KOMPAS.com - Presiden Prabowo Subianto mengambil langkah tegas mengenai potongan komisi yang selama ini dikeluhkan oleh pengemudi ojek online (ojol). Dalam pidatonya pada peringatan Hari Buruh (May Day) 2026 di Monas, Jakarta, Prabowo menolak skema potongan 20 persen yang diterapkan oleh perusahaan aplikator.
Dalam pidatonya, Prabowo mempertanyakan kepada para buruh, "Gimana ojol, setuju 20 persen?" yang langsung dijawab dengan teriakan "tidak" oleh massa buruh. Ia kemudian bertanya, "Bagaimana 15 persen?" dan kembali mendapat penolakan. Prabowo kemudian mengajukan pertanyaan, "Berapa? 10 persen? Kalian minta 10 persen? Iya?" dan menyatakan bahwa potongan harus di bawah 10 persen. "Saya katakan di sini, saya tidak setuju 10 persen," tegasnya, disambut sorakan gembira dari para buruh.
Prabowo menjelaskan bahwa tidak adil jika para ojol yang bekerja keras harus memberikan porsi keuntungan yang besar kepada pemilik aplikasi. Ia menekankan, "Enak saja, lu yang keringat, dia yang dapat duit, sorry aje." Selain itu, Prabowo juga memperingatkan perusahaan teknologi yang tidak mengikuti kebijakan pemerintah, "Kalau enggak mau ikut kita, enggak usah berusaha di Indonesia."
Masalah potongan tarif ojol ini merupakan salah satu dari 11 tuntutan yang diajukan oleh Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) kepada Presiden, di mana salah satu poinnya adalah penurunan potongan tarif ojek online menjadi 10 persen.