Kesehatan

Perjuangan Prof. Melani Budianta Mendampingi Suami yang Terdiagnosis Demensia

Prof. Melani Budianta, seorang dosen dan pegiat budaya, menghadapi tantangan berat ketika suaminya, Eka Budianta, didiagnosis demensia dengan afasia progresif. Kisah mereka menggambarkan adaptasi dan...

A
Angelica Putri Wijaya
03 October 2026 64 pembaca
Pegiat budaya yang juga seorang dosen, Prof. Melani Budianta, Ph.D (kanan), bersama suaminya yang merupakan seorang jurnalis dan penyair, Eka Budianta. Adapun Eka adalah Orang Dengan Demensia (ODD).(Kompas.com / Nabilla Ramadhian)
Pegiat budaya yang juga seorang dosen, Prof. Melani Budianta, Ph.D (kanan), bersama suaminya yang merupakan seorang jurnalis dan penyair, Eka Budianta. Adapun Eka adalah Orang Dengan Demensia (ODD).(Kompas.com / Nabilla Ramadhian)

JAKARTA - Menua bersama pasangan sering kali dianggap sebagai masa yang damai dan tanpa banyak masalah. Namun, kenyataan yang dihadapi oleh Prof. Melani Budianta, Ph.D., jauh berbeda. Pada awal tahun 2024, suaminya, Eka Budianta, seorang jurnalis dan penyair, didiagnosis mengalami demensia dengan afasia progresif, yang mengakibatkan penurunan kemampuan berbahasa. Diagnosis ini muncul secara tiba-tiba tanpa gejala fisik yang jelas, padahal Eka sebelumnya aktif dalam menulis dan berinteraksi.

Kesibukan mereka membuat keduanya tidak pernah membayangkan akan menghadapi masalah terkait penurunan memori atau fungsi kognitif dalam waktu dekat. "Kami berdua sangat sibuk. Jadi tidak sempat memikirkan yang lain ya bahwa kami akan mengalami demensia kan tidak sempat, tidak ada waktu. Setiap hari selalu ada tugas," ungkap Melani di Unika Atma Jaya Jakarta pada Rabu (30/9/2026).

Proses Adaptasi dan Dukungan Sosial

Menerima kondisi ini tanpa menyembunyikannya menjadi langkah awal yang penting. Kecurigaan mengenai perubahan perilaku Eka muncul dari orang-orang di sekitar mereka. Suster di klinik tempat mereka rutin berobat menyadari bahwa Eka menjadi lebih pendiam. Setelah menjalani serangkaian tes di klinik memori dan pemeriksaan Magnetic Resonance Imaging (MRI) bersama putrinya, Wakil Rektor UKRIDA dr. Theresia Citraningtyas, MWH, Ph.D., Sp.K.J, akhirnya terkonfirmasi bahwa Eka mengalami penyusutan otak di area yang berhubungan dengan bahasa.

Melani sempat merasakan kebimbangan mengenai langkah selanjutnya, terutama dalam hal interaksi sosial suaminya. Dengan banyaknya teman dan keterlibatan Eka dalam komunitas penulis, diagnosis ini menimbulkan kekhawatiran tersendiri. "Mula-mula saya berpikir apakah saya akan memberi tahu orang bahwa dia kena demensia. Kalau saya beritahu jangan-jangan dia tidak dilibatkan lagi dalam kegiatan," ungkap Melani. Namun, ia akhirnya memilih untuk terbuka kepada lingkaran pergaulannya, dan keputusan ini ternyata membawa dampak positif karena teman-teman mereka memberikan dukungan untuk menjaga agar Eka tetap aktif.

Menjaga Kesehatan Fisik dan Kognisi

Setelah fase penerimaan, tantangan berikutnya adalah menjaga kebugaran fisik dan kognisi agar kemampuan Eka tidak menurun drastis. Mereka menciptakan rutinitas baru yang terstruktur dengan melibatkan aktivitas fisik, pola makan sehat, dan interaksi yang intens sejak pagi. "Kita buat ritual-ritual baru, kegiatan baru. Misalnya pagi kita makan bersama, saya membuatkan makanan sehat yaitu kefir dengan buah," jelas Melani.

Perubahan pola makan diterapkan dengan ketat, menghindari gorengan dan memperbanyak sayuran kukus seperti labu dan wortel, serta rutin mengonsumsi telur rebus. Eka juga memiliki tugas khusus di dapur, yaitu memasak variasi karbohidrat kompleks seperti beras hitam atau beras jagung. Selain itu, mereka juga menjadwalkan olahraga selama satu setengah jam setiap hari, yang mencakup pemanasan, latihan beban, senam keseimbangan, serta senam wajah dan lidah. Melani juga melibatkan dua ekor anjing peliharaan mereka dalam interaksi harian di rumah. "Relasi dengan hewan peliharaan itu ternyata sangat bermakna. Jadi dia masih punya keaktifan untuk memeliharanya dan ada afeksi," papar Melani.

Dalam aspek kognitif, kelancaran berbahasa Eka terus diasah. "Ketika koran datang, dia membaca keras, saya mendengarkan, lalu kita bicara. Jadi kita upayakan selalu ada interaksi yang berdua dan bisa dilaksanakan," tutur Melani.

Menemukan Kebahagiaan dalam Kenangan

Meskipun mendampingi orang dengan demensia memerlukan penyesuaian besar, terutama saat Melani harus pergi dinas, banyak momen kecil yang dapat dirayakan. Ia menemukan bahwa mengajak suaminya berjalan-jalan ke tempat-tempat yang memiliki kenangan dapat memberikan dampak emosional yang positif. "Ternyata salah satu kegiatan yang sangat baik untuk lansia adalah menyusuri jejak masa lalu. Itu sangat-sangat berharga," sebut Melani.

Saat mengunjungi kota kelahirannya, ingatan Eka tentang lingkungan masa kecilnya kembali muncul. Ia dapat mengenali jalanan yang telah berubah, lokasi sekolah, hingga teman-teman masa kecilnya. Perjalanan menyusuri memori ini secara efektif menghidupkan kembali percakapan panjang di antara mereka. Melani melihat fase kehidupan ini bukan sebagai halangan, melainkan kesempatan untuk saling mengisi peran dengan ritme yang lebih lambat. Keterbatasan akibat demensia justru menciptakan ruang tenang untuk menikmati kebersamaan yang sebelumnya sulit didapatkan karena kesibukan masing-masing. "Saya mendengarkan dia membaca kembali puisi-puisinya atau cerpen orang lain. Kami ternyata bisa melakukan itu bersama dan kami menikmati momen-momen itu," imbuh Melani.

Artikel Terkait