JAKARTA - Masyarakat urban kini semakin tertarik mencoba terapi alternatif untuk menjaga kesehatan mental dan fisik di tengah kesibukan yang padat. Salah satu metode penyembuhan holistik yang populer adalah reiki, sebuah teknik penyembuhan energi yang berasal dari Jepang. Fokus utama reiki adalah menyeimbangkan aliran energi dalam tubuh, bukan pada pijatan fisik. Bagi yang ingin mencoba reiki untuk pertama kalinya, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan sebelum sesi dimulai.
Keterbukaan Diri sebagai Kunci Utama
Berbeda dengan pengobatan konvensional yang sering memerlukan persiapan khusus, reiki memiliki pendekatan yang lebih sederhana. Instruktur yoga dan praktisi reiki, Garini Sabila, menjelaskan bahwa tidak ada persiapan fisik yang khusus bagi calon pasien. Yang terpenting adalah kesiapan mental dan pikiran individu. “Sebenarnya enggak perlu menyiapkan apa-apa sih, hanya disarankan agar open to receive atau terbuka untuk menerima keseimbangan energi,” ungkap Garini saat ditemui di acara Asa Flow Wellness Day di Tamananda Lifestyle Park, Jakarta Selatan.
Keterbukaan pikiran sangat berpengaruh terhadap efektivitas terapi. Garini menambahkan bahwa pasien yang datang dengan sikap tertutup cenderung tidak merasakan manfaat terapi secara maksimal. “Kadang-kadang ada yang ketika selesai sesi, enggak begitu mempengaruhi kondisinya karena dia pola pikirnya tidak menerima itu,” jelasnya. Sikap resisten ini dapat menghalangi sirkulasi energi alami, sehingga pasien mungkin merasa tidak ada perubahan setelah sesi.
Mengatasi Blokade Emosi dan Patah Hati
Selain menyiapkan niat yang tulus, calon pasien juga perlu menyadari bahwa reiki bukan hanya untuk mengatasi kelelahan fisik. Terapi ini dapat menjangkau luka batin yang dalam. Banyak pasien yang datang dengan beban emosional yang mengganggu kemajuan psikologis mereka, seperti rasa sakit hati. Garini menjelaskan bahwa energi reiki bekerja dengan lembut namun dapat memberikan dampak signifikan pada pusat emosi seseorang. “Reiki itu membantu juga untuk kamu yang sakit hati, karena susah untuk memaafkan atau susah self-compassion. Teknik ini akan mengalirkan energi kembali ke hati, sehingga merasa penuh kembali,” jelasnya.
Proses penerimaan yang ikhlas menjadi bekal penting sebelum sesi pengobatan dimulai, agar energi positif dapat mengurai sumbatan emosi yang ada.
Ketika seseorang mulai merasakan pemulihan dari trauma masa lalu, kemandirian emosional akan terbentuk. Ketergantungan pada kebahagiaan dari luar akan berkurang seiring dengan stabilnya sistem cakra. “Hatinya sudah enggak butuh diisi dari luar tapi kita bisa ngisi diri sendiri. Tapi kadang ketika kita ada di low energy, misalnya rasa sedih, rasa marah, rasa takut, susah kan untuk kita naik lagi ke atas,” papar Garini. Di saat terjebak dalam getaran energi rendah, reiki dapat berfungsi sebagai dorongan eksternal yang membantu meningkatkan frekuensi dan semangat hidup seseorang.