Kesehatan

Pola Asuh yang Sering Disalahpahami, Penting untuk Perkembangan Anak

Dalam menghadapi tantangan menjadi orangtua di era modern, banyak yang khawatir tentang pola asuh yang dapat membuat anak menjadi manja. Namun, sejumlah pola asuh yang dianggap negatif ternyata memili...

A
Angelica Putri Wijaya
04 October 2026 59 pembaca
Ilustrasi orangtua mengasuh anak usia dini.(Dok. Magnific/jcomp)
Ilustrasi orangtua mengasuh anak usia dini.(Dok. Magnific/jcomp)

KOMPAS.com - Menjadi orangtua di zaman sekarang sering kali membawa berbagai dilema, terutama dalam hal pola asuh dan penerapan aturan. Banyak orangtua merasa cemas bahwa memberikan dukungan emosional yang berlebihan atau kelonggaran akan membuat anak menjadi manja dan keras kepala. Di tengah perdebatan yang ramai dan tuntutan sosial, membedakan antara pengasuhan yang suportif dan tindakan yang merusak karakter anak sering kali menjadi hal yang membingungkan.

Psikolog berlisensi dan instruktur klinis di divisi pediatri serta psikologi perilaku perkembangan di Case Western Reserve University, AS, Dr. Sarah Cain Spannagel, PhD, memahami tekanan ini. Ia menjelaskan, "Orangtua ingin 'melakukan yang terbaik,' dan mereka memiliki niat yang sangat baik. Namun, sebagian besar hal yang ditakuti orangtua akan 'memanjakan' anak-anak mereka, sebenarnya adalah bentuk pemenuhan kebutuhan perkembangan inti."

Pola Asuh yang Sering Disalahartikan

Menurut Spannagel, anak yang benar-benar manja biasanya berasal dari kurangnya batasan yang jelas, orangtua yang selalu menyelamatkan anak dari ketidaknyamanan, serta penegakan aturan yang tidak konsisten. Selain itu, ada banyak kebiasaan yang dianggap buruk, tetapi sebenarnya sangat dibutuhkan oleh anak.

1. Merespons Tangisan dan Memvalidasi Emosi

Sering kali, orangtua mendengar larangan untuk segera menggendong bayi yang menangis agar mereka tidak terbiasa bermanja. Namun, merespons tangisan bayi tidak akan merusak karakter mereka, melainkan justru mengukuhkan rasa aman. "Orang-orang berasumsi bahwa bayi 'memanipulasi' atau 'belajar mengendalikan' orangtua. Padahal kenyataannya, bayi sedang membangun kepercayaan dasar, regulasi emosi, dan keamanan kelekatan dengan pengasuh yang responsif," ungkap Spannagel.

Hal ini juga berlaku ketika menghadapi balita yang sedang tantrum. Menenangkan anak yang menangis bukan berarti menyerah pada batasan yang sudah ditetapkan. "Orangtua sering kali menyalahartikan dukungan emosional sebagai bentuk memperkuat 'perilaku buruk'. Padahal, yang sebenarnya terjadi adalah anak-anak tidak dapat mengatur emosi yang intens secara mandiri dan sangat bergantung serta membutuhkan regulasi bersama," tambahnya.

2. Memberikan Bantuan Saat Anak Merasa Kewalahan

Ketika anak mulai melakukan tugas harian secara mandiri, beberapa orangtua enggan memberikan bantuan karena takut anak menjadi malas. Namun, ada kalanya anak merasa lelah atau kewalahan di pagi yang sibuk, sehingga mereka tetap membutuhkan sedikit bantuan agar rutinitas berjalan lancar. "Mengetahui cara melakukan tugas dan mampu mengelolanya saat kamu lelah, khawatir, atau kewalahan, tidak selalu sama," jelas psikolog, pakar pengasuhan, dan pendiri Couples to Cradles Counseling, Caitlin Slavens.

3. Membebaskan Anak Memilih untuk Melatih Kemandirian

Memberikan anak kesempatan untuk memilih pakaian mereka sendiri atau berdiskusi tentang aturan sering dipandang sebagai tanda hilangnya otoritas orangtua. Namun, memberikan ruang negosiasi sangat baik untuk melatih kemampuan mereka dalam mengambil keputusan. "Kemandirian adalah kebutuhan perkembangan inti. Bahkan pada remaja, beberapa negosiasi membangun fungsi eksekutif, tanggung jawab, dan rasa hormat, serta dapat memberi mereka waktu yang aman untuk membantu mereka mencoba keterampilan mereka," kata Spannagel.

4. Berani Meminta Maaf untuk Menunjukkan Komunikasi Sehat

Ada kekhawatiran bahwa meminta maaf atas kesalahan yang dilakukan akan membuat anak merasa berhak memenangkan argumen. Namun, permintaan maaf tidak menghapus teguran yang ada, melainkan memberikan contoh komunikasi yang sehat.

5. Menghadirkan Kedekatan Lewat Rutinitas Sebelum Tidur

Kekeliruan sering terjadi dalam melihat rutinitas sebelum tidur. Memanjakan anak dengan kehadiran fisik orangtua atau memberikan boneka kesayangan di malam hari tidak akan merampas kemampuan mereka untuk tertidur sendiri. Tidur adalah proses perpisahan sementara bagi anak, sehingga kedekatan akan meredakan kecemasan alami mereka. "Menenangkan diri sendiri bukanlah keterampilan yang dipelajari melalui kesusahan, melainkan muncul secara neurologis seiring waktu dengan rutinitas yang baik, regulasi bersama, dan sering kali benda-benda kenyamanan yang luar biasa," papar Spannagel.

6. Membiarkan Anak Berhenti dari Kegiatan yang Tidak Sesuai

Membiarkan anak keluar dari suatu kegiatan atau les yang tidak disukai sering memicu perdebatan batin. Kekhawatiran bahwa mereka akan tumbuh menjadi pribadi yang mudah menyerah bisa muncul. Namun, para pakar menilai bahwa keputusan untuk berhenti bukanlah sebuah kelemahan, terutama jika kegiatan tersebut sudah menyita waktu tidur atau mengganggu sekolah. "Ketika aktivitas tersebut tidak sesuai dengan perkembangannya, menyebabkan kesusahan, atau tidak sejalan dengan minat anak, maka tidak apa-apa untuk berhenti," pungkas Spannagel.

Dengan memahami pola asuh yang benar, orangtua dapat membantu anak tumbuh menjadi pribadi yang mandiri dan sehat secara emosional.

Artikel Terkait