkan AI untuk mencari solusi atas berbagai masalah, termasuk pekerjaan rumah, kesehatan, dan isu pribadi. Laporan yang dirilis oleh organisasi nirlaba Common Sense Media menunjukkan bahwa hampir 90% anak berusia 9 hingga 17 tahun telah berinteraksi dengan AI, dan sebagian besar dari mereka lebih memilih bertanya kepada chatbot dibandingkan meminta bantuan dari orang dewasa seperti orangtua, guru, atau konselor.

Penggunaan AI dalam Kehidupan Sehari-hari

Survei yang melibatkan 1.204 anak di Amerika Serikat ini menemukan bahwa penggunaan AI telah menjadi bagian integral dari kehidupan sehari-hari generasi muda. Sekitar 25% responden mengaku menggunakan AI setiap hari untuk berbagai keperluan, mulai dari hiburan hingga membantu pekerjaan sekolah, serta aktivitas kreatif seperti menciptakan gambar dan video. Menariknya, banyak anak juga mencari informasi tentang kesehatan dan meminta saran terkait tujuan serta keputusan masa depan mereka melalui AI. Hampir seperempat responden mengaku lebih memilih bertanya kepada AI mengenai tugas sekolah sebelum mencari bantuan dari guru atau orangtua. Salah satu responden bahkan menyatakan bahwa AI dapat digunakan untuk menyelesaikan seluruh tugas sekolah. "Anda bisa memanfaatkan AI untuk mengerjakan semua tugas sekolah dan menggunakan beberapa AI sekaligus agar hasilnya terlihat dibuat sendiri," ungkapnya.

AI sebagai Sumber Dukungan Emosional

Selain berfungsi sebagai alat bantu belajar, AI juga mulai berperan sebagai tempat untuk mencari dukungan emosional. Menurut laporan tersebut, sekitar 10% anak merasa bahwa AI terkadang lebih memahami mereka dibandingkan orang lain. Angka ini meningkat menjadi 19% di kalangan pengguna AI harian. Peneliti menemukan bahwa anak-anak yang merasa kesepian cenderung lebih sering menggunakan AI untuk mendapatkan dukungan sosial dan emosional. Mereka yang mengalami kesulitan dalam bersosialisasi juga lebih sering memanfaatkan chatbot untuk melatih keterampilan sosial atau membicarakan perasaan dan masalah pribadi. Laporan tersebut menyebutkan bahwa AI kini digunakan oleh remaja untuk "berkreasi, belajar, tertawa, dan berinteraksi". Namun, para peneliti juga memperingatkan adanya sisi negatif yang perlu diperhatikan.

Kekhawatiran Terhadap Ketergantungan AI

Survei ini juga menemukan bahwa sekitar 20% anak yang menggunakan AI merasa akan kesulitan jika harus berhenti menggunakannya selama sebulan. Di antara pengguna harian, angka ini meningkat menjadi 42%. Peneliti menilai bahwa hubungan yang semakin dekat antara anak dan AI perlu mendapat perhatian, terutama karena penggunaan yang lebih intens juga ditemukan pada anak-anak yang merasa kurang bahagia atau lebih kesepian. Laporan tersebut menunjukkan bahwa remaja yang kesepian cenderung mencari dukungan melalui AI, tetapi ketergantungan yang berlebihan dapat mengurangi kesempatan mereka untuk mengembangkan kemampuan menghadapi masalah dengan cara yang sehat. "Penggunaan yang lebih berat terhadap alat ini berkaitan dengan rasa kesepian dan tingkat kebahagiaan yang lebih rendah pada anak muda," tulis laporan tersebut.

Pentingnya Diskusi tentang Keamanan AI

Hampir setengah dari responden mengaku belum pernah berdiskusi mengenai keamanan AI dengan orangtua atau guru. Hanya sekitar sepertiga anak yang menyadari bahwa AI tidak selalu dapat membedakan informasi yang benar dan salah dengan akurat. Peneliti juga menemukan bahwa ketika chatbot menampilkan konten yang tidak pantas kepada sekitar satu dari enam pengguna AI, sebagian besar anak tidak melaporkannya kepada orang dewasa yang mereka percayai. Oleh karena itu, penting untuk memperluas diskusi mengenai keamanan dan penggunaan AI yang sehat di lingkungan sekolah dan keluarga. Percakapan tentang keamanan AI masih jarang terjadi di banyak ruang kelas dan meja makan keluarga.

Artikel Terkait